Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Self Injury


__ADS_3

"Self injury, adalah priaku melukai diri yang dilakukan dengan sengaja tanpa ada niatan bunuh diri. Biasanya, penderita self injury melampiaskan emosi yang dia pendam dengan cara melukai dirinya sendiri. Contohnya, menyayat bagian tubuh tertentu, membakar, menarik rambut, memukul, membenturkan kepala ke tembok, atau bahkan ada yang sampai menelan zat berbahaya."


Garda memperhatikan setiap kalimat yang ke luar dari mulut Nabila. Seorang wanita yang berprofesi sebagai psikolog itu merupakan istri dari Rivan. Sudah agak lama Garda meminta untuk menemui wanita itu. Namun, baru hari ini Nabila menyanggupi ajakan Garda.


Melihat wajah Garda yang seakan berusaha keras mencerna ucapannya, Nabila tersenyum tipis. "Sederhananya, psikis dia merasakan rasa sakit yang sangat menganggu. Sehingga dia mengalihkan rasa sakit itu ke fisik," jelas Nabila dengan bahasa yang mudah dipahami.


Garda menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Kedua tangannya saling bertautan di atas meja dengan badan tegap. Mata tajamnya melirik Nabila sekali. "Tuntutan dan tekanan dari keluarga bisa jadi penyebabnya?" tanya Garda.


"Bisa," jawab Nabila dengan tegas. "Biasanya penderita self injury mempunyai trauma di masa lalu. Atau mereka mendapat sebuah tekanan dari beberapa hal. Faktor-faktor itu bisa menganggu kesehatan mental penderita dan berakhir melukai dirinya sendiri untuk meluapkan emosi negatif yang selama ini dia pendam," jelas Nabila lebih merinci.


Semua yang dikatakan Nabila ada pada Nadin. Garda masih mengingat jelas kejadian buruk yang pernah Nadin ceritakan. Mulai dari pelecehan yang dia alami saat masih kecil. Juga Tekanan dari kedua orang tuanya. Parahnya, tekanan yang Nadin dapat dari kedua orang tuanya sampai membuat wanita itu takut untuk kembali masuk ke dunia pendidikan.


"Hal seperti apa yang buat mereka mulai melukai dirinya sendiri?" tanya Garda.


"Mereka akan mulai melukai dirinya sendiri saat merasa tertekan, emosi, merasa gagal, tidak berguna atau perasaan emosi negatif lainnya," jelas Nabila membuat Garda mengangguk paham.


Wanita itu melirik segelas es kopi yang dia pesan. Mengambil minuman itu lalu meminumnya sedikit. Mencoba menghalau rasa tidak nyaman di tenggorokannya karena terlalu banyak bicara.


"Perasaan orang dengan penderita self injury akan lebih sensitif. Jadi, sebagai pasangannya kamu harus pintar-pintar menjaga perasaan istri kamu, ya," ucap Nabila lagi.


"Saya selalu berusaha yang terbaik untuk istri saya," jawab Garda dengan tegas.


"Oh iya, mereka akan cenderung melakukannya di tempat yang membuat mereka merasa nyaman, aman, dan tenang. Bisa di kamar, kamar mandi atau tempat manapun yang gak pernah kita duga. Jadi kamu harus selalu waspada," jelas Nabila lagi.


Sebenarnya Nabila agak merasa kesusahan. Paslnya Garda tidak terlalu aktif dalam berkomunikasi. Beda sekali dengan beberapa konsultan lain. Jadi, wanita itu berusaha memeberikan informasi yang mungkin akan Garda butuhkan.


"Kamu sudah coba bawa istri kamu ke psikolog atau psikiater?" tanya Nabila.


Garda menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Saya sudah coba bujuk beberapa kali. Tapi dia tetap menolak. Saya takut menganggu perasaan dia kalau terus-terusan saya paksa," jawab Garda.


Nabila tersenyum tipis menanggapi jawaban Garda. Wanita itu cukup bisa memahami apa yang Nadin rasakan.


"Sebenarnya lebih baik kamu bawa istri kamu ke psikolog agar mendapat penanganan yang lebih baik. Tapi kalau takut membuat dia merasa tertekan karena kamu paksa, kamu bisa belajar mengatasinya sendiri dulu," jelas Nabila.


"Caranya?" tanya Garda menuntut.


"Jadilah, seorang suami siaga. Siaga dalam artian selalu siap menjadi teman, sahabat, orang tua. Selalu dengarkan cerita istri kamu, berikan afirmasi positif untuk istri kamu. Bantu Nadin untuk jauh dari segala sesuatu yang mengingatkan dia dengan rasa sakitnya," lanjut Nabila menjelaskan.

__ADS_1


Garda mengangguk saja. Dia juga merasa sudah melakukan hal tersebut untuk Nadin. Meskipun belum maksimal, tapi Garda akan terus berusaha untuk kesembuhan istrinya.


"Satu lagi, jauhkan benda tajam dari jangkauan dia. Istri kamu lebih suka menggunakan benda tajam, kan?"


"Tapi istri saya suka masak," jawab Garda dengan wajah polos.


Nabila terdiam sejenak. Jika langsung melarang Nadin memegang benda-benda tajam tentu saja akan menganggu Nadin karena dia suka memasak. "Kalau gitu kamu harus lebih waspada lagi. Intinya bantu Nadin untuk selalu merasa tenang dan aman. Atau kamu bisa mendukung hobi memasak Nadin. Saya yakin Nadin akan jauh lebih bahagia jika hobi memasaknya kamu dukung."


