Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Pengakuan Garda


__ADS_3

"Maaf," lirih Garda sebelum memulai inti dari pembicaraannya. "Maaf karena saya sudah mencoba membawa orang lain masuk ke dalam rumah kita."


Nadin terdiam untuk beberapa saat. Dirinya mencoba memahami kalimat tabu yang Garda lontarkan. Wanita itu perlahan menghela napas panjang.


"Mas Dana selingkuh?" tuding Nadin dengan wajah yang menatap Garda tajam.


Diberi pertanyaan seperti itu membuat Garda semakin gugup. Untuk kesekian kalinya Garda mengulum bibirnya.


"Mas berhubungan lagi sama mantan sepuluh tahun kamu itu?" tuding Nadin semakin terdengar tidak suka.


"Saya tidak bisa bilang kalau ini selingkuh," ujar Garda dengan ragu. "Tapi saya mengakui perbuatan saya salah," lanjutnya dengan nada menyesal.


Sebelum membalas ucapan Garda Nadin lebih dulu menepis tangan suaminya yang mencoba mengenggam kedua tangannya. "Terus ngapain kalau gak selingkuh?"


Lagi dan lagi. Garda kesulitan menjelaskan apa yang ingin dia sampaikan. Ternyata berhadapan dengan Nadin dalam versi cemburu dan marah bisa membuat Garda ketakutan.


"Boleh saya ceritakan dari awal saja agar lebih jelas?" tanya Garda meminta izin.


Tatapan sinis serta merta Nadin layankan. Dengan gerakan malas wanita itu bersandar pada sandaran sofa lalu melipat tangannya di dada. Wajahnya lurus, enggan menatap Garda barang sedikitpun.


Sementara Garda malah dibuat kalang kabut dengan tingkah Nadin. Pria itu menatap sendu wajah istrinya. "Tapi jangan marah sama saya, ya?" bujuk Garda sebelum mulai bercerita.


"Tergantung," jawab Nadin acuh.


Garda menghela napas pelan. Pria itu mulai berancang-ancang menjelaskan apa yang terjadi secara runtut.


"Seperti yang saya bicarakan tadi. Saya dan Hana pernah berpacaran hampir sepuluh tahun," ujar Garda memulai ceritanya.


"Gak usah diomongin lagi kalik," sinis Nadin.


"Iya maaf," balas Garda dengan ringisan kecil.


"Dulu kami berdua sudah hampir menikah," ujar Garda. Pria itu menatap Nadin yang meliriknya degan sinis. "Tapi gagal karena Mama tidak memberi restu," lanjut Garda menjelaskan.


"Berarti Mas Dana masih sayang banget dong sama mantan sepuluh tahun itu. Secara aja putusnya karena terhalang restu," ujar Nadin meluapkan kekesakannya.


"Tidak kok," elak Garda. "Saya hanya menyayangi kamu saja."


Dalam diamnya sebenarnya Nadin berusaha menahan untuk tidak tersenyum. Meski dalam mode merajuk pun wanita itu tetap bisa salah tingkah.


"Seperti yang kamu tahu, Nad. Mama selalu menginginkan segala sesuatu yang sempurna," ujar Garda menyambung ceritanya. "Mama tidak memberi restu karena menurut beliau keluarga Hana tidak sepadan dengan keluarga kita," jelas Garda.


Nadin mulai sedikit tertarik dengan cerita Garda. Wanita itu mulai sedikit memiringkan kepalanya untuk lebih jelas mendengar yang Garda ucapkan.

__ADS_1


"Terus Mas gak lakukan apapun?" tanya Nadin dengan nada datar.


Garda menggeleng tegas. "Mama adalah orang yang sangat-sangat keras kepala. Apapun yang dia katakan harus dipatuhi," ujar Garda dengan sedikit sendu. "Bisa dibilang Mama yang memegang kemudi dalam kehidupan anak-anaknya. Jadi, mau tidak mau kita harus mengikuti kemana kemudi itu di arahkan."


Garda mulai menatap Nadin meski tidak dibalas. "Sulit untuk tidak menuruti ucapan beliau," ujar Garda. "Itu juga alasan saya sangat berharap dengan kehamilan kamu, Nad. Saya takut Mama memisahkan kita karena keinginannya tidak segera terwujud."


Otomatis Nadin memiringkan kepalanya dengan sempurna sampai menghadap Garda. Pria itu masih terus menatap Nadin sejak tadi. "Makanya waktu saya tahu kamu minum pil KB saya sangat marah. Saya tahu betul bagaimana jalan pikiran Mama. Saya takut beliau kembali menghalangi saya."


"Kalau seandainya Mama meminta Mas Dana untuk lepasin aku karena gak bisa hamil Mas mau?" tanya Nadin. Wanita itu menatap Garda dengan raut seriusnya.


"Kita akan terus berusaha--"


"Mau atau tidak, Mas. Jangan beri alasan lain dulu," sela Nadin.


