
"Ibu ndak setuju, Danu." Seorang wanita yang usianya kisaran 38 tahun sedang berbicara pada putranya dengan wajah memerah.
"Bu, keputusan Danu udah bulat. Jauh-jauh Danu jemput Mbak Almira di pelabuhan, bahkan udah setahun lebih Danu menunggu saat ini tiba." Pemuda yang bernama Danuarta itu mendesak ibunya untuk memberinya izin menikahi seorang janda yang dibawa pulang olehnya.
Ya, pemuda yang bernama Danuarta itu baru saja pulang dari menjemput kekasihnya yang berasal dari pulau seberang.
Sebelumnya, Danu pamit pada kedua orang tuanya untuk pergi mencari pekerjaan keluar kota. Nyatanya, dua hari kemudian dia kembali dengan membawa seorang wanita yang katanya sudah berstatus sebagai janda.
Wanita muda bertubuh mungil, kulitnya putih, matanya sipit, wajah berhias make tipis, rambut hasil smoting dan pirang di bagian ujungnya. Sungguh, begitu menarik perhatian warga desa tempat tinggal Danuarta.
"Pokoknya Ibu ndak setuju kamu menikahi perempuan itu," kata ibu dari Danuarta. Panggil saja dengan sebutan Bu Siti, agar lebih mudah disebut.
"Apa kata tetangga kita kalau mereka tau kamu yang perjaka dan masih muda ini menikahi seorang janda, ndak jelas juga asal usulnya."
"Bu, kalau ngomong jangan keras-keras. Ndak enak didengar sama Nduk Almira yang ada di depan," kata bapak dari Danuarta. Panggil saja pria 40 tahun itu dengan sebutan Pak Kamto.
"Alah, Bapak ini piye to? Dukung anak kita kawin sama janda?" Bu Siti menatap jengkel pada suaminya.
"Intinya begini, kalian setuju ataupun ndak setuju, Danu bakalan tetap menikahi Mbak Almira. Udah niat sekali Danu suruh dia ke sini, sampai sini kok disia-siakan. Ndak mungkin!"
Setelah berbicara pada kedua orang tuanya, Danu pergi menghampiri Almira, janda muda yang dia dapat dari pulau seberang. Pemuda berusia 19 tahun itu meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang berdebat di dapur rumah itu.
Di ruang tamu rumah itu, tepatnya di salah satu kursi yang terbuat dari kayu jati, Almira duduk dengan kepala tertunduk dan kedua jemari yang saling meremas satu sama lain.
"Mbak, kenapa?" tanya Danu pada Almira. Kekasih jandanya yang biasa dipanggil dengan sebutan MBAK olehnya.
"Danu, kamu antar aku cari penginapan aja ya, aku gak mau bikin orang tua kamu bertengkar." Almira mengangkat kepalanya dan berbicara pada Danu dengan pelan.
"Kenapa? Gak ada yang bertengkar kok, Mbak. Mereka lagi berembuk masalah pernikahan kita," kata Danu.
Pemuda itu terus-terusan tersenyum pada Almira yang memang begitu cantik, bahkan di kampungnya itu tidak ada yang dapat menandingi kecantikan Almira yang begitu luar biasa.
"Pernikahan?" Almira mengerutkan keningnya.
Menikah bagaimana? Pikir wanita itu. Bukankah dari tadi dia mendengar suara orang yang berdebat, bahkan menyebutkan kata JANDA di ucapan mereka.
"Ya, besok lusa aku akan mengawini Mbak Almira, biar kita bisa berduaan," jawab Danu. "Ndak tahan aku, kalau harus sun online terus, Mbak."
Danu mendaratkan bokongnya di samping Almira dan menggenggam jemari wanita itu yang berkeringat sejak tadi.
"Mbak mau kan jadi istriku?" Danu menatap wajah Almira dengan tatapan matanya yang asat.
"Ibumu gimana? Mbak denger tadi dia gak suka sama Mbak, dia malu karena statusku yang janda." Almira menatap balik wajah tampan berondong yang ada dihadapannya.
