Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Kabar Duka


__ADS_3

Nadin membuka matanya yang terasa sangat berat. Wanita itu menajamkan pendengarannya saat mendengar suara bel berulang kali. Dengan langkah kecilnya Nadin berjalan mendekati sumber suara.


Wajah pucat Nadin masih kentara. Piyama dan hijab instan membungkus tubuh hangat Nadin. Tangan kurusnya membuka pintu dengan pelan. Tampak langit subuh yang langsung menyambut wanita itu.


"Mas Dikta?" Nadin menatap kakaknya dengan wajah terkejut. Bagitu pula Dikta yang terkejut melihat wajah pucat Nadin.


"Dek, kamu sakit?" tanya Dikta. Tangan kekarnya berusaha mengapai wajah Nadin. Namun, sang empunya langsung mengelak sentuhan itu.


"Mas ngapain pagi-pagi ke sini?" tanya Nadin heran.


Dikta mengernyitkan dahinya. "Kakak yang harusnya tanya. Kamu kenapa masih di sini? Apa Garda gak bilang sama kamu?" tanya Dikta.


"Mas Dana," gumam Nadin. Dia baru ingat suaminya tidak ada di sampingnya saat terbangun. Awalnya Nadin kira Garda pergi ke masjid atau ke mana. Tapi, kenapa Dikta menanyakan hal itu.


"Emang ada apa? Mas Dana gak bilang apa?" tanya Nadin menuntut.


"Pak Dimas meninggal," ucap Dikta dengan mata yang terus menatap Nadin. Menunggu reaksi yang akan diberikan adiknya.


Nadin sempat terdiam sejenak. Mencoba memahami apa yang baru saja disampaikan Dikta. "Papanya Mas Dana?" tanya Nadin dengan wajah bingung.


Dikta mengangguk tegas. "Semua udah kumpul di sana dari dini hari. Kakak cari-cari kamu kok gak ada. Telepon kamu gak bisa, akhirnya kakak coba cari kamu ke sini," jelas Dikta. "Ternyata kamu gak tahu," lanjutnya.


Nadin meremas gagang pintu. Mata beningnya menatap dengan hampa. "Kenapa Mas Dana gak bangunin aku?" gumamnya dengan sangat lirih.


Apa Garda semarah itu pada Nadin sampai tidak memberitahu dia. Sebagai seorang istri dan menantu dari Pak Dimas tentunya Nadin harus di sana. Kenapa Nadin malah mejadi orang terakhir yang tahu.


"Dek," panggil Dikta menghancurkan lamunan Nadin.


Nadin menatap Dikta dengan mata yang berkaca-kaca. "Mas Dikta ke sini cuma mau nyamperin aku?" tanya Nadin.


Dikta tersenyum menenangkan. Pria itu mengusap puncak kepala Nadin penuh sayang. "Adek siap-siap dulu, ya? Kakak tunggu di sini," suruh Dikta.


Nadin mengangguk lemas. Wanita itu beranjak untuk membersihkan diri sebentar. Kepalanya langsung memikirkan banyak hal. Bagaimana reaksi orang-orang nanti jika melihat dia baru datang. Harusnya Nadin ada di sana sejak tadi. Memberi dukungan untuk suaminya dan ibu mertuanya.


....


Tentu saja kabar duka dari keluarga Garda membuat banyak orang terkejut. Jangankan kerabat dekat atau tetangga dekat. Anita yang selalu bersama dengan suaminya juga dibuat terkejut. Tidak pernah wanita itu bayangkan mereka akan berpisah secepat ini.


Nadin duduk di samping Halimah. Wajah cantiknya terus menunduk untuk menghindar dari tatapan orang-orang. Sejak kedatangannya di sini Nadin terus mendengar suara-suara yang membicarakan dirinya. Perihal Nadin yang datang paling terlambat di sini.


Nadin sedikit melirik keadaan suaminya. Pria itu tampak duduk bersila di hadapan jenazah ayahnya dengan pandangan kosong. Di sampingnya ada Anita yang tengah menangis di dalam dekapan seorang wanita.


"Kamu gak samperin suami kamu?" bisik Halimah tanpa mau menatap Nadin.

__ADS_1


Nadin diam sejenak. Dia takut dan ragu untuk mendekati Garda. Hubungannya dengan Garda belum kembali membaik. Nadin hanya takut Garda tidak menyukai kedatangannya.


"Kamu gak denger dari tadi orang-orang bicarain kamu, Nad?" tanya Halimah dengan suara lirih. "Samperin suami kamu," titah Halimah.


"Umma," lirih Nadin ingin memberi bantahan. Nadin memang sejak tadi menyadari banyak mulut yang membicarakan dia. Namun, tetap ada rasa sungkan yang membuat Nadin urung mendekati Garda.


"Jangan buat Umma malu, ya," ucap Halimah dengan tegas.


Nadin menelan ludahnya gugup. Rasanya sangat sungkan untuk mendekati Garda. Namun, bukankah terlihat tidak pantas jika Nadin terus-terusan duduk jauh dari posisi Garda.


Dengan keberanian yang mulai sedikit terkumpul. Nadin mendekati suaminya. Wanita itu duduk bersimpuh di samping Garda. Dipegangnya tangan Garda yang saling bertautan di antara kedua kakinya.


"Mas," panggil Nadin dengan suara lirih.


Garda mendongak menatap Nadin. Mata tajamnya terlihat merah dan berkaca-kaca. Nadin tahu bagaimana hancurnya perasaan Garda. Wanita itu juga tahu seberapa besar usaha Garda untuk menahan tangisannya.


