DENDAM CINTA SANG CASANOVA

DENDAM CINTA SANG CASANOVA
AKU KAN HANYA INGIN MENJENGUK ANAKKU!


__ADS_3

Tak terasa, ketiga mobil yang melaju beriringan itu telah tiba di komplek Cisalak dan berhenti tepat di pinggir jalan yang tidak jauh dari kediaman Nek Lai.


Di rumah Nek Lai pun sudah banyak tetangga yang menunggu untuk menyambut keluarga Frans.


Frans turun lebih dulu dari dalam mobilnya, di susul oleh Jonathan, lalu Bu Aida, Pras serta Dinda. Kelima orang itu pun melangkah bersama dengan buah tangan di tangan mereka masing-masing. Khusus Frans, pemuda itu membawa bucket bunga mawarnya dan juga kotak perhiasan yang sudah di bungkus dengan begitu cantiknya oleh Jonathan.


"Selamat pagi, dan selamat datang, Nyonya!" sapa para tetangga Nek Lai dengan begitu ramah setelah melihat tampilan Bu Aida yang begitu sopan.


Itulah warga komplek Cisalak, mereka adalah orang-orang baik yang juga begitu menghargai niat baik seseorang. Apalagi, kemarin sebagian dari mereka sudah melihat keadaan Frans yang tidak berkutik saat di beri pelajaran oleh Anton. Bahkan pemuda itu pasrah meskipun harus di bunuh dan di habisi di tempat itu.


"Selamat pagi!" Bu Aida. "Tolong jangan panggil saya dengan sebutan Nyonya, nama saya Aida." Bu Aida memperkenalkan dirinya, wanita berhijab syar'i itu merasa tidak nyaman di panggil dengan sebutan Nyonya.


"Minggir.. Tolong menepi!" usir Frans pada sekumpulan orang-orang yang berada di depan pintu rumah Nek Lai. "Menghalangi langkahku saja." gerutu pemuda itu dengan kesal.


Ia begitu tidak perduli dengan bekas luka dan lebam di wajahnya. Yang ia perduli kan saat ini adalah Daily dan juga anaknya yang di kandung wanita.


"Frans!" tegur Bu Aida.


"Bu, Frans ingin menemui Lily. Bukankah kami akan menikah?" bisik Frans pada ibunya.


"Tunggu dulu, jangan sembarangan dan bikin malu," balas Bu Aida pada putranya yang seperti tidak memiliki akal itu.


Tanpa mendengarkan ibunya, Frans langsung masuk ke dalam rumah itu lebih dulu. Meninggalkan semua orang, termasuk keluarganya sendiri.


"Nek, dimana Lily?" tanya Frans pada Nek Lai yang duduk di atas ambal yang di bentangkan di lantai rumah itu.


"Dia belum bangun," jawab Nek Lai.


"Oh!" Frans hanya ber-OH saja dan segera melangkah menuju kamar Daily berada.


"Mau kemana kau bocah tengil?" tegur Nek Lai.


"Memberikan cintaku pada Lily, nek!" sahut Frans yang sudah berdiri di depan pintu kamar.

__ADS_1


Melihat tingkah Frans, Nek Lai dan beberapa tetua komplek itu hanya geleng-geleng kepala.


Frans pun melangkah masuk ke dalam kamar Daily dengan perlahan. Pemuda itu tersenyum saat melihat Daily yang tidur meringkuk dengan tubuh terbungkus selimut tebal dan hanya memperlihatkan pucuk kepalanya saja.


Pria itu mendaratkan bokongnya di sudut ranjang kamar Daily. Di bukanya perlahan selimut yang membungkus tubuh wanitanya itu, wanita yang sedang mengandung benihnya.


Tampak, Daily menggeliat kecil saat merasakan pergerakan di sampingnya. Gadis yang mengandung 6 bulan itu mengejapkan matanya dengan perlahan.


Mimpi kah dirinya? Kenapa di depan wajahnya itu terdapat bunga mawar yang begitu wangi. Dengan perlahan, ia menyentuh bunga mawar itu dan melepaskan kelopak bunga mawar itu dan menciumnya.


"Mimpikah aku? Tapi rasanya indak mimpi, ini nyata."


"Selamat pagi calon istriku.." Frans melompat naik ke atas ranjang itu tanpa melepaskan sepatu yang melekat di kakinya.


"Tu-tu-tuan! Kenapa masuk kemari? To-to-tolong jangan paksa Ai lagi," ucap Daily. Gadis itu ketakutan karena merasa terkejut dengan kehadiran Frans yang tiba-tiba. Buru-buru Daily menarik kembali selimut yang sebelumnya di singkirkan oleh Frans untuk menutup tubuhnya.


