DENDAM CINTA SANG CASANOVA

DENDAM CINTA SANG CASANOVA
STOP! KENAPA SEPERTI ITU, DOKTER?


__ADS_3

Di rumah sakit pusat Kota, Daily sudah berada di dalam ruangan persalinan dan di temani oleh Frans. Pria itu tidak beranjak sedikitpun dari samping istrinya.


"Perut Ai mulas sekali," ucap Daily dengan lirih sembari meremas jemari suaminya.


"Sabar, Yank. Kata Dokter gak lama lagi anak kita akan lahir," ucap Frans tak kalah lirih. Pria itu terus menciumi pucuk kepala Daily dengan lembut.


"Di mana Kak Sy dan Bang Pras?" tanya Daily pada suaminya. Dalam keadaan seperti itu, Daily masih sempat-sempatnya mencemaskan kembaran dan juga Kakak iparnya.


"Mereka ada di luar, Anton juga lagi jemput Nenek," jawab Frans. "Kita operasi aja ya, biar kamu gak sesakit ini." tawar Frans pada Daily.


"Enggak mau, Ai masih kuat kok," ucap Daily dengan wajahnya yang terus-terusan berkeringat.


Frans sangat cemas dan takut melihat keadaan Daily. Ia takut terjadi sesuatu pada anak dan istrinya. Seandainya bisa menukar rasa sakit istrinya, mungkin Frans sudah mengambil alih semua rasa sakit itu agar istrinya tidak terus-terusan merintih dengan air mata yang terus menetes.


"Auhh.." rintih Daily lagi dan lagi.


"Sedikit lagi ya, Mbak. Sudah bukaan 9," ucap Dokter bersalin yang menangani Daily. "InsyaAllah paling lama setengah jam lagi."


"Astagfirullah.. Ai kuat, Ai pasti kuat," guman Daily dengan air mata yang terus berderai. "Maafkan Ai Ibu, kalau semasa hidup Ibu kerap kali Ai sakiti." merasakan sakitnya menjalani proses melahirkan, Daily kembali teringat akan mendiang Ibunya yang sudah lama pergi.


"Sabar, Nda. Kalau Ayah bisa mengambil alih sakitnya, Ayah udah ambil alih semua rasa sakit ini," ucap Frans dengan air mata yang ikut menetes.


Isak tangis Frans sungguh membuat Bu Aida yang baru datang menjadi begitu haru. Putranya itu benar-benar berubah, semoga kehadiran Daily benar-benar merubah hidup Frans menjadi manusia yang lebih baik.


"Daily, sabar ya Sayang," ucap Bu Aida sembari melangkah mendekati Daily yang meringkuk di atas ranjang pasien. "Terus berdo'a ya, Nak."


"Ibu.." Daily menatap wajah Bu Aida. Bu Aida pun mencium kening anak menantunya dengan lembut.


Beberapa saat kemudian, rasa mulas itu semakin terasa. Daily semakin mengeratkan cengkraman tangannya pada lengan Frans.

__ADS_1


"Auuhh.. Ayah.." pekik tertahan Daily.


"Mengejan yang kuat, jangan di tahan!" Dokter bersalin yang menangani Daily memberi intruksi dan aba-aba pada Daily.


"Eeegh.."


"Lagi, sekali lagi. Jangan di tahan, Mbak!"


"Eeegh.."


Melihat perjuangan istrinya, Frans semakin menangis. Begitu sulit istrinya berjuang, mempertaruhkan nyawanya untuk bayi mereka.


"Oekk.. oekk.. oekk.." Suara tangisan bayi itu membuat Frans merasa lega, pria itu sampai bersimpuh di lantai ruangan bersalin istrinya itu.


"Alhamdulillah.." Daily memejamkan matanya dengan wajahnya yang terlihat begitu lesu.


"Bayi Ai sehat kan, Bu?" tanya Daily dengan begitu lirih.


"Iya, Sayang. Bayinya sedang di bersihkan oleh perawat," jawab Bu Aida. "Frans, tolong ambilkan istrimu air teh hangat!" pinta Bu Aida pada Frans yang masih bersimpuh di lantai.


Mendengar perkataan Ibunya, buru-buru Frans pergi dan mencari teh hangat untuk istrinya.


.


.


.


Dengan perasaan yang begitu bahagia, Frans Meng-Adzani putranya yang baru dilahirkan oleh Istrinya.

__ADS_1


Setelah selesai Meng-Adzani putranya, Frans memberikan bayi itu pada Dokter yang mengurus persalinan istrinya.


"Ayo, Mbak. Kita lakukan IMD," ucap Dokter pada Daily. Dokter itu pun meminta Daily membuka kancing atas baju pasien yang di kenakan oleh Daily.


"Bagaimana, Bu?" tanya Daily pada Bu Aida. Bu Aida pun tersenyum sembari membuka kan dua kancing bagian atas baju Daily.


Dokter pun mendekatkan bayi itu pada dada Daily dan membiarkan bayi itu mencari sumber makannya.


Frans yang melihat hal itu menjadi begitu syok, pria itu langsung meneriaki Dokter yang menjaga bayinya.


"Stop!" teriak Frans. "Kenapa seperti itu, Dokter?" tunjuk Frans pada dada istrinya yang terbuka dengan bayi yang ada di atasnya.


"Kenapa bagaimana, Mas Frans?" tanya Sang Dokter dengan bingung.


"Itu kenapa dada istri saya seperti itu?" tunjuk Frans hingga membuat mata Bu Aida mendelik lebar.


"Ini IMD namanya," kata Sang Dokter. "Namanya Inisiasi Menyusui Dini, di mana seorang bayi yang baru dilahirkan di biarkan mencari sumber makanannya sendiri 5-15 menit!" jelas Sang Dokter pada Frans.


"Oh!" Frans menanggapi dengan dahi berkerut. Pria itu merasa tidak senang melihatnya, masa iya dia di kalahkan oleh bayi yang baru dilahirkan.


.


.


.


Sembari nunggu up, mampir yuk ke karya Kakak Online Neng yang ada di bawah ini!


__ADS_1


__ADS_2