"Mas boleh nangis kok. Aku tahu Mas Dana sedih," lirih Nadin dengan mata yang tak pernah lepas dari wajah Garda.


Garda menundukkan kepalanya. Nadin dapat melihat lelehan air mata dari pria itu. Digenggamnya dengan kuat tangan Garda. Sebisa mungkin Nadin menunjukkan dukungannya untuk Garda.


Setelah menunggu beberapa hal yang perlu disiapkan. Seorang pria paruh baya datang mendekati Garda. Beliau mengatakan persiapan untuk pemakaman sudah selesai. Artinya jenazah Pak Dimas harus segera dimakamkan.


Garda turut membantu membawa keranda ayahnya. Sementara Nadin ikut membimbing Anita menuju mobil yang akan mengantar mereka ke pemakaman sekaligus menenangkan wanita itu.


Nadin menatap tajam wanita itu. Rasanya dia seperti mengenali wajahnya meski ia hanya bisa melihat secara sekilas.


...


Hari ini ditutup dengan pengajian yang dihadiri tetangga dan kerabat Garda. Suasana duka masih jelas terasa. Perasaan terkejut dan tidak menyangka juga masih menjadi pembicaraan.


Kepergian Dimas yang mendadak tentu sangat membuat Anita terpukul. Wanita paruh baya itu masih saja menangis meratapi kepergian suaminya.


"Mama makan dulu, ya?" bujuk Nadin. Wanita cantik itu mendatangi Anita yang berdiam diri di kamarnya setelah selesai mengikuti pegajian.


Anita hanya diam mendengar suara Nadin. Wanita paruh baya itu duduk di atas ranjang dengan pandangan hampa.


"Mama belum makan dari pagi, kan?" tanya Nadin dengan suara lembut. Diusapnya punggung tangan Anita yang mulai keriput itu. "Nadin bawakan makanan ke sini, ya? Mama makan di sini aja kalau gak mau keluar."


"Gak perlu," jawab Anita datar. "Mama mau istirahat," lanjutnya. Wanita itu mulai merebahkan dirinya di ranjang.


"Mama gak mau makan dulu? Nanti Mama sakit kalau gak makan," bujuk Nadin lagi.


"Mama mau istirahat aja," jawab Anita dengan tegas.

__ADS_1


Nadin mengangguk mendengar itu. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh Anita. Setelah itu Nadin berbalik meninggalkan kamar ibu mertuanya.


Sebenarnya ada rasa ingin tahu yang Nadin simpan sejak tadi. Soal kepergian ayah mertuanya yang sangat mendadak.


Dengan langkah pelan Nadin berjalan menuju kamar Garda. Mereka berdua jelas akan menginap di sini untuk beberapa hari. Langkah kecil Nadin berhenti saat hampir menabrak seorag wanita yang baru ke luar dari dapur.


"Eh!? Maaf-maaf," ujar Nadin spontan.


Dengan gerakan cepat Nadin memungut beberapa bungkus roti yang terjatuh dari tangan wanita itu. Setelahnya Nadin menegakkan badan dan menatap wanita di hadapannya. Melihat wajah yang terasa familiar itu membuat Nadin sedikit mengernyit.


"Mbak Sela?" tebak Nadin.


Wanita itu tidak menjawab. Dia buru-buru merebut beberapa bungkus roti di tangan Nadin. Lalu segera pergi dengan langkah cepat.


Nadin mengamati punggung itu dari belakang. "Mbak Sela hamil?" gumam Nadin. Dia sempat melihat perut buncitnya tadi.


"Nad," panggil Garda.


Nadin menoleh untuk menatap ke arah suaminya. Garda baru saja selesai berbincang dengan tamu terakhirnya malam ini. Dapat Nadin lihat wajah sayu Garda yang terlihat lelah.


"Mas mau makan dulu?" tawar Nadin. Wanita itu tentu saja tahu Garda juga belum makan sejak pagi.


Garda menggeleng sambil duduk di salah satu kursi di ruang makan. "Jangan membuka pembicaraan apapun dengan Sela," ujar Garda tegas.


Nadin ikut duduk di samping Garda dengan wajah bingung. "Memang kenapa?" tanya Nadin dengan bisikan.


Garda menatap Nadin dengan tatapan jengah. "Cukup turuti kata saya," kata Garda tegas.


Nadin langsung menciut mendengar ucapan Garda. "Mas masih marah?" tanya Nadin.


"Saya gak mau bahas masalah ini dulu," jawab Garda tenang. Kedua tangannya saling bertautan di atas meja dengan badan tegak.


"Katanya kalau aku sembuh Mas Dana mau bicara sama aku," ujar Nadin menuntut janji Garda. "Sekarang aku udah sembuh."


Tatapan tajam Garda tidak bisa dielakkan setelah mendengar ucapan Nadin. Pria itu menatap istrinya dengan tatapan heran. "Kamu memang tidak bisa membaca situasi, ya!?" tanya Garda dengan rahang yang mulai mengeras.


"Tapi Mas Dana yang bilang sendiri," cicit Nadin.


Garda mengusap wajahnya dengan kasar. "Suami kamu lagi kayak gini dan kamu masih mikirin soal itu?" tanya Garda lagi.


"Aku cuma pengen masalah kita cepat selesai aja, Mas," ujar Nadin. "Aku gak mau hubungan kita jadi canggung kayak gini."


"Terserah kamu! Capek saya sama kamu!" Setelah mengatakan itu Garda langsung beranjak dari duduknya. Memilih meninggalkan Nadin termenung seornag diri.

__ADS_1


__ADS_2