
Saat sampai di rumah, Daily turun sendiri sendiri dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah lebih dulu. Meninggalkan Frans yang masih sibuk dengan barang belanjaannya.
"Sayang, jangan berlari!" tegur Frans pada istrinya. Tapi Daily sama sekali tidak mendengarkan suaminya.
Sepertinya Daily masih kesal pada suaminya dan dua perempuan berpakaian kurang bahan yang di temui oleh Daily.
Bleduk!
Kepala Daily yang tertunduk menghantam keras dada Pras.
"Auhh.." Daily memegangi kepalanya. Wanita hamil itu mendongakkan wajahnya pada Pras yang ia tabrak. "Abang, kenapa siang-siang ada di rumah?" tanya Daily pada kakak dari suaminya itu.
"Kalau siang abang biasa makan di rumah," jawab Pras. "Kamu habis menangis, apa Frans menyakiti kamu?" tanya Pras sembari menyentuh wajah Daily agar wanita hamil itu mau menatap wajahnya.
"Indak," jawab Daily dengan singkat.
"Katakan, kalau dia menyakiti Ai, biar abang yang beri dia pelajaran," kata Pras. Pria yang berstatus sebagai dokter itu begitu menyayangi Daily, sama seperti dirinya menyayangi Dinda- adik kandungnya.
"Jangan sentuh wajah istriku dan jangan peluk tubuhnya!" tegur Frans dengan tidak suka pada Abangnya.
"Kenapa? Perempuan yang berbaju kurang bahan itu saja boleh menyentuh ayah, kenapa aku di sentuh oleh abang sendiri indak boleh?" Daily menatap sengit pada suaminya hingga membuat Frans langsung menciut dan tidak berani lagi memarahi abangnya yang menangkup pipi istrinya dengan kedua tangan.
__ADS_1
"Mereka kan masa lalu. Hanya singgah, dan mama kan punya papa, selamanya," kata Frans dengan wajah memelas.
"Kalau begitu, Bang Pras adalah abang Ai. Dan ayah suaminya Ai, selamanya begitu. Jadi indak usah protes jika Ai memeluk lengan Bang Pras macam ini," kata Daily sembari memeluk lengan Pras di hadapan suaminya.
Kepala Pras serasa berdenyut karena keributan Frans dan Daily. Sepertinya pria itu begitu menyesal karena telah memilih pulang siang itu. Jika saja dia makan di rumah sakit, pastilah ia tidak akan di jadikan Daily perisai pelindungnya.
Sikap Daily benar-benar berubah. Padahal baru saja ia tinggal bersama dengan Frans dan yang lainnya, tapi ia sudah begitu galak. Berubah galak demi kebaikan memang perlu, agar pria seperti Frans tidak banyak tingkah dan seenaknya saja.
"Aihh.. Kenapa aku yang ZOMLO malah terlihat dengan drama rumah tangga seperti ini?!" batin Pras berteriak sedih.
"Mereka semua hanya masa lalu, percayalah di masa depan hanya ada kamu dan anak-anak kita," kata Frans dengan wajah sedihnya. Ia begitu bingung, bagaimana caranya menghadapi Daily yang pemarah. Apakah semua ini adalah bagian dari hukuman atas dosa-dosa yang telah di lakukannya?
"Ada apa ini, Frans, Ly?" tanya Bu Aida yang baru saja keluar dari arah dapur. Sepertinya wanita itu baru saja selesai menyiapkan makanan untuk makan siang.
"Kamu habis menangis, Ly?" tanya Bu Aida setelah melihat dan mengamati wajah Daily.
"Indak, Ai hanya flu saja kok, Bu." dusta Daily. Padahal ia memang benar-benar habis menangis. "Lihatlah!" Daily menghisap hidungnya hingga membuat Pras mengulum senyum dan menjadi gemas sekali pada Daily.
Jika Daily adalah Dinda, mungkin pria itu akan menggigit pipi wanita hamil itu dengan sedikit keras. Tapi sayang sekali, Daily adalah adik iparnya, jika ia menunjukan kegemasannya pada Daily. Apa kata Frans dan juga ibunya, bisa-bisa mereka semua menganggap jika dirinya malah menyukai Daily.
Padahal, Pras bukannya menyukai seperti pria pada wanita. Tetapi sebagai Abang dan Adiknya.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita makan siang," ajak Bu Aida pada anak-anaknya.
"Ai memang sudah lapar dari tadi," kata Daily. "Ingin makan di restoran saja, banyak sekali sampah yang berserakan." tambah wanita hamil itu.
Mendengar perkataan istrinya. Frans hanya bisa meringis. Sampah yang di maksud Daily pastilah pe lacur yang ada bertemu dengannya tadi.
"Jorok sekali restoran itu, membiarkan sampah berserakan," Pras menanggapi perkataan Daily. Pria itu sengaja, ia paham betul kemana arah pembicaraan Daily. Ia menanggapi karena ingin membuat Frans semakin kesal.
"Kalau Ai jadi pemilik restoran itu, sudah Ai pel itu sampah dengan detergen pembersih WC!" cetus Daily sembari menyusul Bu Aida yang sudah berjalan ke arah dapur.
"Haha! Rasakan power of emak-emak!" ledek Pras pada adiknya.
Frans hanya bisa menatap sebal pada abangnya tanpa bisa berbuat apa-apa.
.
.
.
Sembari nunggu up, mampir yuk di karya Kakak online Neng yang ada di bawah ini!
__ADS_1