
Di saat mobil Daisy sudah melaju cukup lama, mobil Pras tiba di depan rumah Nek Lai.
"Apa Daisy ada?" tanya Pras dengan sopan pada Anton.
"Baru saja pergi, Tuan. Katanya ada keperluan di Klub Butterfly," jawab Anton pada Pras.
"Klub Butterfly, tempat Daisy bekerja," guman Pras. "Aku harus segera menghubungi Frans, jika Daisy ke Klub berarti ada kemungkinan Daily di bawa ke Klub itu."
Pras segera menghubungi Frans dan memberi kabar bahwa Daisy pergi ke Klub Butterfly. Anton yang mendengar percakapan itu menjadi ikut panik, pemuda itu tidak menyangka bahwa Daily akan menjadi korban penculikan untuk yang kedua kalinya lantaran salah orang.
"Daily di culik?" pekik Anton. Dengan sigap Pras menutup mulutnya, Pras tidak ingin Nek Lai dan warga komplek menjadi ikut panik lantaran mendengar kabar hilangnya Daily.
"Jangan buat panik semua orang," ucap Pras dengan pelan. "Kami sudah mengerahkan orang-orang untuk mencari keberadaan Daily, bahkan pihak kepolisian." terang Pras pada Anton.
"Izinkan saya ikut untuk mencari keberadaan Daily, Tuan!" pinta Anton dan langsung di angguki kepala oleh Pras.
Maka, Pras dan Anton segera menuju Klub Butterfly untuk menyusul Daisy yang sudah pergi lebih dulu.
.
.
.
Kini, Daisy sudah tiba di Klub Butterfly, gadis bolong itu segera pergi menuju bagian belakang Klub itu. Di mana letak ruangan peristirahatan Jhony dan juga ruangan tempatnya dan Daisy menghabiskan waktu bertukar keringat dulu.
__ADS_1
"Jhon!" Daisy memanggil Jhony dengan suara kerasnya sambil menggedor-gedor pintu ruangan peristirahatan itu.
Jhony yang mendengar suara Daisy menjadi tersenyum senang, pria Durjana itu membukakan pintu untuk Daisy dan memberi isyarat pada para anak buahnya untuk berjaga.
Plak!
Daisy menampar wajah Jhony sesaat pintu ruangan itu terbuka. Jhony yang di tampar oleh Daisy hanya tersenyum kecil.
"Kau gila, Kau tidak waras, Jhony!" pekik Daisy.
"Jangan macam-macam, Daisy. Atau aku akan membunuh Adikmu dan juga janin yang ada di dalam kandungannya!" ancam Jhony sembari menunjuk Daily yang terikat di sudut ruangan itu.
"Ai.." panggil Daisy pada adiknya yang menangis di sudut ruangan dengan tangan dan kaki terikat. Adiknya itu meringkuk dengan perut besarnya di lantai yang dingin.
"Kakak, Ai takut. Perut Ai mulas sekali," lirih Daily dengan air mata menetes.
"Kau!" tunjuk Daisy dengan wajah memerah. "Kau yang membunuh Mas Herman!" Daisy memukuli dada Jhony dengan keras.
Bukannya merasa sakit, Jhony malah tergelak seperti orang yang tidak waras. "Hahaha! Mana mungkin aku membiarkan Emas sepertimu pergi bersama pria tidak berguna seperti Herman!"
"Kau jahat, Jhon. Aku akan membunuhmu!" maki Daisy dengan air mata yang sudah mulai berjatuhan dari kelopak matanya. Wanita itu begitu syok saat mengetahui semua kebenarannya, rupanya dua tahun yang lalu kekasihnya meregang nyawa karena di habisi oleh temannya sendiri.
"Hust! Jangan berisik," ucap Jhony dengan pelan. "Lihatlah Adikmu!" tunjuk Jhony pada Daily yang terus merintih lantaran rasa mulas di perutnya.
"Kakak, panggilkan Frans," pinta Daily. "Perut Ai mulas sekali." lirihnya.
__ADS_1
"Jhon, apa yang kau lakukan pada Adikku?" tanya Daisy pada Jhony yang terus-terusan tertawa.
"Tidak ada, tadi aku ingin menuntaskan hasratku padanya. Tapi baru saja aku ingin mencelupkan milikku pada miliknya, kau malah sudah menelpon," jawab Jhony dengan sedikit melebih-lebihkan agar Daisy semakin takut dan menurut padanya. "Ckkk.. Sayang sekali, aku gagal merasakan rasanya bermain dengan wanita hamil."
"Tapi kau belum melakukannya kan?" tanya Daisy dengan takut.
"Belum, aku baru mengecup di sini dan di sini!" Jhony meraba leher serta dada Daisy dengan lembut. "Bermain denganku sekarang, maka aku akan memerintahkan orang-orangku untuk mengantarnya ke rumah sakit, karena sepertinya Adikmu mau melahirkan."
"Pindahkan dia Jhon, jangan tidur kan dia di lantai," pinta Daisy. "Fisiknya sangat lemah, aku takut dia akan kembali sakit."
"Angkat Adiknya kekasihku, jangan biarkan dia kesulitan!" perintah Jhony pada dua anak buahnya yang terus-terusan berdiri di dekat Daily. "Ayo kita bermain, Sayang." Jhony mendorong tubuh Daisy hingga terhempas ke atas ranjang.
Dengan terpaksa dan air mata berderai, Daisy membuka baju bagian atasnya. Kini ia lakukan semua itu demi adiknya bahkan di depan mata kepala adiknya sendiri.
"Lakukanlah, Jhon," ucap Daisy dengan lirih.
"Jangan, jangan lakukan semua itu, Kak!" pekik Daily saat melihat tubuh Daisy yang sudah setengah polos di gerayangi oleh Jhony. "Kak Sy, Ai mohon jangan lakukan semua itu!"
Daisy tidak memberi respon apapun pada Adiknya, yang terdengar hanya isak tangisnya saja. Haruskah ia kembali ke dalam lubang hitam yang sama? Begitu buruk kah takdir hidupnya sampai harus masuk ke dalam lingkaran gelap berulang kali.
.
.
.
__ADS_1
Sembari nunggu up, mampir yuk di karya Kakak Online Neng yang ada di bawah ini!