DENDAM CINTA SANG CASANOVA

DENDAM CINTA SANG CASANOVA
PROMO KARYA BARU (SUAMIKU BEBAN DERITA)


__ADS_3

EPISODE 01 - SBD


Marta, seorang wanita muda yang sudah menikah dan di karunia seorang anak laki-laki yang berusia 5 tahun.


Awalnya, Marta Khairunisa hanyalah seorang Ibu rumah tangga biasa. Kekurangan ekonomi membuatnya harus memutar haluan. Wanita yang hanya lulusan SMA itu mencoba untuk mencari pekerjaan. Entah keberuntungan atau memang takdirnya yang sedang bagus, Marta di terima di sebuah Perusahaan yang ada di Kota tempatnya tinggal.


Marta sangat senang akan semua itu, bekerja dari pagi hingga sore dengan gaji 2,5 juta perbulan, sudah lebih dari cukup untuk Marta. Di bulan pertama, keadaan rumah tangganya masih baik-baik saja. Tapi, di bulan kedua. Riyanto, suami dari Marta mulai berubah. Pria itu sudah mulai jarang bekerja dan setiap harinya hanya akan makan dan tidur saja.


Seperti pagi itu, disaat Marta hendak berangkat bekerja. Riyanto yang baru saja bangun dari tidurnya sudah menyodorkan tangan pada Marta.


"Dek, Mas minta uang!" telapak tangan pria yang berstatus sebagai suami Marta Khairunisa itu sudah terbuka lebar tepat di hadapan wajah Marta.


"Uang apa lagi, Mas? Perasaan kemarin Mas udah minta uang," Marta menatap waja suaminya dengan begitu dalam.


"Buat rokok lah, Dek. Kecut banget bibir Mas dari semalam udah gak ngerokok lagi," jawab Riyanto dengan wajah bantalnya.


Helaan napas pelan itu keluar dari hidung Marta. Wanita muda berhijab itu membuka tasnya dan memberi uang 50 ribu rupiah pada suaminya.


"Mas kok gak kerja lagi sih? Tiap hari kerjaan Mas di rumah terus, padahal kan Pak Saman lagi butuh orang buat membangun rumahnya," ucap Marta dengan pelan pada suaminya. Berharap suaminya itu mau kembali bekerja sebagai tukang ataupun kuli bangunan seperti sebelumnya.


"Badan Mas tuh pegel-pegel, lagian kan sebulannya Mas gak nganggur terus kok. Kadang masih kerja," kata Riyanto melakukan pembelaan.


"Iya deh, kalau gitu Adek berangkat dulu ya," pamit Marta sembari mencium punggung tangan suaminya. "Jangan lupa, Mas. Nanti Indra di jemput, kasian dia pulang sekolah harus nebeng sana sini sama tetangga."


"Iya, udah sana berangkat. Nanti kamu telat malah di pecat lagi!" Riyanto mengusir istrinya agar segera berangkat.

__ADS_1


Marta pun akhirnya berangkat bekerja dengan perasaan sedikit kesal. Dulu suaminya itu tidak seperti sekarang ini, meskipun hidup sulit. Suaminya akan terus bekerja dan menafkahi dirinya dan juga putra kecilnya. Hidup rukun dan bahagia meskipun dalam kehidupan yang pas-pasan bahkan terkadang kekurangan.


"Ya Allah.. Semoga Mas Riyan cepet berubah, dan dia cepat balik kerja lagi," guman Marta sembari melangkah menyusuri jalanan sembari menunggu Angkot yang lewat.


Di satu sisi Marta pergi menuju tempatnya bekerja, di sisi lain Riyanto pergi menuju dapur. Pria itu membuka tudung saji yang ada di atas meja makan.


"Yeah.. Tahu, tempe, kangkung," gerutu pria yang kini pengganguran itu. "Gimana mau bergizi ini badan, tiap hari makannya tahu, tempe, kangkung. Itu-itu melulu.."


Riyanto mendaratkan bokongnya di kursi kayu dapur rumah itu. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Makin hari punya istri kok makin pelit dan perhitungan, mentang-mentang udah punya penghasilan sendiri." berbicara buruk tentang istrinya, tidak sadar sudah hampir dua bulan dirinya sudah jarang bekerja dan menjadi beban untuk istrinya.


Dengan sebal, pria itu mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk yang ada di atas meja.


Belum juga pria itu sempat menyuap makanannya, ponsel yang ia letakan di sudut meja makan itu berdering.


"[Hallo, Bu. Ada apa?]" tanya Riyanto pada Sang Ibu yang berada di seberang telpon.


"[Yan, kirim duit dong. Ibu belum bayar kontrakan bulan ini, bahkan dari kemaren Ibu cuman makan sama nasi dan kecap aja!]"


"[Aduh.. Dari mana Iyan duit, Bu. Udah hampir dua bulan Iyan gak kerja, rokok aja minta sama Marta,]" kata Riyanto pada Ibunya.


"[Ya kan kamu gak kerja, istrimu kerja kan? Minta sama istrimu dong!]"


"[Ya, nanti Iyan coba minta sama Marta. Kali aja dia masih punya simpenan duit,]" kata Riyanto. Setelah berbicara pada Ibunya, pria itu langsung mematikan sambungan telpon itu.

__ADS_1


"Waduh, gimana ini? Apa iya Marta punya duit, selama ini aku udah selalu minta duit sama dia," guman Riyanto.


.


.


.


Sore harinya, Marta yang baru pulang dari bekerja kembali menghela napas berat.


"Tadi pulang sekolah sama siapa?" tanya Marta pada Indra, putranya yang baru berusia 5 tahun.


"Jalan, Bu. Sama Dino," jawab Indra pada Ibunya. "Soalnya Tia gak sekolah, jadi gak ada yang boncengin Indra dan Dino." tambah bocah berusia 5 tahun itu.


"Lah, Ayah gak jemput?" tanya Marta sembari memasuki rumah.


"Tadi waktu Indra pulang, Ayah masih tidur," jawab Indra dengan jujur.


"Astagfirullah.." mendengar jawaban putranya, Marta hanya bisa ber-istigfar sembari mengusap dadanya.


Sungguh suaminya begitu keterlaluan, padahal di saat dirinya hendak berangkat bekerja pagi tadi, ia sudah meminta suaminya itu menjemput putra mereka di sekolah.


.


.

__ADS_1


.


DI APLIKASI YANG SAMA, NOVELTOON / MANGATOON. SUDAH ADA 5 EPISODE!


__ADS_2