
"Mau coba gendong Gama?" Garda bertanya pada Nadin yang diam-diam berdiri di belakangnya.
Hari ini adalah hari minggu. Jadi Garda memilih menghabiskan waktu dengan Nadin dan Gama. Sebisa mungkin Garda juga selalu berusaha membuat Nadin menerima kehadiran Gama sebagai anak mereka.
"Nad, coba sini," panggil Garda. "Gama lagi senyum-senyum. Lucu sekali," ujar Garda dengan antusias. Pria itu sangat berharap Nadin mulai mau mengakrabkan diri dengan Gama.
Nadin berjalan ragu mendekati Garda. Didudukkannya badan kurusnya di samping Garda dan Gama. Wajah tampan dengan hidung mancung Gama menjadi pemandangan Nadin.
"Lucu sekali, kan, dia?" tanya Garda. Nadin mengangguk dengan senyum tipis. Diusapnya pipi tembam Gama yang menggemaskan.
"Muka Gama bener-bener kayak bule, ya, Mas," kekeh Nadin. Dirinya masih dibuat kagum dengan wajah tampan bayi itu. "Bapaknya pasti ganteng, ya, Mas Dana?" tanya Nadin.
Garda melirik Nadin sinis. "Buat apa ganteng kalau gak bertanggung jawab," sarkas Garda. "Mending kayak saya aja. Biasa-biasa saja tapi jelas tanggung jawabnya," ujar Garda jumawa.
"Kata siapa?" tanya Nadin tampak tidak terima.
"Kamu meragukan tanggung jawab saya?" tanya Garda tidak terima. Mata tajamnya langsung menghunus Nadin.
"Kata siapa suami aku biasa-biasa aja," ujar Nadin enteng. "Orang ganteng banget ini," lanjutnya sambil tertawa ringan.
"Bisa aja kamu ini," ujar Garda sok cuek. Pria itu kini pura-pura fokus pada Gama di pangkuannya."Kamu mau dipanggil apa sama anak kita?" tanya Garda mencoba mengalihkan perhatian.
"Mas," tegur Nadin. Tidak nyaman dengan panggilan Garda untuk Gama.
__ADS_1
"Kenapa? Sekarang Gama memang anak kita, Nad," ujar Garda tegas. "Kamu harus bisa menerima Gama apapun alasannya," ujar Garda lebih tegas lagi.
Nadin menghela napas pelan. Ditatapnya wajah Garda yang mulai mengeras karena serius. "Mas Dana," rengek Nadin.
"Apa?" Garda menatap Nadin menuntut. "Mau kamu menolak pun Gama akan tetap jadi anak kita," tegas Garda lagi.
Nadin tampak diam mendengar ucapan Garda. Benar kata Garda. Mau sekeras apapun usaha Nadin untuk menolak, keputusan suaminya tidak akan pernah berubah.
"Nanti malam kita ke rumah Abah danUmma."
"Ngapain?" sambar Nadin cepat.
"Kita gak bisa terus-terusan menyembunyikan Gama, Nadin," ucap Garda yang perlahan mulai melembut. "Setelah ini kita adakan aqiqah untuk Gama. Sekaligus mengumumkan kehadiran anggota baru keluarga kita."
Namun, sayang sekali gelengan dari Garda membuat harapan itu pupus. "Tolong jangan egois, Nadin," pinta Garda penuh harap.
Nadin sedikit terperangah dengan ucapan suaminya itu. "Egois?" gumam Nadin sangat lirih. Sampai Garda sendiri tidak bisa mendengar apa yang Nadin lontarkan.
Wanita itu tersenyum amat tipis. Bingung di mana letak egois yang Garda katakan. Lagi pula siapa yang benar-benar egois di sini?
"Ekhem!" Nadin menatap pada Garda dengan sempurna setelah mendengar suara pria itu.
"Saya pengen ke toilet, Nad. Titip Gama sebentar, ya," pinta Garda.
__ADS_1
Sebelum mendapat jawaban dari Nadin Garda sudah memberikan Gama pada istrinya. Dengan kaku dan rasa canggung yang mendominasi. Nadin menerima Gama dengan berat hati.
"Jangan lama-lama, Mas Dana," ujar Nadin ketika Garda mulai berlari kecil meninggalkan mereka.
Dengan wajah tegangnya Nadin menunduk menatap Gama. Ada desiran hangat yang menyapa hatinya. Celotehan Gama dan lengkung tipis milik bayi itu serasa menyihir Nadin.
"Mbak Sela apa gak nyesel udah jahat sama Gama?" tanya Nadin pelan. Mengingat penolakan Sela pada bayi ini membuat Nadin kasihan. Apalagi Gama yang terpkasa harus diberi susu formula karena Sela yang menolak memberi ASI.
Sebagai seornag wanita tentu saja Nadin merasa kasihan. Apalagi wajah lugu Gama yang terlihat menggemaskan. Perlahan hati Nadin menghangat seiring degan wajah Gama yang selalu dia pandang.
"Sebenarnya kamu lucu," gumam Nadin pada bayi itu. "Kasihan banget orang tua kandung kamu gak mau sama kamu," ujar Nadin iba.
Gama tampak mengulum senyum pada Nadin. Mata bening Nadin jadi berair kala mendapat senyum tulus itu. "Yaudah, aku mau jadi ibu kamu," putus Nadin dengan suara tertahan.
Ditatapnya mata mungil itu yang tampak berseri-seri. "Tapi janji jagan nakal, ya," ancam Nadin tajam.
Dibalik tembok Garda menyaksikan kegiatan Nadin. Bibir menawannya mengulum senyum lega. Dengan semangat kaki jenjangnya kembali mendekati Nadin.
"Saya lama gak, Nad?" tanya Garda sebagai permulaan. Pria itu pura-pura terkejut melihat mata berkaca-kaca Nadin. "Loh! Kamu kenapa nangis, Nad?" tanya Garda.
"Gak papa," elak Nadin canggung. "Ini ambil Gamanya," pinta Nadin.
"Gak mau gendong lagi?" tanya Garda meggoda.
__ADS_1
"Aku mau masak," jawab Nadin dengan wajah memerah.