
Setelah Daily kembali tenang, Frans mengajak istrinya itu kembali melanjutkan niatnya. Yaitu mengajak istrinya berbelanja.
"Sayang, lihatlah! Bagus sekali," kata Frans sembari menyentuh sebuah dress berwarna grey yang begitu indah. "Coba yang ini ya!" tawar Frans.
"Ai takut sendirian," kata Daily dengan pelan. Perempuan hamil itu begitu takut dengan keramaian, jadi ia terus menempel pada Frans. Bahkan ia terus-terusan memeluk lengan Frans dengan erat.
"Jangan takut, Daddy temani memakainya," ucap Frans. "Mbak, saya boleh kan menemani istri saya mencoba pakaian ini di ruangan ganti?" Frans berbicara lembut, tetapi matanya menatap karyawan toko pakaian itu dengan tatapan tajamnya.
"Silahkan, Tuan. Kebetulan yang sebelah sana kosong!" karyawan toko itu menujukan ruangan ganti yang memang kosong.
"Tuh kan, ada ruangan yang kosong. Jadi Daddy bisa temani," ucap Frans dengan begitu lembut pada istrinya. "Ayo, jangan takut." Frans menuntun istrinya menuju ruang ganti dan membawa beberapa dres ibu hamil yang sudah ia pilih.
"Tuan, macam mana Ai mau pakai baju ini. Sulit," lirih Daily.
Frans tersenyum, lalu membantu Daily melepaskan pakaian yang di kenakan oleh istrinya itu.
"Jangan, Tuan. Ai mohon.." wajah Daily terlihat begitu memelas. Ia begitu takut bahwa Frans akan melakukan hal itu lagi padanya. Hal yang sama dengan kejadian 6 bulan yang lalu.
"Enggak, Daddy gak akan menyakiti Mommy. Daddy hanya ingin membantu memakaikan dres ini!" terang Frans.
Kini tubuh istrinya yang bulat dengan perutnya yang buncit itu hanya berbalut pakaian dalam saja. Menggoda, itulah yang Frans lihat dan rasakan saat ini. Sungguh, tubuh Daily membuat kelakian Frans langsing bereaksi. Tetapi pria itu begitu sadar, bahwa dirinya tidak bisa melakukan hal itu pada Daily saat ini. Bahkan dirinya sendiri sudah berjanji untuk tidak memaksakan kehendaknya selama Daily belum bisa menerima dirinya sebagai suami sepenuhnya.
"Ayo pakai," ucap Frans sembari memasang kan dres yang berwarna grey itu pada istrinya. "Jangan berpikir macam-macam, Daddy tidak akan melakukan hal itu dan tidak akan memaksa." Frans tersenyum pada Daily yang terus-terusan menatapnya.
__ADS_1
"Tuh kan, cantik," kata Frans. Pria itu membawa istrinya menuju cermin yang ada di dalam ruangan ganti itu. "Gimana? Suka?"
"Cantik," ucap Daily sembari tersenyum kepada Frans. "Terimakasih, Tuan."
"Aku suamimu, tolong jangan panggil TUAN terus. Apa gak kasihan sama aku?" Frans cemberut pada Daily.
"Panggil Abang?" tawar Daily.
"Gak mau!" tolak Frans. "Panggil sayang aja!"
.
.
.
Dan pada siang hari itu, ia iseng mengaktifkan kartu itu. Baru saja di aktifkan, sudah begitu banyak pesan yang masuk.
Bahkan terlihat begitu jelas bahwa nomer Daisy selalu di pantau. Belum sampai 2 menit, panggilan dari Jhony langsung masuk.
"Aih.. Sepertinya mereka semua memantau dan mencari-cari keberadaanku," cuman Daisy, gadis bolong itu pun mengabaikan panggilan Jhony.
Jhony yang merasa di abaikan, segera mengirimkan banyak pesan pada Daisy.
__ADS_1
"[Sy, dimana? Abang rindu!]"
"[Kenapa pergi tanpa pamit? Dan sudah berbulan-bulan gak kembali?]"
"[Ayolah pulang, Abang begitu rindu dengan sentuhan mu. Dengan segalanya.]"
"[Tanpamu, abang begitu kesepian!]"
Begitu banyak pesan yang di kirimkan oleh Jhony, hingga membuat Daisy menjadi muak.
"Cih! Perduli jika sedang butuh kepuasan dan uang saja," guman Daisy. "Memintaku kembali hanya karena ingin uang saja!" tambahnya sembari mematikan ponselnya.
Daisy pun mencabut kartu itu dan mematahkannya menjadi dua.
"Sy rindu sekali, mas. Semoga jiwamu tenang dan di tempat kan di tempat terindah disisi-NYA." Batin Daisy, gadis itu begitu merindukan sosok Herman yang telah lama pergi.
Tak terasa, air mata itu kembali menetes. Hari ini dan kemarin rasanya masih sama, sunyi, sepi dan juga hampa. Setelah beberapa tahun berlalu, hatinya masih kosong, banyak pria kaya yang mengajaknya menikah dan meninggalkan dunia gelapnya. Nyatanya tidak ada yang mampu menggantikan Herman di hatinya.
.
.
.
__ADS_1
Sembari nunggu update, Mampir yuk di karya Kakak Online Neng yang ada di bawah ini! Di jamin seru!