
Kini, Daily telah tinggal di kediaman Bu Aida. Yaitu tempat tinggal Frans, Dinda dan Pras pula.
Sebenarnya Frans sudah mengajak Daily pindah ke apartemen. Tapi sepertinya Daily masih begitu takut pada Frans yang pernah menyakitinya.
"Sayang.." panggil Frans pada Daily yang duduk di tepian ranjang kamar Frans. Berulang kali Frans memanggil istrinya dengan sebutan sayang. Tapi tampaknya Daily tidak suka dan tidak mau mendengar kata sayang itu.
"Lily.." panggil Frans bernada jengkel.
"Ya, Tuan!" sahut Daily.
"Oh Tuhan! Aku suamimu, Lily. Bukan majikan!" kesal Frans sembari berguling-guling di atas ranjang kamar itu.
"Jam berapa?" tanya Daily tanpa mempedulikan aksi Frans.
"Jam 19:02," jawab Frans.
Mendengar kata jam 19:02, Daily pun turun dengan begitu hati-hati dari atas ranjang. Perempuan hamil itu berjalan pelan menuju kamar mandi.
"Mau apa, sayang?" tanya Frans pada istrinya.
"Mau ambil air wudhu!" timbal Daily.
Mendengar kata wudhu, Frans pun berpura-pura cuek. Tetapi setelah Daily memasuki kamar mandi, pria itu pun mengintip apa yang di lakukan oleh Daily dan bagaimana cara ber wudhu.
Benarkah pria itu tidak bisa berwudhu? Atau ia lupa bagaimana caranya karena sudah terlalu lama jauh dari ajaran-NYA? Dan selalu dekat dengan kemaksiatan.
"Dia benar-benar berwudhu?" guman Frans. Melihat Daily yang telah selesai, Frans pun segera kembali dan melompat ke atas ranjang. Tepat pada posisinya sebelumnya.
__ADS_1
"Tuan, bisa tolong Ai ambil mukena," pinta Daily. "Tadi Ai taruh di dalam tas, tapi sekarang indak ada." ungkap Daily pada suaminya.
"Gak bisa!" dengan cuek Frans mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. "Panggil aku sayang, dan berhenti memanggil Tuan!" pinta Frans.
Daily menatap Frans dengan begitu intens. Tetapi tidak lama, sesat kemudian perempuan hamil itu melangkah ke arah pintu dan keluar dari kamar.
Frans yang masih berada di dalam kamar, hanya bisa melongo. Benar-benar tidak sudi kah? Istrinya itu memanggilnya dengan sebutan SAYANG? Sampai memilih keluar dari kamar dari pada menyebut kata sayang.
"SUAMI YANG TAK DI INGINKAN. Cocok betul untuk julukan seorang Frans saat ini," guman Frans sembari turun dari atas ranjang itu dan menyusul Daily yang keluar dari kamar.
Di luar kamar itu, Daily mencari di mana kamat Bu Aida. Daily pun pergi menuju ruangan yang paling ujung, ia pikir kamar itu adalah kamar Bu Aida.
Tok.. Tok..
"Bu.." panggil Daily sembari mengetuk pintu kamar itu. "Boleh indak kalau Ai pinjam mukenah sebentar!" perempuan hamil itu mengeraskan suaranya.
"Maaf, Tuan. Ai kira kamar ibu," Daily menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap Pras yang sudah menjadi kakak iparnya itu.
"Kamar ibu ada di sebelah kamar mu dan Frans," kata Pras. "Ayo aku antarkan!" Pras pun berjalan mendahului Daily.
Tok.. Tok..
"Bu, ini Daily mencari ibu," kata Pras sembari mengetuk pintu kamar ibunya.
"Ada apa? Kenapa Lily mencari ibu?" tanya Bu Aida sembari tersenyum pada anak menantunya.
"Ai ingin pinjam mukena, mukena Ai indak tau di letakan dimana sama Tuan Frans," adu Daily.
__ADS_1
"Gawat!" Frans yang baru saja keluar dari kamar itu hendak masuk kembali dan menghindari omelan abang serta ibunya.
"Frans!" panggil Bu Aida pada putranya yang hendak kabur.
"Ibu.." balas Frans dengan wajah meringis. Pemuda itu mendekat pada Ibu, abang serta istrinya.
"Dimana mukena Lily?" tanya Bu Aida.
"Ada, sudah Frans susun di lemari. Di samping lipatan pakaian Frans," jawab Frans dengan jujur.
"Lalu kenapa? Lily mau shalat tapi tidak punya mukena?" tanya Bu Aida lagi.
"Tadi Lily minta ambilkan mukenanya, tapi Frans tidak mau sebelum dia merubah panggilan Tuan menjadi sayang. Ehh.. Bukannya menjawab, dia malah pergi keluar." jelas pemuda itu.
"Ingat Frans, kau tidak boleh berhubungan badan dengan Lily dulu sebelum anak kalian lahir dan ijab kembali!" Pras mengingatkan adiknya itu untuk tidak menyetubuhi Lily sebelum bayi yang di kandung Lily lahir.
"Busyet! Lama betul, 3 bulan lagi baru lahir cebongnya, bang!"
"Bukan 3 bulan, tapi 5 bulan!" jelas Bu Aida. Hingga membuat Frans menjadi lemas seketika.
"Kayaknya, mendingan Kak Lily tidur sama Dinda aja deh, bu, bang!" tiba-tiba Dinda yang baru saja keluar kamar menyahuti obrolan itu.
"Jangan! Pokoknya gak boleh, biar Lily tidur di kamar kami aja," kata Frans. "Ayo, katanya tadi mau shalat!" ajak Frans pada istrinya.
"Awas, Frans!" Bu Aida memperingati.
"Iya, udah tau. Gak akan kalau Frans gak khilaf lagi kayak pas bikin waktu itu!" cetus Frans sembari mendorong tubuh Daily agar kembali ke kamar mereka.
__ADS_1
Pras dan Bu Aida hanya geleng-geleng kepala. Kelakuan Frans memang sungguh keterlaluan.