
Setelah membantu istrinya bersiap, Frans segera menghubungi Jonathan.
"[Hallo, Joe!]"
"[Hallo, bagaimana Frans?]" tanya Jonathan pada Frans.
"[Kemari, jemput aku dan juga istriku. Dia ikut bersama kita,]" kata Frans kepada Jonathan yang berada di seberang telpon.
"[Astaga! Apa kau sudah gila? Jarak Kota ini dengan Kota C itu lumayan jauh. Istrimu sedang mengandung, kau kan tahu sendiri bahwa jalanan kawasan tidak bagus, rawan longsor terutama musim penghujan seperti ini!]" kebiasaan cerewet Jonathan akhirnya timbul juga.
"[Dia indak mau ajak, Ai. Tapi Ai yang ingin ikut!]" sahut Daily hingga Jonathan yang berada di seberang telpon langsung diam di buatnya.
"[Oh.. Baiklah, aku jemput sekarang,]" helaan napas berat itu keluar dari bibir Jonathan.
Sepertinya setelah ini bukan hanya Frans yang akan repot. Tetapi juga Jonathan, pastilah pria itu alan menjadi sulit setelah berada di antara Frans dan Daily.
Setelah itu, Jonathan yang sedari tadi memang menunggu kabar dari Frans. Akhirnya segera bergerak menjemput sahabat sekaligus bos-nya yang menunggu bersama istrinya di rumah.
.
.
.
Di rumah Bu Aida.
"Dengar sendiri kan, ayah di marahi oleh Joe. Karena dia mengira ayah yang mengajak bunda pergi ke Kota C," kata Frans dengan pelan. "Dia juga tidak ingin terjadi sesuatu pada bayi kita." tambah Frans.
Daily terdiam, wanita itu tampak sedang berpikir. Benarkah yang di katakan oleh suaminya itu, bahwa bahaya untuk janin yang ia kandung jika berpergian jauh.
"Emmm.. Ai indak jadi ikut kalau begitu," kata Daily. Hingga membuat Frans memicingkan matanya.
__ADS_1
"Serius tidak jadi ikut? Nanti mencari ayah dan menangis lagi?" Frans meyakinkan istrinya.
"Serius," jawab Daily pada suaminya itu sembari membuka kancing jaketnya.
Setelah memastikan, Frans pun menarik koper pakaian yang sudah berada di dekat pintu. Pria itu mengeluarkan pakaian istrinya dari dalam koper pakaian.
Daily yang melihat suaminya tampak begitu serius dengan pakaiannya menjadi berpikir ulang.
"Tuan Frans tampan, nanti kalau dia bertemu perempuan cantik. Pastilah dia akan kembali bermain gila dengan perempuan itu," batin Daily berbicara. Bayangan jahat selalu menghantui otaknya sekarang.
"Jangan di keluarkan, Ai tidak jadi tinggal. Ai ingin ikut ke Kota C," kata Daily hingga Frans menjadi lemas di buatnya. "Melihat wajah ayah, Ai indak bisa percaya begitu saja. Lagi pula kan ayah dan orang yang di telpon tadi adalah teman dan satu kelompok, jadi bisa saja kalian sudah kong kalikong untuk meluluhkan hati Ai." tambah Daily.
Dengan dada bergemuruh, Frans kembali memasukan pakaian istrinya yang baru saja selesai ia keluarkan ke dalam koper pakaian itu.
"Sudah selesai, ayo berangkat," kata Frans dengan suara tertahan.
"Ini macam mana? Tadi Ai lepaskan jaketnya tapi saat mau Ai kancing kan, kenapa menjadi nyangkut dan tidak muat bagian perutnya!" Daily yang sedari tadi mencoba untuk memasangkan kancing dan menaikan resleting jaket bulu yang ia kenakan, malah berakhir kesal sendiri.
"Bagaimana mau bisa, ini jaketnya miring," kata Frans. Pemuda itu membenarkan jaket istrinya. "Jadi kan? Begini baru benar, sudah salah malah menyalahkan perut yang besar ini!" Frans meletakan telapak tangannya di perut buncit istrinya.
"Hehee! Iya, Ai bodoh sekali," ucap Daily sembari terkekeh malu.
"Bilang apa? Bodoh!" Frans menatap wajah istrinya. Daily pun mengangguk pelan. "Tidak ada yang bodoh, dan tidak boleh mengatakan bodoh!" terang Frans kepada Daily.
Setelah selesai, Frans mengajak Daily keluar. Pria itu menuntun istrinya dan menarik koper pakaian mereka menuruni anak tangga dengan perlahan.
Di luar rumah itu sudah ada Jonathan yang menunggu, juga Bu Aida, Pras dan juga Dinda.
"Tolong ya, Nak Joe. Awasi Frans, jangan biarkan dia kembali seperti dulu," kata Bu Aida kepada teman anaknya yang begitu menurut pada putranya yang kerap sekali berlaku tidak normal.
"Iya, Bu. Joe akan berusaha untuk mengingatkan dan juga mengawasi," kata Joe.
__ADS_1
"Joe, udah dari tadi?" pertanyaan itu membuat Bu Aida dan Joe menghentikan obrolan mereka.
"Baru aja," jawab Jonathan. "Ya sudah, ayo berangkat!" Jonathan pun mengambil alih koper pakaian milik Frans dan Daily.
Sedangkan Frans dan Daily berpamitan pada Bu Aida, Dinda dan Pras.
"Jaga kesehatan, Ly. Ingat ada nyawa di sini," ucap Bu Aida sembari mengusap perut Daily.
"Iya, Bu. Ai akan selalu ingat," kata Daily.
"Kak, peluk Dinda dulu dong! Kalau ke Kota C sama kakak. Bang Frans pasti gak akan cepat pulang, bisa-bisa berbulan-bulan kalian akan tinggal disana," Dinda yang manja segera merentangkan tangannya pada Daily. Daily pun memeluk adik ipar yang usianya sama dengan dirinya.
"Indak lama, nanti kalau di sana indak enak. Ai akan cepat ajak pulang," kata Daily.
"Sini, abang juga mau peluk," kata Pras, hingga membuat mata Frans mendelik di buatnya.
Tapi Daily langsung memeluk tubuh pria itu, tubuh abang iparnya. "Kalau dia Macam-macam, ancam aja, Ly. Untuk gak memaafkan dia. Dia pasti akan menciut," bisik Pras di telinga Daily.
"Hehee.. Iya," Daily terkekeh hingga membuat Frans cemberut bebek karena Pras.
Setelah berpamitan, Jonathan, Frans dan Daily yang tengah hamil besar segera berangkat menuju Kota C.
.
.
.
Sembari nunggu update, mampir yuk di karya Kakak Online Neng yang ada di bawah ini!
__ADS_1