
Di dalam ruangan rawat Daily, sudah berkumpul semua keluarga. Termasuk Anton dan juga Nek Lai.
Semua orang turut bahagia termasuk Anton sendiri, meskipun tak dapat di pungkiri bahwa hatinya masih terasa nyeri karena tidak dapat memiliki Daily, tapi ia tetap bahagia. Melihat Daily bisa tertawa lepas dan bahagia, semua itu sudah lebih cukup baginya.
"Nek, Anton ke kantin sebentar ya. Sejak sore Anton tidak merokok," bisik Anton pada Nek Lai.
"Jangan lama-lama," kata Nek Lai. Anton pun tersenyum dan mengangguk.
Baru saja Anton melangkah sampai di pintu ruangan itu, dada pemuda itu bertabrakan dengan kepala seseorang dengan keras.
"Auh.. Kepala Dinda sakit banget," ucap Dinda.
Rupanya yang menabrak Anton adalah Dinda, adik bungsu dari Pras dan Frans. Gadis itu berjalan tergesa-gesa dengan dua buah paper bag yang ia bawa, sepertinya ia baru datang malam itu sejak Kakak iparnya di kabarkan sudah melahirkan.
Anton hanya diam sembari mengusap dadanya yang terasa nyeri. Tapi sesaat kemudian, Anton di buat terkejut dengan perlakuan Dinda yang ada di hadapannya.
"Lihat dong, berapa banyak kotak-kotak di dada dan perut kamu. Kok keras banget," ucap Dinda pada Anton yang memang sudah berkenalan saat acara nikahan Daily dan Frans.
"Kotak-kotak apa, Nona?" heran Anton pada Dinda. "Kalau kepala Nona sakit, tentu dada saya juga sakit." Anton mengusap dadanya.
"Kamu kan cowok, masa gitu aja sakit," kata Dinda dengan bibir cemberut.
"Laki-laki juga memiliki perasaan dan juga hati, jadi jangan Nona pikir bahwa laki-laki tidak bisa merasakan sakit. Laki-laki dan wanita itu sama, hanya berbeda saja caranya untuk mengungkapkan rasa sakit mereka." jelas Anton.
"Uhuk.. uhuk.." Pras yang mendengar pembicaraan Anton dan adiknya langsung pura-pura batuk. "Frans, kayaknya sebentar lagi ada yang enggak jomlo lagi. Siap-siap aku di langkahi untuk yang kedua kalinya!" Pras menatap Frans yang terus-terusan bersikap manja pada Daily, padahal Daily baru saja habis melahirkan.
__ADS_1
"Permisi, Nona. Saya mau keluar," ucap Anton pada Dinda yang masih berdiri di depan pintu.
Setelah Dinda menyingkir, buru-buru Anton pergi dari tempat itu menuju kantin rumah sakit.
.
.
.
Frans tidak beranjak sedikit pun dari sisi istri dan putranya yang baru dilahirkan itu.
"Sayang, kenapa dia menyusu terus?" tanya Frans pada Daily dengan wajah cemberut. "Enak banget dia!" tunjuk Frans pada bibir imut putranya yang terus-terusan menyesap air asi bukit kanan Daily.
"Dia lapar," jawab Daily.
"Kalau Ayah lapar, makan sana. Kenapa harus menganggu Ai dan anak kita," kata Daily sembari mencubit tangan nakal suaminya.
"Bukan perut yang lapar tapi seperti ini!" tunjuk Frans pada putranya yang sedang menyusu. "Ayah menunggu sampai 9 bulan lebih untuk ini, tapi dia yang baru lahir malah merebutnya." Frans sudah seperti anak kecil sekarang, masa iya 9 bulan tahan dan sekarang tinggal menunggu 40 hari malah tidak sanggup.
"Bukan merebut, tapi ini memang haknya," kata Daily. Wanita itu benar-benar heran dengan perubahan sikap Frans yang begitu cepat.
Dalam waktu 3 jam lebih sedikit, sudah 4× pria itu bersungut-sungut lantaran cemburu pada putranya. Tingkahnya sudah seperti orang yang tidak waras saja.
"Pindahkan dulu bayinya, Ayah mau coba sedikit," pinta Frans pada Daily.
__ADS_1
"Gak boleh, ini buat anak kita," kata Daily sembari menjauhkan tangan Frans yang terus-terusan mencolek bukitnya.
"Sedikit aja, Nda. Ayolah!" rengek Frans yang kadar ke mesumannya memang begitu tinggi.
"Selamat malam, Mbak Daily!" sapa seorang perawat yang hendak melihat keadaan Daily dan bayinya.
Frans yang terkejut langsung melompat dari atas ranjang pasien itu dan beralih duduk di lantai sudut ruangan itu dengan wajah dongkolnya.
"Aih, malah datang perawat jelek ini pula," guman Frans dengan jengkel.
Setelah perawat selesai mengecek keadaan Daily dan bayinya, perawat itu pun pergi dari ruangan Daily.
"Alhamdulillah, akhirnya pergi juga," ucap Frans sembari bangkit dari duduknya dan kembali naik ke ranjang pasien istrinya. "Nda, ayolah.. Dikit aja."
"Apa sih? Kenapa Ayah kayak orang kurang akal," kesal Daily pada suaminya. Seandainya Daily bisa bergerak bebas, mungkin suaminya itu sudah diberinya sentilan maut agar tidak berulah.
"Frans, apa yang kamu lakukan?" tegur Bu Aida yang berdiri di ambang pintu ruangan rawat itu. Wanita separuh baya itu menatap horor pada Frans yang sedang menarik-narik pakaian bagian depan Daily.
"Hah?" Frans kembali terkejut, melihat tatapan Ibunya. Frans langsung menciut seperti kerupuk goreng yang terkena air.
.
.
.
__ADS_1
Sembari nunggu up, mampir yuk di karya Kakak Online neng yang ada di bawah ini!