Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Aku Harus Patuh


__ADS_3

"Jangan dibawa ke sini. Aku mau istirahat."


Anita mematung di depan pintu kamar Sela. Wajah bingungnya memandang anak perempuan kesayangannya itu. Sela baru saja duduk di atas ranjang dengan bantuan Nadin.


"Terus mau dibawa ke mana, Dek? Gama seharusnya sama kamu," ujar Anita.


Sela menepis tangan Nadin yang masih merangkul pundaknya dengan kasar. Mata tajamnya menatap Anita malas. "Terserah Mama. Aku udah gak mau terlibat sama dia."


Anita menghela napas pelan. Wanita paruh baya itu memilih berbalik meninggalkan kamar anak perempuannya. Menurut Anita ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat.


"Ngapain kamu masih di sini!?" sentak Sela pada Nadin yang masih berdiri di sampingnya.


"Ih galak banget," ledek Nadin sebelum berlari kecil ke luar dari kamar itu.


"Dasar bocah!" teriak Sela geram.


Anita berjalan lesu ke luar dari kamar Sela. Di belakangnya ada Nadin yang berlari kecil sambil tertawa. Didekatinya Garda yang baru saja dari arah dapur.


"Ngapain lari-lari?" tanya Garda. Diusapnya punggung Nadin yamg masih terkekeh.


"Enggak kok," jawab Nadin dengan cengirannya.


Garda melirik Anita yang terlihat murung. Wanita paruh baya itu duduk di sofa dengan Gama yang masih setia di gendongannya.


"Kenapa, Ma?" tanya Gama begitu berada di samping Anita.


"Sela gak mau sama Gama," ujar Anita lesu. Dari semenjak di rumah sakit pun Sela tidak pernah mau menyentuh bahkan menatap anaknya sendiri.


"Biar Gama di kamar Garda sama Nadin dulu," ujar Garda. Pria itu jelas mengerti dengan kerisauan Anita.


Nadin seketika melirik Garda dengan sinis. Merasa tidak setuju dengan keputusan suaminya. Namun, wanita cantik itu tidak mengeluarkan kalimat protes apapun.


"Gak papa, Kak?" tanya Anita memastikan. "Mama juga kenapa bisa lupa gak siapin kamar bayi, ya," gumam Anita heran.


Saking semangatnya menanti kehadiran cucu pertamanya. Anita hanya fokus menyiapkan baju dan peralatan bayi. Sementara kamar untuk jagoan kecil itu belum terpikirkan.


"Gak papa, Ma," jawab Garda. Pria itu lantas menoleh pada Nadin. "Tolong siapkan tempatnya dulu, ya, Nad," pinta Garda.


Awalnya Nadin menunjukkan tatapan tidak terima kepada Garda. Namun mata tajam Garda langsung membuat Nadin menurut. Wanita itu lantas berjalan pelan menuju kamarnya.

__ADS_1


Di dalam kamar itu sudah ada beberapa tas berisi peralatan bayi. Nadin tahu pasti Garda yang sudah membawa barang itu ke sini lebih dulu.


Untuk awalan Nadin memilih mengganti seprai dengan yang baru. Setelah itu baru melapisinya dengan kain yang ada di antara peralatan bayi lain.


"Sudah, Nad?" tanya Garda yang baru saja memasuki kamar.


Nadin menatap Garda lalu beralih pada bayi dalam gendongan suaminya. "Gama bakal tidur sama kita terus?" tanya Nadin.


Garda tersenyum sekilas mendengar pertanyaan itu. Diletakkannya bayi mungil itu ke atas kasur dengan perlahan. Setelah itu Garda baru fokus pada wanitanya.


"Besok tempat tidur untuk Gama datang. Jadi Gama gak tidur sama kita," jawab Garda.


"Tapi di kamar kita?" tanya Nadin yang langsung di angguki Garda.


Wajah Nadin seketika berubah menjadi murung. "Kamu gak suka?" tanya Garda menanggapi perubahan wajah istrinya.


Nadin menghela napas pelan. "Kenapa gak sama Mbak Sela aja, sih?" rengek Nadin. Mata beningnya menatap Garda dengan alis mengernyit.


"Kamu tahu sendiri kalau Sela menolak Gama, Nad," jelas Garda. Pria itu memegang kedua pundak Nadin dengan erat. Membuat Nadin benar-benar fokus pada dirinya. "Gama akan selalu sama kita," tegas Garda.


"Maksud, Mas?" tanya Nadin bingung.


"Hah!? Mas serius!?" tanya Nadin yang terkejut dengan penuturan Garda.


Garda mengangguk mantap dengan pertanyaan Nadin. "Kita mengadopsi anak dari panti asuhan," ujar Garda dengan suara tenang. "Kamu harus jawab itu setiap ada yang menanyakan soal Gama."


