Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Kejadian Tidak Diinginkan


__ADS_3

Malam ini Garda dan Nadin sedang berada di pusat perbelanjaan. Sepasang sumai istri itu terlihat fokus pada salah satu rak di sana. Garda dengan tangan yang setia memegang troli belanja itu menatap Nadin yang berdiri di depannya.


"Pilih, Nad, mau yang rasa apa," suruh Garda. Dia sudah gemas menunggu Nadin yang sejak tadi hanya diam.


"Mau rasa mangga," jawab Nadin sambil menyengir.


"Yang bener, ah! Keburu malam, kok," omel Garda. Pria itu mengambil satu kotak susu bubuk dengan gambar sepasang pengantin. "Rasa coklat saja, ya," tawar Garda.


Nadin langsung menggeleng tegas. "Ini aja," kata Nadin sambil mengambil sekotak susu dengan warna merah muda.


"Masukin sini, kita cari sayuran," ujar Garda. Pria itu langsung berjalan setelah Nadin meletakkan susu pilihannya ke dalam troli.


Tujuan utama mereka ke sini memang untuk membeli susu yang biasa digunakan untuk program hamil. Setelah berunding beberapa waktu mereka berdua mengurungkan niat awal untuk ke dokter. Memilih cara mereka sendiri karena merasa usia pernikahan mereka masih muda. Dan wajar saja jika Nadin tidak kunjung mengandung.


Nadin berjalan di samping Garda. Tentu saja wanita itu tidak mau menganggurkan tangan kekar suaminya. Digandengnya tangan Garda dengan wajah bahagia.


"Camilan bolek ngak suamiku?" tanya Nadin dengan nada manja.


"Nanti beli buah," jawab Garda dengan tetap mendorong troli bawaannya.


"Camilan yang asin-asin," rengek Nadin.


Garda menoleh pada istrinya dengan wajah datar. "Buah aja yang sehat Nadin," jawab Garda mencoba sabar.


Nadin menghela napas. Wanita itu melepaskan tangan kanannya yang melingkar di tangan Garda saat pria itu hendak mimilih sayuran.


Garda memilih beberapa macam sayuran. Nadin hanya melihat apa yang dilakukan Garda. Pria itu terlihat memasukkan beberapa macam sayuran dalam jumlah yang banyak.


"Mas Dana! Banyak banget ambilnya," tegur Nadin.


Garda menatap Nadin dengan dua sayur bayam di tangannya. "Buat persediaan, Nad. Katanya sayuran hijau kayak bayam sama brokoli bagus buat program hamil," jelas Garda.


Nadin tersenyum mendengar ucapan Garda. "Meskipun bagus gak harus Mas ambil semua," kata Nadin. Gadis itu mengambil sayur bayam yang ada di tangan Garda lalu mengembalikan ke asalnya. "Beli dikit-dikit aja. Nanti kalau banyak malah busuk," lanjut Nadin.


Garda mengangguk mendengar ucapan istrinya. Pria itu mengulas senyum tipis. "Maaf, ya, saya terlalu bersemangat," ucap Garda.


Nadin terkekeh mendengar jawaban polos Garda. Wanita itu mengambil beberapa brokoli yang terlalu banyak di dalam troli. Setelah mengembalikannya ke deretan sayuran lain, Nadin kembali menggandeng tangan Garda.


"Terimakasih suamiku sudah berusaha dengan sangat baik," ujar Nadin begitu tulus.


Nadin tahu beberapa hari belakangan ini Garda selalu mencari informasi mengenai program kehamilan di internet. Suaminya benar-benar terlihat bersemangat menanti momen kehamilan Nadin.


"Terimakasih sudah mau berusaha dengan saya," balas Garda tak kalah tulus. Hal itu semakin membuat senyum di wajah Nadin. merekah.


Pria itu lantas kembali berjalan untuk memilih beberapa buah. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Garda kembali menatap istrinya.


