
"Nadin apa kabar?"
"Baik."
"Kamu yakin dia baik-baik aja?"
Garda langsung memiringkan kepalanya dengan sempurna. Menghadap lawan bicaranya dengan tatapan penuh tanya "Gimana maksud kamu?"
Nabila tersenyum sekilas. Wanita itu mengaduk minumannya dengan pelan. Siang ini dirinya tidak sengaja bertemu dengan Garda dan suaminya di sebuah restoran. Kebetukan Rivan sekarang sedang menuntaskan hajatnya ke kamar mandi. Jadi Nabila mempunyai waktu untuk berbincang dengan Garda.
"Terakhir kali saya bertemu sama Nadin dia sedang tidak baik-baik saja," jawab Nabila tanpa menatap wajah Garda.
"Kamu bertemu dengan istri saya?" tanya Garda memastikan. "Kapan?
"Belum terlalu lama," jawab Nabila. "Dulu kamu minta saya buat bantu memyembuhkan Nadin. Tapi ... gimana dia mau sembuh kalau pemeran utamanya malah turut andil nyakitin dia."
"Maksud kamu gimana?" tanya Garda lagi. Merasa tidak bisa mencerna ucapan Nabila yang tidak langsung menjurus pada intinya.
"Nadin banyak berbagi cerita dengan saya," ucap Nabila tanpa mau menjawab pertanyaan Garda.
"Tentang apa?" tanya Garda lagi.
"Menurut kamu?" Nabila melirik Garda yang terlihat bingung. Meski wajahnya masih sama terlihat datar.
"Bisa langsung jawab saja pertanyaan saya," kata Garda datar.
Nabila terkekeh ringan. Wanita itu mulai menegakkan badannya. "Laki-laki memang tidak pernah peka," cela wanita itu santai.
Wanita dengan celana kulot dan kemeja formal itu menatap Garda dengan wajah serius. "Sebenarnya saya tidak akan pernah mau mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Tapi karena saya sangat menyayangi Nadin sebagai adik saya. Terpaksa saya harus ikut turun tangan."
"Bisa langsung bicara saja?" tuntut Garda.
Senyuman tipis kembali Nabila layangkan. Kini kedua netra manusia itu saling beradu. "Nadin sangat tertekan dengan perlakuan ibu kamu," ujar Nabila dengan gamblang.
Garda mengerjabkan matanya beberapa kali. Tidak terlalu terkejut dengan informasi ini. Namun, tetap saja ada sebuah rasa aneh di hatinya mengetahui bahwa istrinya benar-benar tertekan dengan prilaku ibunya.
"Kamu sadar tapi kamu mencoba menutup mata," ternag Nabila dengan yakin. "Benar?"
__ADS_1
Garda terdiam kaku mendengar apa yang Nabila ucapkan. "Lalu apa lagi yang Nadin ceritakan?"
"Apa kamu tahu Garda, kamu satu-satunya alasan Nadin bertahan sampai detik ini." Nabila menatap Garda sejenak. Mencoba memahami Garda lewat raut wajahnya. "Dia benar-benar sudah merasa dikecewakan dan tidak bisa percaya dengan orang lain. Kamu satu-satunya yang Nadin punya."
"Saya tahu," jawab Garda apa adanya. Nadin sendiri kerap sekali mengungkapkan hal tersebut.
"Itu salah satu alasan Nadin menuruti semua permintaan kamu. Termasuk menjadi orang tua angkat dari anak dari adik kamu," ujar Nabila dengan nada yang terdengar tenang. "Saya yakin kamu sendiri tahu seberat apa Nadin menerima keputusan itu. Tapi, lagi-lagi kamu tutup mata."
Dari kejauhan Nabila dapat melihat Rivan yang mulai mendekat. Wanita itu kembali melirik Garda yang masih terlihat diam. "Ibu kamu akan terus menekan Nadin. Di sini cuma kamu yang bisa bantu Nadin, Gar. Nadin akan sangat terluka jika kembali merasa tertekan."
"Cukup selalu ada untuk dia. Bantu dia menghadapi tekanan dan ketakutannya. Jangan sampai istri kamu sakit lagi, Gar. Kasihan Nadin."
...
"Ini anak siapa?" tanya Halimah yang sedang menggendong Gama.
Sore ini Nadin dan Garda berkunjung ke rumah orang tua Nadin. Karena jaraknya yang cukup dekat mereka memutuskan untuk jalan kaki.
Nadin menatap Garda dengan alis mengerut Mencoba memberi kode agar pria itu yang menjawab. Karena tingkat kepekannya sedang sangat baik. Garda langsung mejawab pertanyaan mertuanya.
"Seperti yang dulu kami sampaikan Umma. Gama anak yang kami adopsi dari panti asuhan. Jadi ... untuk siapa orang tua Gama kami kurang tahu. Pihak panti asuhan juga tidak memberi kami kejelasan."
Sementara Nadin menghela napas lega. Untung saja tatanan kata yang dia dan Garda pikirkan sejak di rumah tadi dapat diungkapkan Garda tanpa kesalahan.