"Aku kan calon suami kamu, aku masuk cuman mau kasih bunga mawar ini," jawab Frans. "Lagi pula, aku gak akan pernah paksa kamu lagi. Apa lagi disini yang banyak banget orang." tambah Frans sembari tersenyum kecil.


Daily terdiam, gadis itu menatap wajah Frans yang sudah bebas dari jambang halus dan rambut gondrong nya. Hanya saja, wajah tampan itu belum terbebas dari yang namanya lebam biru pukulan yang di berikan Anton kemarin.


"Bagus," jawab Daily.


"Wangi gak?" tanya Frans lagi.


"Wangi," jawab Daily lagi.


"Boleh gak aku usap bayi kita?" lagi-lagi Frans bertanya pada gadis yang telah ia lecehkan hingga mengandung itu.


"Boleh," jawab gadis itu.


"Yes!" setelah mendapatkan izin dari Daily, Frans langsung menarik kembali selimut yang menutup tubuh Daily dan membuang selimut itu ke lantai.


"Apa gak boleh di buka sedikit aja bajunya?" tawar Frans pada Daily. Pasalnya, Daily memakai piyama tidur potongan. Dan Frans ingin menyentuh permukaan kulit perut Daily agar ia bisa merasakan pergerakan anaknya.

__ADS_1


"Jangan!" timbal Daily dengan mata yang menatap lurus ke depan.


"Boleh, ya? Sebentar saja, cuman usap sebentar. 2 menit gak lebih!" tawar serta bujuk Frans.


Bukannya menjawab, Daily malah bangkit dan pergi menuju kamar mandi.


"Aku ikut, ya?!" Frans mengikuti langkah Daily. Tapi sesaat kemudian, ia di buat terkejut oleh Daily yang menutup pintu kamar mandi itu dengan kasar.


Brak!


"Astaga! Apa Lily marah?" Frans mengusap dadanya.


Jika di dalam kamar itu Frans sedang sibuk mendekatkan diri pada Daily, lain lagi halnya dengan Jonathan yang berada di ruang tengah rumah itu.


Tampak, Jonathan sedang duduk di samping Dinda. Pemuda itu terus-terusan memperhatikan Daisy yang duduk di sebelah Nek Lai dengan gaun brukat di bawah lutut berwarna merah jambu yang di kenakan gadis itu.


"Kata Frans, gadis itu sedang hamil. Tapi mana? nyatanya perutnya rata." batin Jonathan. "Jika benar hamil, pastilah perutnya sudah seperti kecebong hanyut di sungai. Buncit kan?" herannya. Sayang sekali, kata-kata itu hanya mampu di ucapkan Jonathan dalam hati.


"Tolong panggilkan Frans!" Pras memberi isyarat pada Daisy yang terus di perhatikan oleh Jonathan.


Daisy tersenyum pada Pras dan segera bangkit dari duduknya. Gadis bolong itu pergi menuju kamar adiknya yang ada di sudut ruang tengah rumah itu.


"Busyet, katanya ingin menikah dengan Frans tapi senyuman maut itu ia lemparkan pada Pras." lagi-lagi Jonathan membatin.


Daisy dan Daily, memang kerap kali tertukar. Tapi jika di perhatikan dengan asat, tubuh Daily sedikit lebih kurus dan pendek dari Daisy. Tubuh Daily pula cukup lemah jika di bandingkan dengan kakaknya. Itulah pula salah satu alasan kenapa Daily di larang bekerja dan keluar rumah sendirian.


Setelah di panggil oleh Daisy, Frans pun keluar dari dalam kamar Daily dengan bibir cemberut. Tampaknya pemuda itu begitu kesal karena sulit mendekati Daily. Wanitanya itu selalu saja bersikap datar padanya.


"Duduk mantap-mantap! Nanti juga datang saatnya kau berdua dengan Daily!" tegas Pras pada adiknya yang sudah seperti buaya kurang makan itu.


"Iya-iya, aku tadi kan hanya ingin mengunjungi anakku, itu saja!" perkataan ambigu itu membuat Bu Aida dan Pras mendelik pada Frans. "Jangan melolot, maksudku ingin mengusap anakku yang ada di dalam kandungan Lily." ralat Frans dengan pelan.


"Duduk!" perintah Bu Aida pada putranya itu.

__ADS_1


Sungguh, Bu Aida begitu malu dengan tingkah Frans. Persis sekali dengan mendiang suaminya yang tengil, tapi meskipun tengil ASLAN ayah dari Pras, Frans dan Dinda adalah pria baik-baik, tidak seperti Frans saat ini. Makanya heran, dari mana sifat dan sikap buruk yang ada pada Frans itu berasal.


__ADS_2