"Mau coklat?" tanya Garda.

__ADS_1


"Camilan aja, ya, suamiku," tawar Nadin dengan wajah penuh harap.


Garda langsung membalikkan badannya. "Oh, ya sudah kalau gak mau," kata Garda enteng.


"Ih! Mas Dana," rengek Nadin.


Nadin menarik ujung kemeja yang Garda kenakan. "Mas! Mau jajan!" rengek Nadin lagi. Dia merasa punya kesempatan karena Garda sudah menawarinya coklat.


"Gak usah rewel," decak Garda. Nadin memberengut sebal. Apalagi saat Garda malah langsung berjalan menuju kasir.


Menjalin kehidupan dengan Garda membuat Nadin merasa tidak sebebas dulu. Dahulu saja Nadin bisa setiap hari memakan camilan. Makan mie instant pun tidak pernah Nadin lewatkan.


Semantara sejak menjadi istri Garda makanan itu adalah hal terlarang. Garda selalu melarang Nadin menyentuh makanan itu dengan alasan kesehatan. Mau menerobos larangan suaminya pun bukan hal mudah untuk Nadin.


Wanita yang hari ini mengenakan celana kulot yang dipadukan dengan blouse motif itu berjalan di samping Garda. Wajah cantiknya agak masam karena tidak berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.


Melihat sikap Nadin membuat Garda menghela napas. Mungkin memang seperti ini situasi jika menikah dengan seseorang yang umurnya jauh dibawah kita.


Setelah selesai melakukan pembayaran Garda lanjut berjalan dengan dua kantong kresek di tangannya. Sementara Nadin masih setia diam di sebelah Garda.


"Minta tolong bukakan pintu, Nad," ucap Garda saat mereka sudah tiba di parkiran.


Dengan sigap Nadin membukakan pintu mobil untuk Garda. Lirikan mata Nadin tertuju pada penjual martabak di seberang jalan. Biasanya Garda akan memperbolehkan Nadin membeli makanan itu.


"Mas Dana beli martabak boleh?" tanya Nadin penuh harap.


Nadin mengggandeng tangan Garda dengan mesra. Hal itu membuat pandangan Garda langsung fokus pada Nadin. "Gak usah merayu saya. Saya ngak akan luluh," ujar Garda sebelum Nadin mencoba melakukan penawaran lagi.


Setelah itu Garda membukakan pintu penumpang untung Nadin. Menarik tangan istrinya dengan pelan agar segera masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan istrinya duduk nyaman, Garda langsung menutup pintu mobil dan berjalan ke pintu kemudi.


Wajah memelas Nadin menyambut kedatangan Garda. Pria itu mengusap puncak kepala Nadin yang tertutup hijab pasmina. Penampilan Nadin malam ini terlihat sederhana namun begitu cantik.


"Mas bukannya pelit sampai melarang kamu beli makanan," ujar Garda membuat Nadin menatap wajah tampannya.


Anggukan kecil dari Nadin menyambut ucapan Garda. "Aku tahu, Mas. Aku sedih aja ngak bisa jajan lagi," ucap Nadin jujur.


Garda mengulas senyum mendengar kejujuran Nadin. "Maafkan saya karena terlalu mengatur kamu. Saya ingin yang terbaik untuk kamu Nadin," ujar Garda lembut.


"Iya, Mas. Maaf, ya, karena aku diemin, Mas," ujar Nadin penuh rasa sesal.


Garda tersenyum dengan anggukan kecil. Pria itu lantas memfokuskan diri pada kemudi mobil. Mulai menjalankan mobil untuk kembali ke rumah.


"Mau ke alun-alun sebentar?" tawar Garda.


"Boleh!?" tanya Nadin antusias.


Garda mengangguk sebagai jawaban. "Kita beli ronde saja, ya," ucap Garda.

__ADS_1


"Oke, Mas!" jawab Nadin begitu semangat.


