
Malam harinya, tepatnya pada saat makan malam. Semua sudah berkumpul di meja makan termasuk Frans dan Daily yang membawa putra mereka.
"Makan duluan, Yank. Biar ayah yang gendong Gino," ucap Frans. "Sini Gino sama ayah." Frans mengambil alih putranya dari dekapan istrinya dan membawa putranya itu pergi dari area dapur.
"Biar sama Ibu aja, Frans. Ibu udah makan tadi," kata Ibu Aida. "Kamu makan bareng sama istri, abang dan adikmu sana." kini Bu Aida malah mengambil Gino dari gendongan Frans dan membawa bayi itu pergi ke lantai atas, sepertinya Bu Aida sengaja membawa Gino ke kamarnya agar Frans dan Daily dapat menghabiskan waktu bersama malam itu.
"Tapi beneran Ibu udah makan?" tanya Frans memastikan.
"Udah, Ibu makan waktu baru selesai makan tadi," jawab Bu Aida. "Udah sana, biar Gino ikut Ibu ke atas." Bu Aida pun langsung pergi dari area lantai bawah itu.
Frans pun kembali ke ruang makan dan bergabung bersama istri dan juga kedua saudaranya.
"Gino mana?" tanya Daily.
"Di bawa ibu ke atas," jawab Frans.
"Ibu juga kan belum makan," ucap Daily. "Kok malah Abang kasih ke ibu?"
"Ibu udah makan, Kak. Tadi waktu abis masak sama Dinda," jawab Dinda. "Jadi biarin Gino sama Ibu." tambah adik bungsu dari Pras dan Frans itu.
Akhirnya, mereka berempat pun makan dengan tenang, sedangkan Bu Aida kini malah tiduran bersama Baby Gino di dalam kamarnya. Bahkan wanita itu sudah membawa kebutuhan Gino ke dalam kamarnya, sungguh seorang ibu yang begitu pengertian kepada anak-anaknya.
Setelah selesai makan, Daily membereskan area dapur itu bersama Dinda. Kedua wanita itu terlihat begitu akrab dan dekat, bahkan tanpa malu Dinda menanyakan tentang Anton pada Daily.
"Kak, Bang Anton itu karakternya gimana? Orangnya baik gak?" tanya Dinda pada Daily.
__ADS_1
"Baik, dia baik banget. Bahkan orangnya juga asik, di komplek dia sering bantu warga yang kesulitan termasuk keluarga Kakak," jawab Daily.
"Berarti dia OKE, Dinda tinggal kasih jawaban iya ke dia," kata Dinda. "Hehehe! Makasih infonya, Kak!" setelah mendengar perkataan baik Daily tentang Anton, buru-buru Dinda menyelesaikan cucian piringnya dan pergi dari area dapur itu dengan senyuman mengembang.
Sepertinya gadis itu dan Anton sudah begitu dekat dan sebentar lagi akan memiliki hubungan yang istimewa.
"Sayang, Ayah ke atas duluan ya," kata Frans. "Nanti kalau udah selesai bersihin meja makan langsung ke atas juga." Frans mengedipkan sebelah matanya pada Daily.
Daily yang melihat tingkah genit suaminya itu hanya mencebikan bibirnya tanpa menjawab.
"Semoga aja Ibu urus Gino sampe tidur," gumam Frans. "Masa iya gagal mulu."
Kini Daily sudah selesai membersihkan meja makan dan juga area dapur, wanita itu pun segera kembali ke lantai atas.
"Sayang, mumpung Gino sama Ibu, sekarang kita lanjutin yang tadi siang ya." Daily begitu terperanjat kaget karena aksi suaminya yang langsung menarik tubuhnya saat pintu kamar itu terbuka.
"Enggak lama, nanti kalau udah selesai main Ayah bakal ambil Gino di kamar ibu," kata Frans.
Dengan tidak sabaran, Frans mencumbu wajah serta leher Daily dan membawa Daily menuju ranjang. Di atas ranjang itu, Frans merebahkan tubuhnya dan juga Daily dengan perlahan.
Pria itu sudah benar-benar tidak sabar untuk menuntaskan hasratnya yang sudah hampir setahun tidak tersalurkan.
"Eumm ... Ayah tolong pelan-pelan, Ai takut sekali," lirih Daily sembari menahan tubuh suaminya yang berada di atasnya.
"Gino aja kuat, masa Ayah gak boleh!" protes Frans sembari bangkit dari atas tubuh istrinya. Pria itu segera menanggalkan pakaiannya dan juga pakaian Daily hingga tubuh keduanya sama-sama polos seperti bayi.
__ADS_1
"Dia kan bayi, Ayah," ucap Daily sembari menarik selimut untuk menutup tubuh polosnya.
"Ckkk ... jangan di tutup, biar Ayah lihat semuanya." Frans berdecak sebal saat Daily menarik selimut dan menutup tubuhnya.
"Ai malu lah, masa seperti ini?" Daily menahan selimut yang di tarik paksa oleh suaminya.
"Matikan aja lampunya lah, biar ininya jangan di tutup." Frans merangkak menuju ujung ranjang dan menekan saklar lampu yang menempel pada tembok.
Sungguh, ingin bercinta saja sampai sesulit dan se dramatis itu. Akhirnya Daily pasrah dan membiarkan Frans melakukan apa yang di inginkan pria itu.
Dari atas ke bawah, Frans terus memberikan sentuhan lembut pada istrinya. Bahkan pria itu menyapu seluruh permukaan kulit tubuh Daily dengan jemari dan juga bibirnya.
"Eumm ... Ayah," lenguh Daily.
"Sekarang ya, Sayang. Kita main sebelum ada yang ganggu lagi," bisik Frans. "Ayah udah gak tahan lagi." Frans pun langsung melancarkan aksinya, memberi makan anak burungnya yang katanya sudah hampir mati karena selalu kelaparan.
Satu jam pertama, masih terdengar suara Daily. Tapi pada jam keduanya, wanita itu sudah begitu lelah. Frans seakan tidak kenal lelah untuk menjamah tubuhnya serta menggagahinya.
"Ayah, tolong sudahi," lirih Daily. "Rasanya sakit sekali." baru sebulan setengah pasca melahirkan tapi sudah digagahi suaminya selama dua jam tanpa istirahat, sungguh Frans begitu kejam menyiksa istrinya.
"Satu menit lagi," ucap Frans. "****!" umpat Frans setelah berhasil mencapai puncak untuk yang ke sekian kalinya.
"Auuhh..." rintih Daily saat merasakan perih di bagian bawahnya serta pegal pada punggungnya.
"Terimakasih, Sayang." Frans mengecup kening istrinya dengan lembut dan menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Daily.
__ADS_1
Daily yang merasa begitu lelah, langsung memejamkan matanya tanpa membersihkan tubuhnya lebih dulu ataupun memakai pakaiannya. Begitu pula dengan Frans, pria itu juga langsung memejamkan matanya dengan tangan yang melingkar di pinggul Daily.