Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Baikan


__ADS_3

"Mama sudah ke luar belum?"


Nadin yang sedang sibuk memasak itu menoleh sejenak. Mendapati Garda yang baru pulang dari masjid dengan sarung dan baju koko. "Belum, Mas. Aku juga belum sempat lihat ke kamar," jawab Nadin.


Pagi ini Nadin dibuat sibuk merapikan rumah. Cucian baju dan piring juga menumpuk. Jadi, Nadin belum sempat melihat kondisi ibu mertuanya.


Tanpa membalas ucapan istrinya Garda langsung berjalan menuju kamar ibunya. Dibukanya pintu kayu itu dengan pelan. Di dalam kamar tampak Anita sedang duduk termenung di atas sajadah.


"Mama," panggil Garda.


Anita menatap anak pertamanya itu sejenak. Kedua mata tajamnya terlihat merah. Wajah tuanya juga tampak pucat.


"Nadin udah masakin Mama. Habis ini Mama makan, ya," kata Garda. Pria itu duduk bersimpuh di samping ibunya.


Anita terdiam dengan tatapan hampa. Masih terasa jelas kesedihan yang wanita itu simpan. "Mama masih gak percaya Papa pergi," ujar Anita sendu.


Garda tersenyum masam. Diusapnya punggung Anita lembut. "Kita harus segera berdamai sama keadaan ini, Ma," ucap Garda dengan suara pelan. "Kita ikhlasin Papa biar Papa juga tenang di sana."


"Mama masih gak terima Papa tinggalin kita secepat ini," ujar wanita itu lirih. Anita menundukkan kepalanya saat air matanya mulai menetes. "Mama sekarang harus gimana, Kak? Mama bisa apa tanpa Papa?" tanya Anita frustasi. Sejak dulu dirinya sudah sangat bergantung dengan Dimas. Lalu pada siapa dia akan berkeluh kesa lagi sekarang.


"Mama masih punya Garda, Ma," ujar Garda.


Anita menatap Garda dengan mata berairnya. "Mama bisa percaya sama kamu, Kak. Tapi gimana sama adik kamu. Kita harus gimana setelah ini?"


Garda terdiam memikkrkan apa yang Anita tanyakan. Mereka masih harus memikirkan cara untuk masalah adik perempuannya. "Nanti biar Garda yang urus. Mama gak usah pikirin masalah Sela," papar Garda. Sebenarnya Garda juga bingung dengan langkah yang harus dia ambil setelah ini. Namun, dia berusaha membuat Anita tenang.


"Kak," panggil Anita dengan suara bergetar. "Kenapa hidup anak-anak Mama jadi kayak gini?" tanya wanita itu dengan linangan air mata.


"Mama jangan bicara kayak gini. Gak ada yang perlu disalahkan dari hidup anak-anak Mama," tegas Garda.


"Tapi ini semua sangat jauh dari apa yang sudah Mama siapkan, Kak," bantah Anita. "Rasnaya perjuangan Mama dari dulu untuk membuat hidup kalian sempurna sia-sia."


"Mama memang bisa mengatur semua sesuai keinginan Mama. Tapi ada Allah yang sudah menetapkan takdir untuk kita," terang Garda


Ibu dari Garda itu kembali teremung. Rasa sakit akibat kabar yang dibawa oleh anak terakhirnya itu masih terasa. Ditambah kepergian suaminya yang sangat mendadak ini. Rasanya dunia Anita yang sejak dulu selalu dihiasi hal-hal indah dan selalu diusahakan untuk terlihat sempurna hancur.


"Kita harus gimana sama Sela, Kak?" tanya Anita lagi. "Kenapa Papa malah pergi disaat ada masalah sebesar ini," ujar Anita penuh sesal.

__ADS_1


"Ma," panggil Garda pelan. Pria itu menggengam tangan Anita dengan lembut. "Mama percaya 'kan sama Garda?" tanya Garda yang langsung dibalas angggukan oleh ibunya.


"Mama serahin masalah ini sama Garda. Mama gak perlu mikir macam-macam. Garda gak mau terjadi sesuatu sama Mama," ucap Garda tulus.


Anita mengadu mata tajamnya dengan milik Garda. Berusaha mencari kesungguhan dari mata tajam anaknya. "Mama percaya sama kamu, Kak," balas Anita yakin. "Sekarang Mama cuma punya kamu setelah Papa pergi," tutur Anita menambahkan.


Garda tertegun mendengar ucapan Anita. Apa yang Anita katakan memang benar. Dia adalah satu-satunya harapan wanita itu setelah ayahnya tiada. Artinya Garda mempunyai tanggung jawab besar untuk ibu dan adiknya.


Suara ketukan pintu membuat perhatian mereka teralihkan. Tak berselang lama wajah Nadin langsung terlihat menyembul di balik pintu. Wanita muda dengan paras cantik itu memasuki kamar mertuanya dengan perlahan.


"Nadin sudah selesai masak, Ma. Mama mau makan di luar atau Nadin bawakan ke sini?" tanya Nadin begitu sampai di samping Anita.


"Tolong bawakan ke sini saja, ya," ujar Garda karena Anita tidak kunjung menjawab.