Nadin masih belum bisa menerima semua yang dikatakan Garda. Pikirannya seketika riuh mendengar ucapan suaminya itu. Tatapan bingung Nadin membuat Garda berdecak.


"Nad, kamu ngerti, kan, yang saya katakan?" tanya Garda menuntut jawaban Nadin.


"Kita jadi orang tuanya Gama?" tanya Nadin lagi.


Garda mengangguk tegas untuk pertanyaan Nadin. "Lebih tepatnya orang tua angkat Gama. Gama kita adopsi dari panti asuhan," jelas Garda lagi.


"Tapi kenapa kita harus lakuin ini, Mas?" tanya Nadin yang masih merasa tidak terima dengan pernyataan Garda.


Garda mendongakkan kepalanya sejenak sambil menarik napas panjang. Sebanarnya pria itu sudah kalut. Isi kepalanya saling bersahutan satu sama lain. Keputusan ini juga teramat sulit bagi Garda.


"Apa ada hal lain yang bisa menjadi solusi untuk masalah ini?" tanya Garda mengambang. Pria itu menatap Nadin dalam. "Mama gak mau Gama pergi dari keluarga ini. Tapi ... Mama juga gak mau nama baik keluarga ini hancur karena orang-orang tahu Sela hamil tanpa suami," jelas Garda lagi. Pria itu menunduk dengan napas memburu. Rasanya Garda sendiri berat dengan keputusan ini.

__ADS_1


"Mas," panggil Nadin pelan. "Aku belum tentu siap dengan kehadiran anak aku sendiri. Gimana aku bisa jadi orang tua untuk anak yang bukan darah daging aku?" tanya Nadin yang tampak risau.


"Tapi gak ada pilihan lain, Nad," jawab Garda. Pria itu mendongak dengan mata memerah. "Jujur saya juga berat mengambil keputusan ini," ternag pria itu.


Nadin kembali diam dengan pikiran kacau. Tentu saja ini adalah sebuah keputusan yang sangat besar. Ditatapnya mata tajam Garda yang tampak memerah itu. "Aku gak mau, Mas," ujar Nadin dengan lantang. "Aku gak mau jadi orang tua angkat Gama," jelas Nadin. Untuk kali ini dia harus berani bersuara. Karena hal ini bukan perkara kecil untuk dilalui dengan terpaksa.


"Maaf," ucap Garda. Digenggamnya kedua tangan Nadin erat-erat. "Saya tidak meminta persetujuan kamu, Nadin," terang Garda.


"Maksud, Mas Dana?" tanya Nadin menuntut.


"Mau kamu setuju atau tidak saya tetap akan mengambil keputusan ini. Jadi ... Maaf," ujar Garda lagi.


Tentu saja tatapan tidak terima langsung menyapa Garda. Nadin melepas genggaman Garda dengan kasar. "Mas tetap mau jadi orang tua angkat Gama?" tanya Nadin memastikan.


"Maaf, Nad," ujar Garda lagi. "Saya gak bisa lakukan hal lain."


"Apa gak ada cara lain?" tanya Nadin frustasi.


Gelengan dari Garda membuat Nadin menghela napas pasrah. "Kamu bisa menemukan solusi lain?"


"Enggak," rengek Nadin. Mata beningnya tampak berkaca-kaca. "Tapi aku belum mau punya anak," lirih wanita itu.


"Hei," panggil Garda. Dipegangnya kedua pipi Nadin dengan tangannya yang dingin. "Kamu gak perlu takut," ujar Garda menenangkan.


"Tapi, Mas--"


"Kita hanya jadi orang tua Gama secara hukum. Selebihnya Mama yang akan turut andil dalam merawat Gama," ternag Garda.


"Tapi gimana sama keluarga aku?" tanya Nadin. "Aku gak yakin mereka bakal nerima keputusan ini gitu aja."


"Kita pikirkan itu nanti," ujar Garda lagi. Ditatapnya mata Nadin dengan lamat. "Yang penting kamu harus ingat ini. Gama anak yang kita adopsi dari panti asuhan. Kita adopsi dia karena kamu belum bisa hamil."


Dada Nadin seketika berdesir nyeri mendengar penuturan itu. Air matanya perlahan meluruh. Ditatapnya mata tajam Garda dengan mata basahnya.


"Aku benar-benar gak bisa nolak, ya?" tanya Nadin lagi.


"Tolong saya untuk kali ini," pinta Garda dengan tatapan memohonnya.


Nadin mengangguk walau rasanya sangat berat. Wanita itu mengusap kasar air matanya yang kembali menetes. "Mas Dana gak suka aku yang membangkang, kan?" tanya Nadin dengan sisa air matanya. Namun, kedua bibirnya tampak melengkung tipis. "Aku harus selalu patuh sama suami aku."

__ADS_1


__ADS_2