DENDAM CINTA SANG CASANOVA

DENDAM CINTA SANG CASANOVA
FRANS BUKAN PRAS!


__ADS_3

Cukup lama menunggu, hingga pada akhirnya salah satu tetua komplek itu bertanya pada Nek Lai.


"Lai, dimana kedua cucumu? Kapan Daily akan bangun dan keluar kamar?" tanya tetua itu pada Nek Lai.


"Dia sedang mandi tadi, Kek!" sahut Frans dengan cepat.


"Frans!" tegur Bu Aida.


Astaga, sungguh putra Bu Aida dan mendiang Pak Aslan yang satu itu sungguh tidak punya malu. Sudah selalu berpikiran kotor, mesum, pemabuk, dan juga ceplas-ceplos tidak punya malu.


"Benar, tadi dia pergi menuju kamar mandi. Frans ingin ikut, tapi dia menutup pintu kamar mandi itu dengan cepat, bu." bisik Frans dengan begitu pelan pada ibunya.


"Diam!" kesal Bu Aida.


Frans pun akhirnya, dari pada dimarahi oleh orang se komplek Cisalak itu.


"Biar aku panggilkan dulu, Kak. Barangkali Daily sedang di bantu Daisy bersiap," kata Nek Lai pada tetua yang ia panggil dengan sebutan kakak itu.


Nek Lai pun bangkit dari duduknya dan pergi menyusul kedua cucunya yang berada di kamar. Tak lama kemudian, Nek Lai kembali bersama Daily dan juga Daisy.


"Waw! Frans, apakah yang berbaju merah jambu itu pela cur yang sering berada di club malam itu?" tanya Jonathan pada Frans tampa sadar dimana mereka berada saat ini.


"Benar, dia pela cur yang menganggap kita adalah pemuda miskin. Dan karena dialah aku sampai membuat Lily menjadi seperti kecebong," kedua pemuda gila itu terus berbisik-bisik sembari memperhatikan Daily dan Daisy yang berjalan mendekat pada tetua komplek Cisalak.


"Frans, Joe!" tegur Pras pada adik dan sahabat adiknya itu.


"Cantik kan Lily-ku?" Frans meminta pendapat dari Jonathan.


"Cantik, tapi tadi kau bilang dia seperti kecebong?"


Plak.. Plak..


Pras yang kesal dan juga malu, akhirnya menampar kepala Frans dan Jonathan di hadapan banyak orang. Pria itu begitu malu dengan tingkah kedua pemuda itu, kelakuan mereka benar-benar seperti orang yang kurang waras. Laki-laki tapi suka berGHIBAH.


"Auhh.." rintih Frans. "Kalau menyuruh diam, jangan main tangan kenapa?" protes Frans. Sedangkan Jonathan sudah menundukkan kepalanya. Pemuda itu begitu takut terjadi pada Pras yang galak.


"Diam!" geram Pras. "Atau kau urus saja pernikahan ini sendirian!"


"Iya, bang. Ampun!" Frans akhirnya diam, dan duduk dengan tenang. Ancaman abangnya itu sepertinya tidak kaleng-kaleng.

__ADS_1


Acara rembukan pernikahan itu di mulai. Tetua komplek itu pun menanyai Daily dan juga Frans.


"Bagaimana, Ai? Apakah Ai benar-benar siap dan mau menikah dengan Nak Frans?" tanya tetua itu pada Daily.


"Insyaallah, Ai siap dan mau menerima pernikahan ini, Kek." jawab Daily.


Semua orang bahagia setelah mendengar jawaban kebersediaan Daily. Tetapi ada satu orang yang sepertinya tidak ikhlas dengan perkataan Daily. Dialah Anton, pemuda itu merasakan sakit pada hatinya. Nyatanya Daily benar-benar tidak dapat dimiliki olehnya, cinta Daily tidak dapat di raih dan di genggamnya.


Kenyataan pahit harus di terima oleh Anton, nyatanya perjuangannya selama ini hanya sia-sia. Daily tidak pernah menganggapnya spesial dan lebih dari seorang kakak. Ia akui, bahwa Daily memang baik padanya tapi berulang kali ia menyatakan cintanya, berulang kali pula Daily menolaknya.


"Semoga kebahagian itu nyata untukmu, Ai. Aku bahagia jika kau dapat bahagia dengan pilihan hatimu." batin Anton.


"Bagaimana dengan Nak Pras? Apakah bersedia menerima Daily dengan baik dan berjanji tidak akan menyakiti Daily?" tanya tetua itu.


"Kakek Tua salah menyebutkan nama!" protes Frans. "Lihatlah ibu, dia menyebutkan nama abang. Harusnya ganti saja juru bicaranya!" Frans begitu tidak terima nama Pras di sebut dalam hubungannya dengan Daily.


"Frans! Hanya salah nama saja, tenanglah," kata Bu Aida.


"Ulang lagi, Kek. Frans tidak mau menjawab jika masih salah menyebutkan nama," kata Frans dengan wajah sebal.