Nadin mengangguk samar. Setelah itu dia segera berbalik untuk menyiapkan makanan Anita. Helaan napas lelah keluar dari mulut Nadin. Pagi ini terasa sangat melelahkan untuk dia. Bahkan pekerjaannya pun belum kunjung selesai sejak tadi.


...


"Saya mau bicara sama kamu," ujar Garda begitu memasuki kamar.


Nadin yang sedang sibuk menyetrika baju itu mendongak. "Sebentar, ya," ujar Nadin. Wanita itu segera mematikan sterika dan sedikit merapikan beberapa baju agar tidak terlihat berantakan.


Garda bersandar di sandaran sofa dengan pandangan lurus. "Saya anggap masalah kita sudah selesai," ujar Garda dengan nada dingin.


"Mas sudah enggak marah, kan?" tanya Nadin menuntut.


Garda menghela napas pelan. Kepalanya menoleh ke arah Nadin. Mengadukan tatapan tajamnya dengan mata bening Nadin. "Kamu tahu rasanya kecewa?" tanya Garda yang langsung dibalas anggukan kecil istrinya. "Saya sangat kecewa dengan keputusan sepihak kamu. Jelas saya sangat marah sama kamu Nadin. Rasanya tidak terima kamu melakukan hal itu tanpa sepengetahuan saya," terang Garda.


Nadin menunduk dengan kedua tangan yang saling bertautan. "Maafin aku, ya, Mas," ujar Nadin penuh sesal. "Aku benar-benar bingung dan takut. Cuma hal itu yang bisa aku jadikan solusi saat itu," jelas Nadin.


Garda sudah mencoba memahami dari sudut pandang Nadin sejak beberapa hari setelah dia mengetahui bahwa Nadin mengkonsumsi pil KB. Pria itu sedikit tersadarkan bahwa Nadin tidak sepenuhnya bersalah. Garda sendiri yang terlalu menuntut tanpa memastikan kesiapan Nadin.


"Saya maafkan kamu," balas Garda tenang. "Tapi saya tidak mau kamu mengulangi itu lagi," tegas Garda.


Nadin mengangguk degan mantap. "Aku gak akan minum pil KB lagi," ujar Nadin dengan sungguh-sungguh. "Aku udah buang semua yang aku punya."


"Janji sama saya," kata Garda menantang.

__ADS_1


Nadin terdiam sejenak. Ada keraguan yang belum sepenuhnya hilang. Namun, Nadin tidak ingin hubungannya dan Garda merenggang. "Aku janji gak akan menunda untuk hamil lagi," cicit Nadin.


Ditatapnya wajah tampan Garda yang menyejukkan mata. "Mas Dana juga janji akan selalu sama aku, kan?" tanya Nadin untuk meyakinkan keraguannya.


"Asal kamu mengikuti apa yang saya katakan," ujar Garda. "Saya tidak suka kalau kamu membangkang."


Nadin tersenyum mendengar itu. Dia cukup jadi seorang istri yang penurut. Lagi pula tidak ada susahnya jika hanya menuruti ucapan Garda. Asal Nadin bisa terus bersama pria itu.


"Berarti kita baikan?" tanya Nadin dengan mata berbinar.


Garda tersenyum tipis dengan anggukan kecil. Hal itu langsung mengundang sorakan bahagia Nadin. Tanpa pikir panjang didekapnya tubuh Garda yang sangat ia rindukan.


"Ada satu lagi yang mau saya bicarakan," kata Garda membuat Nadin mendongak.


"Apa, Mas?" tanya Nadin.


Garda terlihat berpikir dulu sebelum mengatakan satu hal tersebut. Kedua tangannya sejak tadi juga masih menganggur. Belum tergerak untuk membalas dekapan istrinya.


"Kita akan tinggal di sini," ujar Garda akhirnya.


"Kita 'kan memang sudah di sini," balas Nadin.


"Bukan untuk sementara seperti yang dulu saya katakan," terang Garda dengan pelan. "Tapi untuk sekarang dan seterusnya."


Nadin mengerjabkan matanya dengan perasaan bimbang. "Kita menetap di sini?" tanya Nadin memastikan. Tubuhnya langsung menjauh hingga dekapannya terlepas.


Anggukan dari Garda menjadi jawaban dari pertanyaan Nadin. Wajah bimbang dan resah Nadin langsung dapat ditangkap Garda. "Kamu keberatan?" tanya Garda.


"Mama sangat membutuhkan saya di sini. Jadi mau tidak mau saya harus tinggal di sini," jelas Garda. "Kalau kamu keberatan kamu bisa tinggal--"


"Aku enggak keberatan kok," sela Nadin cepat. "Aku enggak masalah tinggal di manapun asal sama Mas Dana," imbuh Nadin.


Garda menatap dalam mata bening istrinya. Mencoba mencari kesungguhan dari apa yang wanita itu katakan. "Terimakasih sudah mau memahami saya," ujar Garda dengan senyim tipisnya.


Nadin mengangguk dengan bibir yang melengkung indah. Diusapnya wajah Garda yang terlihat letih akhir-akhir ini. "Pasti berat banget, ya, Mas ada di posisi ini," ujar Nadin.


Garda langsung menarik Nadin ke dalam dekapannya. Menumpukan kepalanya di pundak Nadin. "Saya sangat butuh bantuan kamu," lirih Garda.

__ADS_1


"Aku akan selalu ada buat suami aku," balas Nadin.


__ADS_2