
Nadin duduk dengan tenang di salah satu kursi di depan ruang rawat. Karena kejadian tidak terduga tadi, Nadin mendapat beberapa luka ringan di siku dan telapak tangannya. Untung saja tidak ada yang parah. Setelah diobati oleh seorang perawat, Nadin langsung datang ke sini.
"Maafin Nadin, ya, Mas," ujar Nadin sarat akan rasa penyesalan.
Pria berbadan kekar yang sejak tadi duduk di depan ruang rawat itu hanya diam. Wajah dengan rahang tegas itu terlihat menyeramkan sekarang. Kedua tangannya bertumpu di lutut dengan badan agak membungkuk.
"Aku nyesel karena kecerobohan aku udah buat orang lain terluka, Mas," cicit Nadin. Hatinya terasa sakit karena sejak tadi Garda mengabaikannya. Bahkan pria itu sama sekali tidak menanyakan keadaan Nadin.
"Masuk! Bilang terimakasih sama ornag yang udah nolong kamu," titah Garda. Wajah Garda tetap tidak mau menatap ke arah Nadin.
Nadin mengangguk sambil mengulum bibir. Mata beningnya yang masih terlihat berair itu terus menatap Garda. Sayang sekali Garda tidak membalas tatapan itu.
Dengan gerakan yang sangat pelan Nadin membuka pintu ruang rawat. Wanita itu perlahan masuk ke dalam ruangan yang dominasi warna putih. Pemandangan seorang wanita dengan wajah pucat menyambut kedatangan Nadin. Wanita itu terlihat tersenyum lembut dalam posisi bersandar.
"Assalamualaikum, Mbak," sapa Nadin dengan suara pelan. Jujur dia merasa takut jika wanita ini marah pada dia.
"Wa'alaikumussakam, Dek," jawab Wanita itu. Senyum lembutnya terlihat begitu meneduhkan. "Duduk di sini, Dek. Gak papa, gak usah takut," ucapnya saat melihat wajah sungkan Nadin.
Nadin tersenyum tipis lalu duduk di kursi kosong. Tangan kurusnya meraih tangan wanita yang duduk bersandar di rajang itu. Nadin mengenggam tangan yang bebas dari infus dengan hangat.
"Mbak aku Nadin yang Mbak tolongin tadi," ucap Nadin memperkenalkan diri.
Wanita itu terlihat mengangguk. Dia masih mengingat jelas wajah yang dia lihat berlari begitu bersemangat menyebrangi jalan tadi. "Saya Hana," balas Wanita itu.
Nadin mengusap tangan Hana dengan lembut. "Terimakasih ya Mbak Hana udah tolongin aku," ujar Nadin yang terdengar begitu tulus di telinga Hana. "Maaf udah buat Mbak Hana sakit," lanjut Nadin.
Hana tersenyum untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. "Sama-sama Nadin," jawab Hana. "Saya tidak akan memaafkan kamu karena saya tidak marah sama kamu," tutur Hana lembut.
Nadin mendongak untuk menatap wajah wanita itu. Sebagai sesama wanita saja Nadin merasa begitu terpukau. Hana terlihat begitu cantik dengan senyum hangat yang menenangkan. Apalagi suara wanita itu terdegar sangat lembut.
"Tapi saya akan sangat marah kalau kamu mengulangi hal seperti itu lagi," sambung Hana. "Lain kali kamu harus lebih hati-hati lagi, ya, kalau menyebrang. Apalagi jalannya ramai," ucap Hana menasehati.
"Iya Mbak, aku gak akan ceroboh lagi," ucap Nadin penuh keyakinan. "Tapi Mbak Hana beneran gak papa?" tanya Nadin khawatir.
Hana menggeleng kecil. "Cuma luka ringan aja. Besok sore sudah bisa pulang," jawab Hana. Wanita itu juka menunjuk luka di bagian samping kepalanya yang sudah di tutup perban.
"Tangan Mbak Hana?" tanya Nadin sambil menunjuk perban di tangan Hana.
"Dapat beberapa jahitan," ucap Hana dengan senyum lembutnya. "Gak papa, gak usah terlalu dipikirkan. Kamu sendiri apanya yang sakit?"
Nadin memperlihatkan kedua telapak tangannya yang terluka dengan wajah polos. "Perih dikit," cicit Nadin.
Tawa kecil Hana menyambut ucapan Nadin. Bagi wanita itu Nadin terlihat sangat polos dan ceria. Dia pikir Nadin masih seorang remaja. "Kamu di sini sama siapa?" tanya Hana khawatir.
__ADS_1
"Sama suami aku," jawab Nadin dengan wajah polos.
"Suami!?" ulang Hana. Wajah cantik itu terlihat terkejut mendemgar jawaban Nadin. Bagaimana mungkin seorang wanita yang dia pikir masih remaja sudah mempunyai suami.
Nadin mengangguk dengan senyum manisnya. "Emang suami aku belum ke sini, ya, Mbak?" tanya Nadin.
"Belum ada yang ke sini," jawab Hana.
"Mbak mau minum nggak? Mau aku ambilin?" tawar Nadin.
"Tidak usah, nanti kalau haus saya bisa ambil sendiri," jawab Hana dengan suara lembut. Sedikit takut Nadin merasa tersinggung dengan penolakannya.
Selang beberapa detik suara daun pintu yang terbuka mengalihkan fokus kedua wanita itu. Setelahnya tampak dua orang paruh baya yang terlihat sebagai sepasang suami istri memasuki ruangan.
Wanita paruh baya itu berjalan tergesa dengan wajah khawatir. "Apanya yang sakit, Nak?" tanyanya setelah berada di samping Hana.