Halimah mengangguk saja mendengar penjelaskan Garda. Wanita itu memperhatikan wajah Gama dan Garda lekat-lekat. "Kok bibir Gama mirip sekali dengan bibir kamu, Nak?" tanya Halimah.
Sepasang suami istri itu saling tatap lagi. Heran kenapa Halimah bisa menyadari hal tersebut. Jika, diperhatikan secara detail memang bibir anak dan ayah itu sangat mirip. Jelas saja karena bibir Sela dan Garda sendiri sama persis.
"Kebetulan Umma. Mungkin memang kami sudah berjodoh," jawab Garda lugas.
Dari belakang terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Bersamaan dengan sosok Abraham yang datang dari arah taman. Pria itu menghampiri tiga orang di ruang tamu dengan langkah tegapnya.
"Sehat, Bah?" tanya Garda sambil berdiri menyalami ayah mertuanya. Meski terasa berat Nadin tetap mengikuti gerakan Garda.
"Alhamdulillah," balas Abraham seadanya. Pria itu terlihat membawa sebuah keranjang berisi beberapa buah tomat, terong, cabai, dan aneka sayuran lain. Sepertinya ayah Nadin itu baru selesai memanen hasil kebunnya.
"Siapa namanya?" tanya Abraham sambil menatap Gama yang berada di gendongan istrinya.
__ADS_1
"Gama Abah," jawab Nadin setelah Garda menginjak kakinya. Memberi kode agar Nadin yang berbicara. Pasalnya sejak tadi Nadin hanya diam saja.
"Gama siapa?' tanya Abraham lagi.
"Kairi Gamaliel Raespati, Bah," jawab Halimah sambil mendongak menatap suaminya. "Mau gendong gak?"
"Baju abah kotor. Kapan-kapan saja," jawab pria paruh baya itu.
Abraham duduk di sebelah Nadin yang kosong. Badan Nadin yang semula lemas berubah menjadi kaku. Merasakan jelas rasa canggung berdekatan dengan ayahnya sendiri.
"Nanti kamu bawa sayurannya, ya, Nak. Kalau kurang Abah petikkan lagi," ucap Abraham sambil menunjukkan keranjang berisi banyak sayuran itu.
"Iya," jawab Nadin singkat.
"Siapa yang merawat Gama?" tanya Abraham sambil menatap Nadin dan Garda bergantian.
"Nadin, Bah," jawab Garda cepat. "Nadin cepat sekali belajar merawat Gama. Sekarang Nadin bisa merawat Gama sendirian," jawab Garda dengan senyuman bangga di wajahnya.
"Kamu bantu tidak, Nak?" tanya Halimah.
Garda menatap Nadin. "Saya bantu sebisanya Umma. Kebanyakan hanya menggantikan Nadin saja. Gama sekarang sangat dekat dengan ibunya, susah diajak orang lain kalau tidak sedang tidur."
Nadin menatap Garda dengan mata yang memancarkan keceriaan. Pria itu sangat berusaha menempatkan Nadin di tempat yang aman.
"Bagus kalau begitu," ujar Abraham. "Memang seharusnya Nadin dan Garda yang merawat Gama sepenuhnya. Ini pilihan kalian, jadi ini tanggung jawab kalian."
Mereka berempat lanjut bercerita banyak hal. Sedangkan Gama masih asyik terlelap. Garda terus memperhatikan interaksi Nadin dan kedua orang tuanya. Memang terlihat agak canggung. Namun Garda perhatikan Umma dan Abah sangat berusaha dekat dengan Nadin. Semantara Nadin selalu bersikap kaku.
"Boleh Umma sedikit mencampuri urusan kalian?" tanya Umma dengan nada yang pelan.
"Silahkan Umma," jawab Garda.
"Umma dan Abah pikir lebih baik kalian menunda mempunyai momongan lebih dulu," ujar Halimah yang diangguki Abraham. "Maksud Umma bukan bagaimana. Tapi ... kalian masih mempunyai Gama sebagai tanggungan. Nanti takutnya Gama tidak mendapat kasih sayang secara maksimal kalau punya adik.''
Setelahnya Halimah kembali menatap Garda dan Nadin bergantian. "Usia Nadia juga masih cukup muda. Umma dan Abah takut ada hal yang tidak diinginkan terjadi," imbuh Anita.
"Maafkan Umma Nadin. Dulu sempat meminta kamu untuk cepat hamil. Itu semata-mata karena Umma merasa tidak terima setelah Bu Anita marah-marah dengan Umma," terang Halimah dengan suara yang mulai bergetar. Wanita itu terlihat menengadah menahan sesuatu yang hendak keluar.
__ADS_1
Untuk beberapa saat Halimah mengamati wajah cantik Nadin. Wajah yang terlihat mirip dengan Abraham. "Maafkan Umma dan Abah, ya, Nak," ujar Halimah tiba-tiba. Beriringan dengan air mata yang mulai meluncur.
Nadin mengerjabkan matanya bingung. "Umma kenapa? Cuma masalah dulu Umma minta Nadin cepat hamil, kan? Nadin gak papa. Kenapa Umma nangis?"