
"Tolong kupaskan ini. Kalau sudah antar ke kamar Sela, ya, Nad," ujar Anita sambil meletakkan beberapa macam buah di hadapan Nadin.
Nadin yang sedang menyiapkan bahan masakan untuk makan malam itu mendongak menatap ibu mertuanya. "Mama habis belanja?" tanya Nadin menatap beberapa kantung plastik yang di bawa Anita.
Anita mengangguk sambil mengeluarkan apa saja yang dia bawa. "Anak Mama lagi hamil. Jadi dia butuh banyak makanan," jelas Anita dengan senyum tipis di wajahnya. "Kalau kamu hamil Mama juga akan memperlakukan kamu seperti ini," ungkap Anita.
Nadin memilih menyingkirkan beberapa bahan masakan di hadapannya. Meraih plastik berisi buah lalu beranjak untuk mencucinya.
"Kapan kamu akan hamil, Nad?" tanya Anita membuat langkah Nadin terhenti.
"Nadin juga gak tahu, Ma," balas Nadin dengan lemas. "Nadin dan Mas Dana selalu berusaha."
"Kata Garda kalian sedang program hamil?" tanya Anita.
Nadin mengangguk membenarkan. Sekarang Nadin sudah rajin mengkonsumsi makanan sehat dan susu untuk program hamil. Nadin juga sama sekali tidak mengkonsumsi makanan dari luar. Wanita itu benar-benar serius dengan usahanya kali ini.
"Kalau kamu gak segera hamil mending kamu periksa, Nad. Siapa tahu ada yang salah sama kamu," ucap Anita santai. Wanita paruh baya itu langsung pergi begitu saja. Kedua tangannya membawa aneka makanan yang dia belikan untuk putri tersayangnya.
Nadin menatap meja makan yang berserakan dengan belanjaan Anita tadi. Embusan napas lelah Nadin ke luarkan. Pekerjaannya akan bertambah untuk hari ini.
Belum sempat Nadin melanjutkan aktivitasnya suara ponsel yang dia letakkan di meja terdengar. Wanita itu buru-buru meraih ponselnya. Siapa tahu ada panggilan penting dari seseorang.
"Ada apa, Mas?" tanya Nadin dengan nada dingin begitu menjawab panggilan itu.
"Kamu lagi apa, Dek?" tanya Dikta dari seberang sana.
"Mau bicara apa? Aku masih banyak urusan," ujar Nadin menghindar dari sesi basa-basi yang dibuat Dikta.
__ADS_1
Terdengar suara kekehan ringan dari Dikta. Pria itu sudah hafal dengan sifat Nadin yang akan berubah jadi dingin jika berhadapan dengan dia. "Kata Umma kamu sekarang tinggal di rumah keluarganya Garda, Dek?"
"Iya, kenapa?" tanya Nadin langsung.
"Umma bilang sama Kakak. Kamu gak pernah main ke rumah Umma semenjak tinggal di sana," ujar Dikta dengan pelan.
"Memangnya aku harus ke sana?" tanya Nadin santai.
"Setidaknya kamu sesekali berkunjung ke rumah orang tua kamu. Lagian 'kan jarak rumahnya juga deket, Dek," ujar Dikta masih dengan suara tenang dan pelan. "Umma pasti kangen sama kamu. Makanya Umma bilang gitu sama Kakak," imbuh Dikta.
"Kenapa gak bilang langsung sama aku aja?" tanya Nadin. "Kalau Umma beneran kangen sama aku Umma bisa langsung ke sini."
"Mungkin Umma masih ada rasa sungkan sama Bu Anita," balas Dikta. "Setahu Kakak Bu Anita pernah marah-marah, kan, sama Umma?"
Nadin teremenung mendengar ucapan Dikta. Dia jadi mengingat apa yang pernah Halimah sampaikan dulu. Bahwa Anita sempat marah-marah pada wanita itu.
"Iya, Dek. Umma sempat cerita sama Kakak," jawab Dikta seadanya.
Nadin terkekeh ringan dengan wajah sinis. "Hubungan kalian dekat banget, ya, sampai Umma bisa cerita banyak hal sama kamu," ungkap Nadin dengan hampa.
"Dek," sela Dikta pelan.
Nadin langsung menutup panggilan begitu saja. Nadin memilih kembali mealakukan aktivitasnya untuk melupakan sedikit rasa sesaknya.
...
"Wajah kamu pucat sekali," ujar Garda dengan suara yang terdengar tenang.
__ADS_1
Nadin yang sedang membantu melepas kemeja suaminya mendongak. "Maaf, aku gak sempat dandan," balas Nadin.
Garda mengamati wajah Nadin yang kembali menunduk. Pria itu jelas merasakan perubahan istrinya. Nadin menjadi lebih pendiam sekarang.
"Maaf karena saya kurang memperhatikan kamu akhir-akhir ini," ujar Garda penuh sesal.
Nadin melipat asal kemeja Garda yang sudah berhasil di lepas. Didongakkan kepalanya hingga menatap Garda. Bibir menawan milik Nadin membentuk sebuah lengkungan manis. "Ada banyak hal yang harus Mas perhatikan. Tentunya jauh lebih penting dari aku," ucap Nadin.
"Kamu juga bagian penting di hidup saya," balas Garda. "Maaf 'kan sikap saya akhir-akhir ini. Saya sadar sudah terlaku buruk sama kamu."
Senyum manis Nadin masih terpampang indah. Wanita itu megusap pelan pipi tirus Garda. "Mas Dana gak salah. Aku juga harus semakin pintar memahami posisi Mas Dana sekarang," ungkap Nadin.
Garda mulai menarik Nadin ke dalam dekapannya. Tentu saja Nadin membalas dekapan itu dengan suka cita. "Maaf aku udah bersikap dingin sama Mas Dana," ucap Nadin sarat akan rasa sesal.
Diusapnya puncak kepala Nadin dengan pelan. Garda juga memberi beberapa kecupan singkat di kepala istrinya. "Awalnya saya pikir kamu benar-benar tidak bisa mendiamkan saya," kekeh Garda. Pria itu masih mengingat momen-momen manis mereka di awal pernikahan. Dimana Nadin berulang kali berbicara bahwa tidak bisa mendiamkan Garda.
Nadin ikut terkekeh ringan. "Ternyata ucapan gak semudah kenyataan, Mas," canda Nadin.
Garda mulai melepas dekapan mereka. Ditatapnya wajah cantik Nadin dalam. "Saya bersih-bersih dulu, ya. Setelah ini kita habiskan malam berdua," goda Garda dengan wajah berseri.
Nadin kembali dibuat terkekeh dengan ucapan Garda. Dibiarkannya suaminya itu berlalu menuju kamar mandi. Setelah tubuh Garda lenyap di balik pintu kamar mandi Nadin menunduk. Tangan kirinya yang awalnya mengenggam terbuka perlahan.
"Ini punya siapa?" gumam Nadin bingung.
Tanpa sengaja Nadin menemukan karet kuncir kecil dengan beberapa helai rambut yang tersangkut di antara ikat pinggang Garda. Diatatpnya benda itu lamat-lamat. Tentu saja benda ini bukan milik Nadin. Dirinya sama sekali tidak pernah menggunakan karet untuk menguncir rambutnya.
"Apa Mas Dana berbuat sesuatu di belakang aku," gumam Nadin lirih.
__ADS_1
"Tapi gak mungkin," elak Wanita itu cepat. "Bisa aja ini punya Mama atau Mbak Sela yang gak sengaja jatuh di sofa, kan?" Mengingat Garda tadi sempat beristirahat sebentar di sofa.