"Cuma luka ringan, Bu. Hana gak papa," jawab Hana dengan wajah yang selalu tersenyum.
Wanita paruh baya itu terus memeriksa keadaan anaknya. Sementara sang pria hanya berdiri tegap dengan kedua tangan bersedekap. "Kok di luar ada Garda, Han?" tanya pria itu.
Nadin dan Hana dibuat sama-sama terkejut mendengar pertanyaan itu. Nadin sendiri bingung. Kenapa mereka bisa mengenal suaminya.
"Mas Gardana?" tanya Hana memastikan.
"Kamu gak tahu ada Garda di sini? Dia, loh, yang kabarin Ibu kalau kamu kecelakaan," ucap wanita paruh baya itu lagi.
Nadin dibuat semakin bingung sekarang. Bagaimana bisa Garda menghubungi ibu Hana. Apalagi wajah Hana yang terlihat begitu sendu setelah mendengar nama Garda.
Suara daun pintu yang terbuka kembali terdengar. Garda masuk dengan langkah tegap yang langsung mengalihkan perhatian 4 orang di sana. Nadin otomatis memperhatikan wajah Hana.
Lagi-lagi ada yang berbeda di wajah itu. Tatapan dalam yang sarat akan rasa rindu Hana lontarkan.
Garda tersenyum tipis setelah bergabung di sana. Pria itu berdiri di samping Nadin. "Terimaksih sudah menolong istri saya," ujar Garda dengan mata tajam yang menatap Hana.
Hana membalas tatapan itu. "Sama-sama," jawabnya pelan.
"Loh? Kamu sudah menikah?" tanya ibu Hana terkejut.
Garda mengangguk dengan senyum tipis. "Saya dan Nadin pamit dulu. Maaf tidak bisa menunggu sampai Hana boleh pulang," ujar Garda. "Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih," lanjut Garda dengan badan tertunduk hormat.
Garda menggandeng tangan Nadin untuk ke luar dari ruangan itu, setelah Nadin turut melontarkan kalimat pamit. Sekarang tinggallah Hana dan kedua orang tuanya yang terdiam dengan pikiran masing-masing.
...
__ADS_1
Garda masuk ke dalam kamar setelah merasa suasana hatinya cukup tenang. Rasa bersalahnya langsung muncul melihat istrinya yang duduk melamun di meja rias.
"Nad," panggil Garda. Nadin mendongak dengan mata yang masih merah. Wanita itu diam-diam menangis karena Garda selalu mengabaikannya.
"Sini," suruh Garda dengan kedua tangan yang direntangkan.
Sebuah senyum manis langsung merekah di wajah Nadin. Wanita itu berlari kecil untuk masuk ke dalam dekapan Garda. Rasanya seakan batu besar yang sejak tadi mengganjal di dada Nadin lenyap seiring dengan rasa hangat yang Garda berikan.
"Saya sangat marah sama kamu," ucap Garda tegas.
"Maafin aku, Mas," cicit Nadin.
"Saya marah kamu tidak mengikuti ucapan saya. Saya marah karena kamu ceroboh," ujar Garda dengan suara tenang.
"Aku minta maaf. Aku janji gak akan ulangi lagi," balas Nadin. Wanita itu terisak kecil dalam dekapan Garda.
"Kamu sayang 'kan sama saya?" tanya Garda memastikan. Dalam dekapan suaminya Nadin mengangguk tegas.
"Kalau kamu gak sayang sama diri kamu sendiri. Setidaknya jaga diri kamu buat orang yang kamu sayang," tutur Garda.
Pria itu melepaskan dekapannya. Kedua tangannya beralih memegang kedua pundak Nadin. Mata tajam persisi seperti mata Anita itu menghunus tepat pada manik bening milik Nadin.
"Saya melarang kamu karena tahu apa yang baik dan tidak untuk kamu," ujar Garda tetap menatap mata Nadin. "Sekarang kamu tahu apa yang terjadi kalau gak nurut?"
Nadin mengangguk dengan kedua tangan yang saling meremas. "Aku janji gak akan bantah lagi," cicit Nadin.
Garda beralih memegang kedua telapk tangan Nadin. Ditihatnya kedua telapak tangan mungil itu yang terluka. Garda mengusap lembut luka yang ada di sana. "Sakit?" tanya Garda.
"Perih," jawab Nadin dengan suara manja.
Garda tersenyum tipis. Pria itu kembali menarik Nadin ke dalam dekapannya. Diusapnya belakang kepala Nadin yang tidak tertutup hijab. Garda memberikan beberapa kecupan hangat di puncak kepala istrinya.
"Apa saya sudah benar-benar masuk ke dalam perangkap kamu, ya, Nad?" tanya Garda ambigu.
"Maksud, Mas?" tanya Nadin heran.
"Saya senang ada di dekat kamu. Saya senang mendengar suara kamu. Saya juga selalu senang mendengar ungkapan cinta dari kamu," jelas Garda. Diam-diam Nadin mengulas senyum dengan wajah memerah.
"Saya bisa merasakan sedih saat kamu sedih, Nad. Dan kali ini saya merasa begitu takut kehilangan kamu," lanjut Garda.
"Mas udah sayang sama aku?" tanya Nadin penuh harap.
Garda kembali mengecup puncak kepala Nadin. "Jangan pernah sedih kalau kamu gak mau suami kamu sedih, ya?" Nadin mengangguk semangat mendengar ucapan Garda.
__ADS_1
"Saya juga sayang samu kamu," tutur Garda membuat taman bunga yang masih kuncup seketika mekar bersamaan. Mengudarakan aorma harum yang bisa menenangkan siapapun.