Garda menghela napas berat. Pria itu balas menatap Nadin dengan raut sendu. "Saya gak tahu, Nad. Sulit bagi saya untuk menolak permintaan Mama. Dari dulu saya selalu melakukan apa yang Mama perintahkan," terang Garda.


"Itu artinya kalau suatu saat Mama minta kita berpisah. Mas Dana bersedia lepasin aku?" tanya Nadin lagi. Garda menggeleng tegas menimpali pertanyaan Nadin.


"Kenapa? Berpisah sama perempuan yang udah nemenin kamu sepuluh tahun aja bisa. Masa kamu gak mau lepasin aku yang baru kamu temuin satu tahun."


"Nad ... jangan begitu," protes Garda yang hampir terdengar seperti rengekan.


Untuk ke sekian kalinya Nadin menghela napas kasar. "Dari sekian banyak kelebihan yang ada sama Mas Dana ada satu yang paling aku gak suka," tutur Nadin.


Garda merenung memikirkan ucapan Nadin. Apa yang istrinya katakan tidak ada yang salah barang sedikitpun. "Maafkan saya," ujar Garda penuh rasa sesal.


"Aku mau istirahat dulu," ujar Nadin sambil beranjak dari duduknya. Rasanya kepala dan hatinya terlalu panas untuk melanjutkan percakapan ini.


"Jangan sekarang," cegah Garda. Tangan kekarnya mencekal tangan Nadin agar tidak menjauh. "Saya belum selesai bercerita."


"Kapan-kapan aja, Mas," jawab Nadin.


"Sekarang saja, Nad," balas Garda dengan tatapan memohon.


"Yaudah cepat," ujar Nadin. Wanita itu sedang dalam suasana hati yang tidak baik. Mendegar semua yang diucapkan Garda membuat hatinya membara.


"Saya mulai, ya," ujar Garda meminta persetujuan. Suara deheman kecil dari Nadin membuat Garda kembali membuka mulut.


"Beberapa hari setelah saya bertemu dengan Hana di rumah sakit. Tiba-tiba Hana menghubungi saya." Ucapan Garda tergenti seiring dengan tatapan sinis Nadin.


"Dia bilang kalau habis dipecat dari pekerjaannya karena sudah tidak masuk kerja beberapa hari," lanjut Garda.


"Terus ngapain dia ngadu sama, Mas?"

__ADS_1


"Dia minta pekerjaan sama saya," jawab Garda lirih.


"Terus Mas kasih?!"


Garda mengangguk kecil. "Saya merasa bersalah dan juga kasihan, Nad. Makanya saya tawarkan dia bekerja di rumah makan menjadi kasir, dan dia mau."


Wajah Nadin sudah tidak bisa dikondisikan. Wanita itu meirik Garda dengan tatapan sinis dan wajah merah. "Terus?"


"Terus dia mencoba mendekati saya," jawab Garda jujur. Matanya menatap Nadin dengan ragu. Bersiap-siap dengan respon dari istrinya.


"Terus Mas respon, ya!?" tanya Nadin sedikit menyentak. Anggukan dari Garda kembali Nadin tangkap. Saat itu juga tangan kurus Nadin tidak segan memukul dada Garda meski sangat pelan. "Mas Dana!" teriak Nadin saking sebalnya.


"Maafkan saya," ujar Garda sambil berusaha meraih kedua tangan kurus Nadin.


"Pasti yang telepon terus Mas Dana bicara aku-kamu sama dia, ya?" tuding Nadin.


"Maaf, Nad," ujar Garda lagi.


"Bilang sama aku Mas Dana udah ngapain aja sama dia!?"


"Tidak lebih dari saya yang sering merespon dia," jawab Garda. Tatapan tidak percaya dari Nadin membuat Garda menelan ludah dengan pelan. "Saya sering menerima bekal peberian dia, Nad," aku Garda meski dalam hatinya terus merapalkan doa agar Nadin tidak semakin marah.


"Apa lagi!?"


"Mengantar dia pulang."


"Lalu!?"


"Makan siang bersama."


"Terus!?"


"Sudah, kok," jawab Garda dengan cengiran kecilnya.


"Yakin!?"


Anggukan Garda menjawab pertanyaan menyudutkan dari Nadin. "Saya tidak melakukan hal macam-macam dengan dia. Saya cuma sebatas merespon dia saja."


Nadin mengalihkan wajahnya dengan sombong. Merasa malas berhadapan dengan Garda lagi. "Saya sadar kalau yang saya lakukan salah. Saya juga gak mau kamu tahu masalah ini dari orang lain, makanya saya memberanikan diri untuk menceritakan ini ke kamu. Maaf karena sudah menyakiti kamu Nadin. Saya janji tidak akan berbuat seperti itu lagi."


"Sekarang dia masih kerja di rumah makan?"


"Saya sudah membergentikan dia, Nad," jawab Garda jujur.

__ADS_1


Untuk terakhir kalinya Nadin menatap Garda dengan wajah serius. "Kalau sekiranya kamu udah gak mau sama aku lagi lepasin aku. Aku sudah banyak merasa dikecewakan. Jangan buat aku gak percaya sama kamu."


__ADS_2