"Akan selalu saya usahakan," balas Garda.


"Pesan saya selalu jaga perasaan dia. Kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari. Kita juga gak tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan dan mereka pendam. Meskipun saya bilang tadi penderita self injury melakukan tindakan menyakiti diri sendiri tanpa ada niatan bunuh diri. Kamu harus tetap waspada."


Garda menganggukkan kepalanya. Pria itu melirik Nabila yang terlihat beberapa kali melihat jam tangannya. Merasa peka dengan keadaan, Garda memilih menyudahi pertemuannya untuk sore ini.


"Ternyata benar kata Rivan, kamu cukup sibuk sekarang," kata Garda.


Nabila terkekeh ringan. Wanita itu memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas. "Maaf tidak bisa lebih lama lagi. Saya masih ada beberapa urusan," jelas Nabila.


"Tidak masalah," jawab Garda. "Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan saya. Saya merasa sangat terbantu dengan penjelasan dan saran dari kamu."


Wanita itu mulai menggantungkan tas hitamnya di bahu. Tangan kanannya mengangkat ponsel miliknya. "Saya akan mencoba menghubungi Nadin nanti," kata Nabila.


"Terimakasih. Saya percaya sama kamu karena kamu istri sahabat saya," ucap Garda dengan tegas. Setelah berpamitan Nabila langsung pergi meninggalkan Garda.


Garda menghela napas pelan. Dia berharap Nadin bisa benar-benar sembuh dari kebiasaan buruknya.


Garda tak sengaja menatap sebuah etalase yang dipenuhi jajaran kue dan donat. Pria itu sedikit menimbang. Makanan itu tidak cukup sehat untuk di konsumsi. Tapi, Nadin pasti akan merasa senang jika dibelikan makanan itu.


Mata tajam Garda melirik beberapa sudut cafe ini. Tempat ini bisa dibikang cukup bersih dan terawat. Pria itu kembali dibuat bimbang. Jika bagian depan bersih belum tentu bagian dapur juga bersih, kan?


"Ah! Sesekali tidak papa," ucap Garda. Pria itu lantas berjalan ke arah etalase. Mulai memilih beberapa macam kue yang terlihat menarik.


...


"Yey! Suami aku pulang!"


Suara bahagia Nadin menyambut kedatangan Garda. Pria itu langsung mendapat sebuah pelukan hangat dari Nadin.

__ADS_1


"Hari ini aku masak udang asam manis sama tumis kangkung," ucap Nadin dengan wajah yang setia berbinar.


Garda tersenyum lembut. Pria itu merangkul pundak Nadin lalu membimbing wanita itu memasuki rumah lebih dalam. "Hari ini menyenangkan?" tanya Garda.


Nadin mengangguk dengan semangat. Gadis itu mengangkat piring yang berisi beberapa potong buah pepaya. "Aku minum susu sama makan buah," kata Nadin dengan bangga.


"Pintar sekali," puji Garda tulus. Pria itu meletakkan bawaannya di meja dapur. Duduk di sebuah kursi kosong untuk mengistirahatkan badannya sejenak.


Nadin yang sudah hafal dengan kebiasaan Garda langsung bergegas mengambilkan segelas air putih hangat. "Aku tadi nonton acara masak-masak di tv. Mereka masak udang asam manis, jadi aku ikutan, deh," ucap Nadin sambil meletakkan segelas air putih di hadapan Garda.


"Pasti enak," balas Garda.


Mata Nadin menatap sebuah bungkusan plastik yang tadi di bawa Garda. Wajahnya terlihat berseri melihat gambar kue di plastik itu. "Ini apa, Mas?" tanya Nadin basa-basi.


Garda lantas meraih plastik itu dan membukanya. Wajah Nadin semakin berseri melihat sebuah kotak yang sangat dia kenal. "Hadiah karena kamu sudah pintar hari ini," ucap Garda.


Nadin langsung merebut kotak kue itu dari tangan Garda. Tentu saja lirikan Garda menyambut aksi Nadin. "Hehe makasih, ya, sayangku," kata Nadin begitu manis.


Wanita itu mulai melihat apa yang Garda bawakan. Ternyata beberapa potong kue aneka rasa dan donat. Tentu saja wajah gembira Nadin langsung terpampang indah.


Nadin meletakkan kembali kotak kue di tangannya. Wanita itu berdiri lantas memeluk tubuh Garda. "Terimakasih, ya, suamiku," ucap Nadin.


Garda membalas pelukan Nadin. Rasanya agak sedikit aneh bagi Garda. Biasanya Nadin yang akan tenggelam dalam dada bidangnya. Sekarang malah pria itu yang berada dalam dada Nadin.


"Kamu suka?" tanya Garda.


"Suka sekali," jawab Nadin dengan suara yang terdengar begitu gembira.


Setelah melepas pelukannya. Nadin kembali duduk di kursi samping Garda. Mata beningnya mengamati satu persatu makanan yang tertata di kotak itu. Memilih mana dulu yang akan masuk ke dalam mulutnya.


"Nad," panggil Garda.


"Apa sayang?" tanya Nadin tanpa mau menoleh pada Garda. Bagi Nadin kue-kue ini lebih menarik sekarang.


"Habis ini gak boleh ngelunjak, ya! Saya cuma ngizinin kamu makan makanan dari luar kali ini saja," ucap Garda memperingati.


Mendengar itu membuat Nadin langsung menoleh. Wanita itu tersenyum sampai deretan gigi putihnya terlihat. "Hehe tahu aja suamiku," kata Nadin polos.

__ADS_1


__ADS_2