
Melihat Frans yang terus mendekat padanya, Daily langsung memalingkan wajahnya dan mengeratkan pegangannya pada selimut tebal yang menutup sebagian tubuhnya.
Tanpa memperdulikan dan memperhatikan raut wajah Daily dan perubahan pada istrinya itu. Tangan Frans langsung menari-nari permukaan kulit tubuh istrinya. Bahkan bukannya hanya tangannya, bahkan bibir pria itu sudah mulai ikut bermain di area leher dan tangan Daily.
"Nenek!" pekik Daily di saat jemari Frans sudah berhasil melepaskan seluruh kancing pakaian yang ia kenakan.
Mendengar pekikan istrinya, Frans yang tidak memperhatikan sedari tadi akhirnya menatap pada wajah Daily. Pria itu begitu terkejut saat melihat air mata istrinya yang berderai dengan bibir yang bergetar.
"Sa-sa-sayang kamu kenapa?" tanya Frans pada istrinya sembari menyeka air mata yang membasahi pipi Daily.
"Tolong jangan lempar Ai lagi," lirih Daily hingga membuat wajah Frans memerah.
"Gak akan, Ayah gak akan melakukan itu," ucap Frans yang langsung memeluk erat tubuh istrinya. "Ayah gak akan menyakiti dan memaksa, kalau Bunda memang takut. Ayah gak akan sentuh lagi." lagi-lagi Frans harus menahan hasratnya, ia tidak ingin membuat Daily kembali tertekan dan ketakutan.
Sepertinya Daily mengingat kembali di mana saat Frans melakukan kekerasan padanya, membanting dan menghempaskan tubuhnya dengan kasar serta menggagahinya dengan paksa dan begitu brutal.
"Ingatlah, kita sudah menikah dan memiliki anak, Ly. Kita udah hidup bersama beberapa bulan terakhir," ucap Frans dengan pelan di telinga Daily. "Ayah gak akan paksa ataupun menyakiti lagi, tolong percayalah kalau Ayah udah benar-benar berubah." Frans berusaha untuk meyakinkan Daily dan mencoba membuat Daily kembali tenang.
"Ai takut, tubuh Ai sakit semua," ucap Daily dengan lirih.
"Ayah gak akan mengulangi lagi perbuatan itu, Ayah janji," ucap Frans sembari menahan kepala Daily dan menangkup wajah istrinya itu.
__ADS_1
"Bagaimanapun dia dan seberapa buruknya masa lalunya, dia tetaplah suami Ai. Ai tidak boleh membenci ataupun menolak apa yang di perintahkan dan di inginkan suami Ai, selagi hal itu dalam kata kebaikan. Karena saat ini Nak Frans adalah IMAM untuk Ai," di dalam kegundahannya, Daily mengingat pesan Nek Lai tadi pagi setelah ia dan Frans kembali di nikahkan.
"Jangan menangis lagi," ucap Frans lagi sembari mengulas senyum. Pria itu tampak begitu baik-baik saja di haradapan Daily, padahal yang sebenarnya kedua kepalanya sudah seakan mau pecah karena terlalu lama menahan hasratnya yang terbelenggu.
Daily menyeka air matanya dan beralih memperhatikan wajah Frans yang begitu merah. "Wajah Ayah kenapa?" tanya Daily saat keadaannya sudah jauh lebih tenang. "Kenapa merah sekali?"
"Gak apa-apa," jawab Frans dengan tatapan memelas. Daily benar-benar menyiksanya sekarang, tadi menangis dan sekarang malah bertanya.
"Ayah tadi ingin ini kan?" Daily membenarkan pakaiannya yang sudah terbuka bagian atasnya tepat di depan mata Frans.
"Iya-iya, Ayah ingin itu," jawab Frans dengan cepat. "Tapi kalau Bunda takut, Ayah gak jadi kok."
"Kata Nenek, Ai tidak boleh menolak," ucap Daily dengan pelan hingga membuat Frans tersenyum tipis.
Melihat respon istrinya, buru-buru Frans melanjutkan aksinya yang sebelumnya gagal. Pria itu kembali mencumbu istrinya dengan lembut, memberikan sentuhan-sentuhan yang sensual pada bagian-bagian tubuh istrinya.
"Jangan di sini terus," ucap Daily sambil mendorong kepala suaminya. "Nanti habis!"
"Ckk.. Jangan cerewet!" protes Frans pada Daily yang melarangnya bermain di kedua bukit indah itu. "Masa Gino terus." tambahnya.
Di saat Frans sedang asik menyusu seperti bayi pada istrinya, tiba-tiba saja pintu kamar mereka di ketuk dengan keras dari luar dan di sertai dengan tangisan Baby Gino.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok..
"Frans, Gino menangis!" panggil Pras dari luar kamar. "Mungkin dia haus dan lapar!"
"Yah, Gino menangis," ucap Daily pada suaminya yang seperti tidak mendengar suara tangisan anaknya.
"Ly, Gino nih haus kayaknya!" lagi-lagi suara Pras terdengar.
"Pura-pura gak dengar aja," kata Frans pada Istrinya. Pria itu bergeser sedikit dari posisinya dan menyalakan musik di ponselnya agar suara Pras yang menganggu tidak begitu terdengar di telinganya. "Udah dibilang kalau menangis suruh Ibu untuk mendiamkan, di beri susu formula dulu kan bisa," Frans menggerutu kesal.
"Dengar suara anakmu sedang menangis, Yah. Kasihan dia," kata Daily.
"Pura-pura gak dengar sebentar, kasian sedikit sama Ayah. Bisa-bisa Expired ini burungnya!" celetuk Frans sambil membuka celananya.
.
.
.
Sembari nunggu update, mampir yuk dikarya Kakak Online Neng yang ada di bawah ini!
__ADS_1