Bisa di bilang hanya penjual wedang ronde itu yang Garda percaya keamanan dan kebersihan makanannya. Pasalnya Bapak penjual ronde itu adalah kerabat dekat Rivan. Garda dan Rivan juga sudah sangat akrab dan sering berkunjung ke kediaman beliau. Jadi, Garda tidak masalah untuk mengajak Nadin membeli minuman hangat itu meski setiap hari.


...


"Sebentar tungguin saya," ucap Garda saat Nadin sudah berancang-ancang membuka pintu mobil. Garda masih membalas beberapa pesan penting dari rekan kerjanya.


"Ayo cepet, Mas!" ajak Nadin dengan semangat.


"Sebentar, Nad. Nanggung ini," sela Garda.


Nadin menghela napas kesal. Wanita itu melirik Garda yang terlihat begitu fokus pada ponselnya. Semantara dia sendiri sudah tidak sabar menginjakkan kaki di alun-alun kota.


"Aku duluan, deh, Mas," kata Nadin sedikit kesal.


"Bentar, Nad!" decak Garda.


Nadin terus memperhatikan suaminya yang tidak kunjung selesai dengan urusannya. Karena terlalu tidak sabar Nadin langsung membuka pintu mobil membuat Garda mengalihkan fokusnya.


"Nadin!" panggil Garda sarat akan peringatan.


"Aku duluan aja. Mas Dana lama," ucap Nadin.


"Ramai Nad jalannya," kata Garda dengan tatapan yang menghunus tajam.


"Aku pinter nyebrang kok," balas Nadin penuh percaya diri.


Setelah itu Nadin langsung ke luar dari dalam mobil. Mata beningnya menatap pemandangan alun-alun yang ramai dengan gembira. Tanpa memikirkan banyak hal, Nadin langsung berlari kecil ke arah keramaian.


Garda langsung mematikan ponselnya dan ke luar dari mobil. Pria itu berjalan tergesa ke arah Nadin yang mulai berhenti untuk menyebrang.


Mata Garda terus mengamati tubuh ramping Nadin yang berusaha menerobos keramaian. Saat suasana mulai sepi wanita itu langsung berlari dengan semangat.


Dada Garda tiba-tiba berdetak kencang melihat sebuah motor melaju begitu kencang dari arah kanan. Entah apa yang sedang Nadin pikirkan sampai tidak menyadari keberadaan motor itu.


"Nadin!" panggil Garda yang lansung berlari mendekat ke arah Nadin.


Kejadian berjalan begitu cepat saat tubuh Nadin terpental cukup keras. Wanita itu memekik disusul suara dentuman yang cukup keras. Tentu saja suara gaduh itu mengalihkan perhatian banyak orang di sana. Mereka langsung berlari mendekati sumber suara dengan panik.


"Sialan! Cewek gila nyebrang gak lihat-lihat!" umpatan dari pengendara motor membuat Nadin mendongak. Gadis itu mendapati seorang pria yang masih menggunakan helem berdiri sambil membersihkan pakaiannya. Sementara motor yang dia kendarai tergeletak dengan naas di sana.


Mata Nadin seketika membola. Wanita itu menatap kerumunan orang yang berada di satu titik. Sementara ada beberapa orang lagi yang ada di sekitarnya.


"Jangan bilang itu Mas Dana," gumam Nadin dengan suara bergetar. Matanya masih fokus pada tempat di mana banyak orang yang berkerumun di sana.


Nadin berdiri dengan bantuan seorang wanita muda. "Mbak apanya yang sakit?" tanya wanita itu yang diabaikan Nadin.

__ADS_1


Nadin berjalan dengan agak kesusahan mendekati kerumunan. Matanya semakin memerah dengan air mata yang siap menetes. Untuk kesekian kalinya, Nadin dibaut menyesal akan kecerobohannya sendiri.


__ADS_2