Wanita itu tidak menyangka, jika dia dapat bertemu langsung dengan pemuda yang selama ini sering bertegur sapa dengannya melalui media sosial. Bahkan, keduanya menjalin hubungan melalui media sosial itu dalam waktu yang sudah cukup lama.
"Ibu tuh gak marah kok, Mbak. Dia cuman kaget aja karena aku yang pamit kerja dan tiba-tiba pulang bawa cewek. Padahal selama ini aku tuh gak pernah pacaran atau pun ngenalin cewek ke dia," jawab Danu.
__ADS_1
Pemuda itu mencoba untuk meyakinkan Almira yang sudah benar-benar menjadi tambatan hatinya.
Beberapa saat kemudian, Pak Kamto dan Bu Siti keluar. Pasangan suami istri itu menghampiri Danu dan Almira yang duduk berdampingan di kursi kayu ruang tengah rumah itu.
"Gimana Pak? Jadi kan besok lusa?" Danu menatap wajah bapaknya dengan tatapan yang begitu penuh harap.
Dia ingin bapaknya itu menjawab dengan kata 'IYA' atas pertanyaan yang dia berikan.
Pak Kamto melirik istrinya yang menatap datar pada Almira. Lalu, pria itu menjawab pertanyaan yang lebih tepatnya sebagai permohonan dari putranya.
"Iya, besok lusa Bapak akan menikahkan kalian," jawab Pak Kamto.
Mendengar jawaban bapaknya, senyuman lebar langsung terbit di sudut bibir Danu. Begitu pula dengan Almira, tapi tidak dengan Bu Siti.
Wanita berdaster itu tampak tidak senang dengan perkataan suaminya yang memberikan izin pada anak sulungnya untuk menikahi seorang janda.
"Pak, kena-"
"Sudah lah Bu, Danu sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan," kata Pak Kamto.
Dengan cepat pria itu memotong perkataan istrinya agar tidak melukai perasaan Almira yang baru datang 1 setengah jam yang lalu ke rumah itu.
"Haih .., terserah kalian aja lah." Bu Siti yang jengkel itu mendaratkan bokongnya disalah satu kursi yang kosong dengan kasar.
"Bapak memang akan menikahkan kalian, tapi kalian jangan senang dulu," kata Pak Kamto.
"Kalian akan Bapak nikahkan secara siri, karena mengurus pernikahan antar kabupaten saja sulit, apalagi antar provinsi dan pulau begini? Semuanya butuh waktu."
"Nikah siri juga kan sekarang udah ada surat keterangannya kan, Pak? Jadi ndak masalah buat Danu, asal kami segera dinikahkan," kata Danu.
"Di pelet apa sama dia, Dan? Kok sampe ngebet begitu." Cetus Bu Siti pada Danu dihadapan Almira secara langsung.
Mendengar perkataan Bu Siti, Almira hanya bisa menundukkan kepalanya. Yang salah memang dirinya, dengan mudahnya dia mengiyakan permintaan Danu yang mengajaknya bertemu beberapa hari yang lalu.
Entah mimpi apa Almira, kali itu nekat untuk pergi. Padahal selama ini dia tidak pernah mau jika di ajak bertemu oleh siapapun, termasuk oleh Danu sendiri. Tapi kali ini, tepatnya 4 hari yang lalu. Hatinya tiba-tiba tergerak untuk menerima tawaran pemuda yang selama ini kerap menemaninya secara online.
"Bu, udah lah jangan bikin keruh keadaan," ucap Pak Kamto. "Dan, mending kamu suruh Almira istirahat. Sore nanti kamu ajak dia ke rumah Pak RT buat laporan kalau kamu bawa perempuan pulang, biar ndak jadi masalah."
"Njeh Pak," ucap Danu. "Ayo, istirahat di kamarku aja, Mbak. Biar aku yang bawa kopernya."
Almira mengangguk sembari tersenyum kecil, wanita yang berstatus sebagai janda itu mengikuti langkah Danu yang menarik koper pakaiannya memasuki rumah itu lebih dalam, yaitu menuju kamar Danu yang berada di sudut ruang tengah.
Mata Almira menelisik ke seluruh penjuru ruangan, dia menatap pajangan-pajangan yang tertempel di dinding rumah itu.
