DENDAM CINTA SANG CASANOVA

DENDAM CINTA SANG CASANOVA
SYUKURLAH! BERARTI TUAN FRANS TIDAK DENGAR!


__ADS_3

Setelah merasakan istrinya hangat, Frans segera keluar. Pria itu menghampiri Jonathan yang sibuk mengurus barang-barangnya dan Daily.


"Joe, biar aku yang membawa barang-barang itu ke kamarku dan Daily," kata Frans yang sudah berdiri di hadapan Jonathan.


"Syukurlah kau sadar diri untuk membawa semua barang-barang mu dan Daily yang begitu banyak ini!" Jonathan segera menarik koper pakaiannya dan meninggalkan koper pakaian Frans dan Daily di ruang depan Apartemen itu.


Frans segera mengambil koper pakaian dirinya dan istrinya. Pemuda itu pun menyeret koper pakaian menuju kamarnya dan Daily.


Dengan sabar, seorang mantan Casanova menyusun pakaian istrinya di dalam lemari pakaian.


Setelah selesai, ia naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping istrinya yang masih terlelap. Di peluknya perut buncit istrinya itu dengan erat.


"Gak sabar lagi Ayah tuh pengen lihat kamu, Sayang. Yang sehat di dalam sini, Ayah janji akan benar-benar berubah menjadi manusia yang lebih baik untuk kamu dan Bunda," ucap Frans dengan lirih.


Karena tubuhnya memang lelah, pria itu pun ikut terlelap dengan tangan yang memeluk tubuh istrinya.


Pada saat jam menunjukan pukul 19:27 malam, Daily terbangun dari tidurnya. Wanita hamil itu mencoba menyingkirkan lengan kekar suaminya yang melingkar di perut buncitnya.


"Aihh.. Kenapa Tuan Frans tidur seperti ini? Perut Ai lapar sekali," guman wanita hamil itu. "Haruskah Ai bangunkan Tuan Frans?"

__ADS_1


Dengan begitu hati-hati Daily pun mencoba untuk membangunkan Frans.


"Tuan, bangun.." lirih Daily sembari menyentuh pipi suaminya dengan pelan. "Ai lapar sekali, Tuan."


"Sulit kali lah bangunnya, tapi kalau Tuan Frans tidur nyenyak berarti Ai punya kesempatan untuk mencium pipinya yang berbulu," batin Daily.


Wanita itu mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya yang matanya masih terpejam. Dengan begitu hati-hati dan pelan, ia mencium pipi suaminya yang di tumbuhi sedikit jambang halus itu.


Lantaran gugup dan juga takut, Daily pun mencium wajah suaminya itu dengan matanya yang ia pejamkan. Hingga Frans yang sedari awal sudah terjaga, lebih memilih untuk berpura-pura tidur dan juga mengintip perlakuan istrinya yang begitu konyol.


"Kening dan pipinya sudah, tinggal hidung dan bi-" Daily memotong perkataannya sendiri. Tampak, wanita itu menatap fokus pada bibir Frans yang tebal dan berwarna merah.


"Kenapa bibir Tuan Frans seperti bibir perempuan? Apakah dulu Ibu memimpikan anak perempuan sampai-sampai bibirnya semerah ini?" heran Daily. Frans hanya bisa menahan tawa, sungguh semua perkataan istrinya itu sangat menggelikan. Jika tidak ingat pesan ibu dan abangnya, mungkin Frans sudah menggauli istrinya itu hingga puas.


Frans yang sudah tidak tahan untuk tidak membuka matanya, segera menahan tengkuk leher Daily dan membuka matanya lebar-lebar.


Jika tadinya Daily hanya menempelkan, Frans malah mengigit bibir istrinya itu hingga terbuka.


Merasakan hangatnya lidah suaminya yang mengeksplore bagian dalam mulutnya. Daily hanya bisa mendelik, ternyata suaminya itu hanya berpura-pura tidur. Begitu pikir Daily.

__ADS_1


"Eumm.." Daily mencoba untuk mendorong tubuh suaminya agar melepaskan bibirnya yang seperti ingin di habisi oleh pria itu.


"Kenapa?" tanya Frans dengan dada bergemuruh.


"Tuan pura-pura tidur?" tanya Daily dengan deru napasnya yang naik turun tidak beraturan.


"Tidak, aku memang tidur tadi. Aku terbangun karena merasakan sesuatu yang hangat di bibirku," dusta Frans. Pria itu tidak ingin membuat istrinya malu dan berakhir kembali menjauh darinya.


"Syukurlah.. Berarti Tuan enggak dengar," guman Daily hingga Frans mengulum senyum di buatnya.


Rupanya istrinya itu mengakui kalau dirinya memang tampan, bahkan Daily menyukainya. Hanya saja wanita hamil itu gengsi, malu-malu tapi mau. Hingga membuat Frans semakin tidak sabar menunggu waktu 4 bulan berlalu.


Kata orang, waktu 4 bulan itu begitu singkat, tetapi untuk Frans. Waktu 4 bulan itu terasa berat dan begitu sulit untuk di lewati. Ia harus menghitung jam dan hari baru bisa melewati bulan. Malang sekali nasip Frans, tapi semalang-malangnya nasip Frans, masih malang nasip Daily yang harus menanggung malu dan juga membawa perut buncitnya kemana-mana selama sembilan bulan lamanya.


.


.


.

__ADS_1


Sembari nunggu update, mampir yuk di Karya Kakak Online Neng yang ada si bawah ini!



__ADS_2