"Maaf, Kakek ulangi lagi," kata tetua itu sembari mengulum senyum. Jujur saja, pria tua renta itu bingung mana yang Frans dan mana yang Pras.


"Nak Frans, apakah bersedia menerima Daily dengan sepenuh hati, jiwa dan raga? Dan berjanji akan berbuat baik serta tidak menyakiti Daily?"


Mendengar jawaban Frans, semua orang hanya bisa melongo. Waras kah calon suami Daily?


"Pernikahan apa? Hari pernikahan kalian saja belum di tetapkan," kata Pras pada adiknya.


"Kenapa begitu, bang? Bukankah semuanya sudah clear? Daily sudah bersedia, aku pun sudah siap!"


"Tidak semudah itu, Frans. Masih banyak yang harus di urus. Kau pikir pernikahan adalah sebuah permainan atau sejenis tahu bulat yang di goreng dadakan!" timbal Jonathan kepada sahabat sekaligus bosnya itu.


"Kalian semua tidak seru, aku pikir kami akan menikah hari ini juga," ucap Frans bernada lemas. Sepertinya pemuda itu sedikit kecewa dengan keputusan pernikahannya dengan Daily.


Nek Lai, Tetua, dan Bu Aida serta Pras akhirnya berembuk. Ke empat orang itu pun memutuskan bahwa pernikahan Daily dan Frans akan di langsung kan tiga hari lagi.


Tidak ada pesta di acara pernikahan itu, sudah di tetapkan jika Frans dan Daily akan di nikah kan saja. Jika ingin menggelar acara resepsi, mereka harus menunggu bayi yang di kandung Daily di lahirkan dan setelah mereka menggelar acara ijab qobul ulang.


Setelah ke empat orang itu selesai berembuk, barulah tetua itu menyampaikannya pada seluruh tetangga Nek Lai yang hadir. Terutama pada Daily dan juga Frans.

__ADS_1


"Setelah kami musyawarah kan, pernikahan Daily dan Nak Pras akan di langsung-"


"Kakek salah lagi, Frans bukan Pras!" protes Frans hingga membuat warga komplek itu mengulum senyum.


Kenapa pria komedi dan konyol seperti Frans bisa menjadi seorang pemerkosa? Kenapa pemuda aneh seperti itu bisa menjadi pelaku penc*bulan? Melihat tingkah dan kelakuannya saja warga komplek itu sudah tidak yakin dengan semua perbuatan bejat yang di lakukan oleh Frans.


Tanpa di ketahui oleh seluruh warga komplek yang hadir termasuk Bu Aida sendiri selaku ibu dari Frans, bahwa Frans adalah manusia yang memiliki ke pribadian ganda yang mudah sekali berubah-ubah seperti bunglon.


"Kakek ulangi lagi," kata tetua itu. "Setelah kami rembukkan, pernikahan Frans dan Daily akan di langsungkan tiga hari lagi. Tepatnya pada hari minggu jam 9 pagi di rumah ini!"


"Nah, gitu kan enak," kata Frans. "Salah terus, lama-kelamaan bisa salah juga yang menikah. Malah jadi Bang Pras dan Daisy yang menikah!" cetus Frans hingga membuat mata Daisy dan Pras mendelik lebar padanya.


.


.


.


"Berhubung acara penetapan pernikahan Frans dan Daily sudah di tetapkan. Silahkan Uwak, Mamang, Bibi dan semuanya. Silahkan du nikmati hidangan yang sudah kami sajikan!" Nek Lai mempersilahkan para tetangganya yang hadir untuk menikmati semua hidangan yang telah ia siapkan. Bahkan sebagian dari makanan itu adalah pesanan Daisy di toko dan warung makan terdekat.


Di saat semua orang sedang sibuk, Frans pun mendekati Daily.


"Mau makan?" tawar Frans pada calon istrinya yang sudah ia buat mengadung lebih dulu.


"Ai indak pengen makan, Ai pengen minum," jawab Daily.


"Mau minum apa?" tanya Frans.


"Minum air jeruk asam yang ada di belakang rumah," jawab Daily lagi.


"Jeruk? Di belakang mana? Ayo, biar aku ambilkan dan buatkan," kata Frans dengan begitu semangat.


Pemuda itu pun bangkit dari duduknya bersama dengan Daily. Mereka pun segera pergi belakang rumah.


"Mau kemana, Ai?" tanya Daisy pada adiknya.


"Mau meminta Tuan Frans ambilkan Ai jeruk asam di belakang," jawab Daily.


"Jangan Tuan, panggil aja SAYANG kan kita akan menikah," kata Frans. Tapi Daily hanya menggeleng pelan. "Ayolah.. Ayolah panggil sayang, sayangku.. Begitu!"

__ADS_1


"Ai indak mau!" timbal Daily dengan suara yang agak tinggi hingga membuat Frans terkesiap.


Dulu saat Frans membawa Daily ke apartemennya untuk di lecehkan, gadis itu begitu lembut tapi kenapa sekarang jadi galak? Mungkinkah karena hormon kehamilan?


__ADS_2