Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Kembali Membeku


__ADS_3

Garda memenuhi perkataannya untuk pulang. Saat sampai di halaman rumahnya Garda disambut dengan suasana gelap. Lampu di halaman dan teras rumah belum menyala. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Suasana di dalam rumah pun sama. Belum ada satu pun lampu yang menyala. Pria itu segera menghidupkan lampu. Mengawasi sekitar siapa tahu menemukan kejanggalan.


"Kemana Nadin?" tanyanya bingung. Kalaupun istrinya pergi wanita itu pasti akan mengunci pintu.


Tangan kekar Garda membuka pintu kamar dengan pelan. Tangan kanannya langsung meraba dinding untuk mencari saklar lampu. Begitu lampu menyala mata tajamnya membulat melihat keadaan kamar.


Serpihan kaca berserakan di lantai. Tentu saja benda kaca itu dilempar dengan sengaja. Pria itu menatap ke arah ranjang di mana Nadin sedang meringkuk.


Badannya sedikit menunduk untuk mengambil bungkusan plastik yang tergeletak. Keningnya mengernyit memikirkan isi dari plastik ini. Setelah sedikit berpikir Garda jadi ingat. Plastik ini adalah barang yang sama dengan yang dia temukan di tas Nadin waktu itu.


Garda berjalan mendekati Nadin. Mengabaikan kekacauan ini untuk sesaat. Pria itu menunduk menatap Nadin lebih dekat. Menyingkirkan rambut panjang Nadin yang menutupi wajahnya.


"Nad," panggil Garda pelan.


Saat tangan kanannya tidak sengaja menyentuh kening Nadin. Garda dapat merasa suhu tubuh istrinya yang tidak normal. Di usapnya kepala Nadin dengan lembut.


"Nadin," panggil Garda.


"Nadin!" kali ini Garda sedikit mengguncang tubuh Nadin.


Wajah datarnya seketika berubah panik. Nadin tidka juga merespon apapun. Bahkan tidak ada reaksi dari wanita itu.


Dirubahnya posisi tidur Nadin menjadi terlentang. Garda langsung duduk di ranjang dengan badan menghadap pada Nadin. "Nadin," panggilnya lagi.


Wajah pucat Nadin perlahan bereaksi. Mata yang biasanya akan menyipit ketika tersenyum itu mengerjab. Perlahan wanita itu membuka matanya dengan rintihan kecil.


"Mas Dana," gumam Nadin ketika pengelihatannya dapat menangkap kehadiran Garda.


"Perutnya masih sakit?" tanya Garda. Ada rasa khawatir yang pria itu simpan. Bagaimana Garda bisa lupa kalau keadaan Nadin tidak baik saat pria itu tinggalkan.


"Kok Mas udah pulang? Aku belum sempat masakin, Mas," ujar Nadin. Wanita itu masih mengira bahwa hari ini masih sore.


"Sudah jam sepuluh malam," terang Garda.


Tentu saja Nadin terkejut. Seingatnya dia tidur sekitar pukul 9 pagi. Lalu kata Garda sekarang sudah jam 10 malam.


"Astaga! Aku tidurnya kelamaan, Mas," ujar Nadin panik. "Aduh, maafin aku ya, Mas. Aku jadi belum masak," ucapnya penuh sesal.


Wanita itu perlahan mendudukkan tubuahnya. Kepalanya seketika seperti tertusuk. Namun, sebisa mungkin Nadin terlihat baik-baik saja.


"Sudah di sini saja. Kamu ini sedang sakit," cegah Garda saat Nadin mulai turun dari ranjang.


"Aku masakin Mas dulu. Mas pasti belum makan, kan?"

__ADS_1


"Saya sudah makan!" tutur Garda.


Pria itu menarik Nadin agar kembali duduk di ranjang. "Kamu 'kan yang belum makan," ujar Garda.


Nadin mengangguk lemas. "Aku tadi ketiduran dari pagi," ujar Nadin.


"Tidur dulu, biar saya belikan makan," ucap Garda.


Pria itu langsung berdiri begitu saja. Melangkahkan kakinya meninggalkan Nadin. Sementara Nadin menatap punggung itu dengan wajah sendu. Tidak menutup kemungkinan ada yang hilang dari Garda.


Suaminya terlihat kembali membeku. Nadin tidak bisa merasakan hangatnya perlakuan Garda. "Kamu udah buat suami kamu kecewa, Nad. Harusnya kamu bersyukur dia mau pulang lagi temui kamu," ujar Nadin dengan suara pelan.


Sambil menunggu Garda kembali. Nadin memilih membersihkan serpihan kaca yang berserak. Dengan tangan gemetar Nadin menggerakkan sapu untuk mengumpulkan benda itu.


"Aku harus jaga mulut aku. Jangan sampai aku bantah Mas Dana lagi. Aku gak boleh ngomong aneh-aneh," gumam Nadin pada dirinya sendiri.


Setelah selesai dengan urusannya. Nadin menyempatkan diri untuk mandi. Meski badannya terasa kurang sehat dia tidak akan melewatkan mandi untuk kali ini. Nadin tahu Garda sangat tidak suka jika dia malas mandi.


"Cepat makan!" suruh Garda begitu Nadin membuka pintu kamar mandi. Wajah Nadin terlihat lebih segar sekarang.


