
Di area dapur rumah itu, Frans sedang di buat heboh sendiri dengan istrinya.
"Ayo, anak Daddy ingin makan apa?" tawar Frans. "Biar Daddy siapkan!"
Mendengar perkataan Frans yang berubah-ubah, Daily mengulum senyum. Hingga membuat Frans menjadi bertanya padanya.
"Sayang, kenapa kamu tersenyum seperti itu? Apa yang sedang kamu bayangkan? Jangan sampai membayangkan pria lain, termasuk Bang Pras. Karena aku tidak akan rela," Frans mencecar istrinya itu dengan banyak pertanyaan.
"Indak, Ai hanya merasa lucu saja. Tadi di dalam kamar, Tuan bilang Papa anak kita. Kenapa sekarang jadi Daddy? Apa jangan-jangan nanti berubah menjadi Papi, Ayah atau paman? Hahaha!"
Tertawa, benarkah Daily tertawa lepas seperti yang di lihat dan di dengar Frans pagi itu? Hanya karena sebutan, Daily sampai tertawa lepas.
"Jangan tertawakan aku," kata Frans dengan bibir cemberut seperti anak kecil yang sedang merajuk. Pemuda itu pura-pura sebal, padahal di dalam hatinya begitu senang saat melihat tawa Daily untuk yang pertama kalinya.
"Hahaha! Kalau seperti ini Tuan terlihat menggemaskan, tidak seram seperti biasanya." Daily mencubit pipi suaminya dengan keras lantaran begitu gemas.
"Kalau aku gemas seperti ini terus apa kamu akan mencintai aku?" tanya Frans dengan cepat.
"Iya," jawab Daily tanpa sadar.
"Kalau begitu, mulai sekarang aku akan merubah karakterku agar kamu bisa dengan cepat mencintai aku, sayang." Frans menahan tangan Daily yang berada di kedua pipinya.
"Tuan tadi bertanya apa? Kenapa malah bilang seperti itu?" heran Daily. Wanita hamil itu menjadi bingung dengan semua perkataan suaminya.
"Kamu bilang, kamu mau mencintai aku kalau aku menggemaskan seperti ini," jawab Frans. "Sekarang lihat aku, sayang. Lihat keseriusanku padamu!" Frans meminta Daily untuk menatap wajahnya.
Dengan perasaan takut, Daily menatap wajah suaminya itu dengan intens.
__ADS_1
"Aku berjanji dan bersungguh-sungguh, bahwa aku akan mencintaimu dan anak kita. Serta tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, Daily. Tolong beri aku kesempatan." Frans menatap penuh harap, mata pemuda Casanova itu berkaca-kaca. Sepertinya ia begitu bersungguh-sungguh dengan semua perkataannya.
"Ai sudah beri Tuan kesempatan bersamaan dengan Ai yang setuju menikah dengan Tuan. Tapi untuk menerima semua ketakutan ini dan melupakannya, rasanya sangat sulit. Ai selalu teringat bayangan pada sore hari itu, dimana Tuan menyakiti Ai dan memaksa Ai dengan tidak berhati." Dada wanita hamil itu menjadi terasa sesak.
Nyatanya melupakan tidak semudah yang di bayangkan. Daily masih selalu teringat dengan kesakitan yang ia terima karena ulah Frans pada sore hari menjelang magrib 6 bulan yang lalu.
"Maafkan aku, tolong maafkan aku," ucap Frans sembari mencium punggung tangan Daily dengan begitu bertubi-tubi. "Lihat aku, hukum saja aku. Kalau perlu, penjarakan saja aku. Aku akan sangat senang menerimanya asalkan senyuman di wajahmu itu bisa kembali lagi seperti dulu." Frans menangis terisak.
Daily yang semakin tidak tega, akhirnya menarik kepala Frans dan menyandarkan kepala itu pada pangkuannya.
"Jangan menangis lagi, apa Tuan tidak malu?" Daily mengusap kepala suaminya dengan lembut. "Ai sedang berusaha untuk melawan ketakutan itu dan menerima segalanya. Mungkin benar kata Nenek, kalau semua ini adalah bagian dari takdir yang harus Ai terima dan jalanani."
.
.
.
"Mau ajak Ai kemana?" tanya Daily. "Ai indak suka keramaian." jelas wanita itu pada suaminya.
"Sekarang harus suka, apa kamu mau nanti setelah anak kita lahir dia akan menutup diri seperti kamu? Tidak kan!"
"Lagi lupa, untuk apa kita berbelanja? Kebutuhan Ai kan sudah terpenuhi dan tercukupi," kata Wanita itu. Ia begitu enggan dan juga takut berhubungan dan juga berinteraksi dengan orang luar.
Tak terasa, kini mobil yang di kendarai Frans sudah tiba di pusat perbelanjaan kota A. Pemuda itu pun menuntun istrinya keluar dari mobil dan memasuki pusat perbelanjaan itu.
"Ai takut.." lirih Daily.
__ADS_1
"Jangan takut, sayang. Ada aku bersamamu, tidak akan ada yang berani mengusik," kata Frans dengan yakin.
Maka, Daily pun terus memeluk lengan suaminya. Frans mengajak istrinya itu memasuki toko pakaian wanita dan memilihkan pakaian istrinya yang sedang.
"Hay Tuan Nicolas!" Sapa seorang wanita dengan tiba-tiba sembari mencolek wajah Frans.
"Jangan pernah sentuh wajahku dengan tangan kotormu!" bukannya menjawab sapaan wanita itu, Frans malah menepis tangannya dengan begitu kasar.
"Tuan.." lirih Daily yang bersembunyi di balik punggung Frans. Ia menjadi ketakutan setelah mendengar makian Frans pada wanita yang tidak di kenalnya.
"Jangan takut, Daddy tidak marah dengan Mommy," ucap Frans sembari tersenyum pada istrinya.
"Wah-wah.. Udah punya pawang rupanya, pantas sekali Tuan Nicolas menjadi semakin arogant dan juga sombong," kata Wanita itu sembari melangkah pergi. Terlihat jelas, bahwa wanita itu tidak menyukai Daily yang bersembunyi di balik punggung pria yang pernah membelinya dan memakai jasanya.
.
.
.
Sembari nunggu up, mampir yuk ke karya Kakak online Neng yang ada di bawah ini.
Penulis: Yayuk Triatmaja
Judul: CINTA PERTAMA Sang Mafia Psycopath
__ADS_1