"Dan, kamu punya berapa saudara?" tanya Almira.
"Punya 3, Mbak. Dua cewek dan satu cowok," jawab Danu. "Adikku yang pertama itu cewek, masih kelas 2 SMP, yang satunya lagi cowok, masih kelas 5 SD dan yang bungsu ini usianya jauh dari si cowok. Yang bungsu cewek, usianya baru 5 tahun dan masih sekolah TK." Jelas Danu pada Almira.
__ADS_1
"Oh ... yang suka ngajak kamu ngobrol itu ya, kalau kita teleponan?" tanya Almira dan langsung diangguki kepala oleh Danu. "Sekarang mereka kemana?" tanya Almira lagi.
"Yang dua masih sekolah, Mbak. Yang bungsu udah pasti main sama teman-temannya." Danu menjawab.
Selanjutnya, pemuda itu membuka pintu kamarnya dan mengajak Almira untuk masuk.
"Ayo ... tapi maaf ya,Mbak. Ndak pakai ranjang kayak kamar Mbak di kota," ucap Danu. "Kamar Danu lesehan kayak warung green yang dekat simpangan, hehee!" Danu terkekeh.
"Mau pakai ranjang ataupun enggak, kan tetap sama aja, Dan. Asal ada tempat tidur," kata Almira. "Oiya, kamar mandinya di mana?" tanya Almira pada pemuda yang berdiri di sampingnya.
"Kamar mandinya ada di belakang, Mbak. Ndak ada kamar mandi di dalam kamar," jawab Danu. "Kamar mandinya di belakang dan cuman ada satu."
"Ooo .., ya udah deh, nanti aja mandinya. Nunggu sepi," ucap Almira sembari tersenyum.
Lalu, wanita yang katanya berstatus sebagai janda itu membuka bajunya dan meninggalkan tentopnya saja dan menggantung bajunya itu di gantungan baju milik Danu.
Danu yang melihat tubuh molek Almira itu langsung meneguk ludah. Ternyata tubuh Almira lebih cantik dari pada yang sering dia lihat melalui panggillan video selama ini.
Bukannya Almira ingin menjajakan tubuhnya pada Danu, akan tetapi memang begitu kebiasaannya selama ini. Memakai tentop dan hotpants saja jika di rumah.
"Kenapa Dan?" tanya Almira pada Danu yang bengong di posisinya.
"Danu baru pertama kali liat bentukan kayak gitu, Mbak. Selama ini belum pernah liat langsung," kata Danu. Tangannya menujuk pada bagian dada Almira yang sedikit menyembul.
"Maaf," ucap Almira.
Setelah mendengar perkataan Danu, buru-buru Almira mengambil pakaiannya dan hendak memakai kembali pakaian itu. Akan tetapi, dengan cepat Danu mencegahnya.
"Ndak usah dipakai, Mbak. Maksud Danu tadi, Danu suka liatnya," ucap Danu pada tambatan hatinya itu. "Yang penting Mbak ndak keluar dari kamar ini dengan pakaian begitu. Karena Danu ndak ingin tubuh Mbak Almira dilihat laki-laki lain, ndak ikhlas aku." Danu berbicara dengan tangan yang menyentuh kedua bahu Almira.
Almira tersenyum kecil, perkataan Danu antara real dan virtual tidak ada bedanya. Terkesan begitu cerewet dan posesif.
"Kalau gitu, aku istirahat dulu," ucap Almira.
"Danu temani ya, Mbak."
Tangan Danu yang sebelumnya berada di bahu Almira itu perlahan berpindah pada wajah, dia menyentuh wajah itu dengan jemarinya. Bahkan, Danu mengusap bibir merah muda Almira dengan lembut.
Perlahan, pemuda itu mendekatkan wajahnya pada wajah Almira dan memagut bibir janda yang menjadi tambatan hatinya itu dengan matanya yang terpejam.
"Mas Danu!"
Brak!
Bertepatan dengan menempelnya bibir keduanya, suara teriakan diiringi bantingan pintu itu membuat Danu dan Almira terperanjat kaget.
__ADS_1