Sebuah nampan berisi makanan sudah tertata di atas nakas. Senyum Nadin merekah seketika. Ada rasa lega mendapat perhatian dari Garda.


Wanita itu segera duduk di ranjang. Disusul dengan Garda yang duduk di sampingnya. Saat mulutnya menerima suapan pertama Nadin langsung membekap mulut itu. Dengan paksaannya nasi yang dia suapkan berhasil di telan. Meski wajah merah Nadin sangat kentara. Wanita itu berusaha menahan rasa mual.


"Biar saya saja," ujar Garda dengan datar. Pria itu merebut piring berisi nasi yang sudah Nadin beri sayur sop. "Kalau sudah tidak kuat bilang. Jangan dimuntahkan," ucap Garda.


"Maaf," cicit Nadin.


"Saya gak mau bicara sekarang," tutur Garda tegas.


Nadin mengangguk pelan. Mulutnya masih menerima suapan dari Garda dengan baik. Sama dengan air matanya yang masih terus mengalir dengan baik pula. Tangan kurusnya tak henti menyeka air mata itu.


"Udah, Mas," ucap Nadin.


Garda langsung meletakkan piring yang masih menyisakan banyak nasi di atas Nakas. "Minum obatnya," titah Garda.


Nadin menurut saja. Wanita itu mengambil dua butir obat yang sudah disiapkan Garda. Meminum obat itu dengan bantuan air putih.


"Terimakasih, ya, Mas," ucap Nadin tulus.


Garda mengangguk singkat. Pria itu latas berdiri lalu mengambil nampan dari atas nakas. Bergegas mengembalikan nampan dengan piring kotor itu ke dapur.


Lagi-lagi Nadin dibuat terdiam. Air matanya kembali menetes untuk kesekian kalinya. Nadin tidak suka dengan perubahan sikap Garda.


"Tidur!" titah Garda setelah kembali memasuki kamar.

__ADS_1


Pria itu berjalan dengan tegap mendekati Nadin. Menatap mata Nadin sangat dalam. "Saya tidak mau bicara sama kamu sebelum kamu sembuh!" tegas Garda.


"Kalau aku udah sembuh Mas beneran mau bicara?" tanya Nadin memastikan.


Anggukan dari Garda cukup membuat Nadin semangat. "Aku tiidur dulu, ya, kalau gitu," ujarnya dengan wajah berbinar.


"Iya," jawab Garda singkat.


"Semoga besok aku udah sembuh," gumam Nadin sebelum memejamkan matanya.


Untuk beberapa saat Garda menatap wajah Nadin. Pria itu menarik selimut Nadin sampai bahu wanita itu. Setelahnya Garda berbalik lalu meninggalkan kamar mereka.


Garda memilih duduk menyendiri di dapur. Ditemani secangkir coklat hangat yang baru saja di seduh. Suara ponselnya membuat Garda berdecak kesak. Apalagi setelah mendapati nama yang terletak di layar ponsel.


"Apa?" tanya Garda langsung.


"Kamu udah di rumah, ya, Gar?" tanya seorang wanita yang menghubungi Garda.


"Iya," jawab Garda singkat.


"Aku tadi cariin di ruangan kamu," ujarnya.


"Ada apa?" tanya Garda dengan alis mengernyit.


"Ban motor aku bocor, Gar," jawab wanita itu dengan suara memelas.


"Minta tolong satpam," ucap Garda singkat. "Atau minta antar dulu."


Untuk beberapa saat wanita itu terdiam. "Aku gak enak bilangnya. Kamu 'kan tahu aku baru di sini."


Garda berdecak sebal. "Nanti aku yang bilang. Kamu sekarang di mana?"


"Aku masih di ruangan kamu," jawab wanita itu.


Mendengar jawaban itu membuat Gatda kembali berdecak tidak suka. "Udah aku bilang jangan sering-sering masuk ke ruangan aku. Nanti orang lain bisa mikir yang enggak-enggak," omel Garda.


"Iya maaf," balasnya pelan.


"Yaudah nanti aku minta tolong orang buat anter kamu," ujar Garda. Setelahnya pria itu mematikan panggilan.


Garda mengacak rambutnya dengan kasar. Pria itu benar-benar merasa kacau sekarang. "Kenapa kamu baru datang sekarang?" tanya Garda lirih.


Pria itu menatap hampa kegelapan di depan matanya. Dia sedikit merenungi permasalahannya dengan Nadin. Sebenarnya permasalahan ini tidak perlu terlalu diperpanjang lagi.


Mereka berdua cukup berkomunikasi dengan baik. Saling menyampaikan apa yang selama ini mereka rasakan. Bertukar pikiran memang satu-satunya solusi agar segera mendapat titik terang.

__ADS_1


"Nadin memang punya kenangan buruk dari ornag tuanya. Dia pasti takut mencerminkan apa yang dia dapat dulu," gumam Garda.


"Tapi kenapa jalan pikiran dia bisa sekecil ini?" tanyanya tidak habis pikir. "Kenapa harus lakuin hal itu tanpa sepengetahuan saya." Rasa kecewa Garda memang sangat besar. Tapi rumah tangannya tidak akan kembali baik jika Garda memilih egois.


__ADS_2