DENDAM CINTA SANG CASANOVA

DENDAM CINTA SANG CASANOVA
INDAK BOLEH PERGI!


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Frans mendapatkan kabar dari Jonathan bahwa perusahaan anak cabang NC GRUP mendapatkan masalah. Dan harus di tangani langsung oleh Frans sendiri selalu pimpinan perusahaan yang baru bergerak dua tahun terakhir di beberapa Kota yang ada di dalam Negeri.


"Bu, Bang, Frans titipkan Lily pada kalian. Frans berjanji akan menyelesaikan pekerjaan Frans di sana dengan cepat," kata Frans pada Bu Aida dan juga Pras.


"Pamit dulu baik-baik pada istrimu, Frans. Siapa tahu dia tidak ingin di tinggal dan juga tidak mengizinkan dirimu pergi," ucap Bu Aida pada anak tebgahnya itu. "Apalagi, kalian kan belum lama menikah." tambah wanita yang selalu mengenakan hijab syar'i sebagai penutup kepalanya.


"Iya, Bu. Ini Frans juga mau pamit pada Lily," kata Frans.


"Jika dia tidak mengizinkan atau tidak rela, maka kau harus mengalah untuk tidak pergi. Atau kau ajak saja dia ke sana," kata Pras kepada adiknya.


"Frans coba dulu, Bang. Semoga dia tidak marah dan mengizinkan Frans ke Kota tetangga," Frans pun segera pergi menuju lantai atas dan masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar itu, Daily sedang bersenandung sambil melipat pakaian Frans.


"Sayang.." Panggil Frans pada istrinya.


"Iya!" Daily menoleh ke arah pintu


Kini sikap Daily sudah mulai hangat pada Frans, meskipun terkadang kerap berbicara kasar dan ketus.


"Ayah ada pekerjaan di luar Kota beberapa hari," ucap Frans sembari naik ke atas ranjang dan memeluk perut buncit istrinya.


"Lalu?" tanya Daily.

__ADS_1


"Kan ayah pamit, kenapa malah bertanya LALU?" Frans mengangkat baju hamil yang di pakai oleh Daily dan menempelkan hidungnya pada perut istrinya itu.


"Ya sudah, sana berangkat," Daily menjawab dengan cuek.


"Kalau gitu, bunda jaga kesehatan ya. Kalau butuh apa-apa, bunda bisa minta tolong sama Bang Pras, Dinda dan juga Ibu," ucap Frans. Pria itu tersenyum manis pada istrinya. "Kalau gitu, ayah berkemas dulu!" Frans segera bangkit dari posisinya dan turun dari atas ranjang. Pemuda itu segera menurunkan koper pakaian dari atas lemari dan mengisinya dengan beberapa setel pakaiannya.


"Indak mau, ayahmu indak boleh kemana-mana tanpa kita," batin Daily tidak senang.


"Ayah berangkat sekarang ya, bunda jaga kesehatan. Ayah janji akan selesaikan semuanya dengan cepat, agar kita bisa berkumpul lagi," Kata Frans, pria itu kembali menciumi perut istrinya.


Setelah puas menciumi perut buncit Daily, pria itu beralih pada wajah istrinya.


"Boleh cium?" tanya Frans, Daily pun mengangguk pelan.


"Ayah berangkat ya, nanti kalau ada apa-apa bilang sama Bang Pras dan Ibu," kata Frans. Pria itu melepaskan pelukannya dan menarik kopernya keluar dari kamar.


Baru saja pemuda itu bejalan beberapa langkah, bahkan belum sampai di ambang pintu. Daily sudah menangis.


"Kenapa indak ajak Ai? Apa pergi keluar Kota untuk cari perempuan lain yang bisa puaskan? Sementara Ai indak bisa?" tuduhan yang di layangkan Daily membuat Frans berbalik dan kembali melangkah mendekati istrinya.


"Sayang, kamu marah?" Frans menangkup wajah istrinya yang sudah di basahi oleh air mata. "Ayah kerja, seriusan. Tolong jangan berpikir macam-macam." pinta Frans dengan tatapan memohon.


"Ai indak percaya," ucap Daily. "Banyak sekali perempuan di luaran sana yang sudah pernah tidur dengan ayah. Pokoknya Ai indak ingin di tinggal!" wanita hamil itu memukuli tubuh suaminya dengan begitu brutal. Ia selalu saja curiga pada pria cabul yang kini sudah menjadi suaminya itu, sulit sekali untuknya percaya pada perkataan yang keluar dari bibir Frans.

__ADS_1


"Ayah bersumpah, tidak ada niat sedikitpun untuk berbohong dan mencari perempuan lain. Hanya bunda satu-satunya perempuan yang ada di hati ayah, sekarang sudah ada kamu dan anak kita," ucap Frans yang mencoba meyakinkan istrinya.


Di saat Frans sedang sibuk membujuk istrinya, Ponsel yang ada di dalam saku span-nya berdering. Pria itu segera merogoh saku celananya dan melihat si penelpon.


"[Hallo, Frans. Kenapa lama sekali?]" pertanyaan di lontar kan Jonathan yang ada di seberang telpon.


"[Istriku tidak ingin di tinggalkan,]" kata Frans.


"[Kenapa?]"


"[Dia takut aku bermain gila dengan perempuan lain,]" jawab Frans sembari melirik istrinya yang menangis sesenggukan di sampingnya.


"[Dia mencintaimu, Frans. Kau bujuk saja dulu, jika memang tidak ingin di tinggal. Kau bawa saja dia,]" kata Jonathan. "[Jika sudah siap, hubungi aku.]" setelah berbicara demikian, Jonathan pun memutuskan sambungan telpon itu.


Frans menjadi bingung, bagaimana cara meyakinkan istrinya agar mau dan bisa percaya padanya.


.


.


.


Sembari nunggu update, mampir yuk di karya Kakak Online Neng yang ada di bawah ini!

__ADS_1



__ADS_2