
Jhony yang berhasil membawa Daily yang ia kira adalah Daisy kembali ke Klub malam miliknya. Kini Daily yang tidak sadarkan diri sudah berada di dalam kamar Jhony.
"Apakah wanita hamil memang memiliki pesona yang besar seperti ini?" Guman Jhony sembari menyentuh pipi chuby Daily yang menggembung. "Kau makin cantik, Sy. Aku semakin sayang padamu." tambah Jhony dengan jemarinya yang terus menari-nari di wajah Daily.
Daily yang baru sadar dari pingsannya menjadi begitu terkejut saat melihat wajah pria asing tepat di hadapan wajahnya.
"Siapa kamu?" pekik Daily pada Jhony.
"Sayang, kamu udah sadar?" tanya Jhony dengan sudut bibirnya yang tersenyum. "Tau kah kamu, berbulan-bulan aku mencari kamu bahkan mengerahkan anak buahku. Tapi kamu tidak aku temukan, sekarang aku temukan malah dalam keadaan mengandung seperti ini."
"Siapa kamu? Kenapa menculik Ai?" pekik Daily. "Ai mau pulang, Ai enggak mau di sini!" Daily mendorong tubuh Jhony dari hadapannya. Karena keadaan Daily yang sejak awal memang ringkih dan lemah, jangankan membuat tubuh Jhony terdorong, bergeser dari posisinya saja tidak.
"Apa yang terjadi Daisy? Kamu lupa atau pura-pura lupa untuk mengelabui aku?" tanya Jhony.
"Aku bukan Daisy, aku Daily," jawab Daily. "Tolong lepaskan Ai, Tuan." pinta Daily.
Mendengar pengakuan Daily yang di kira Jhony adalah Daisy, Jhony malah tergelak. Mana mungkin pria itu percaya begitu saja setelah hampir setahun lamanya mencari keberadaan Daisy yang menghilang.
"Ayolah, Sy. Jangan berpura-pura seperti ini," ucap Jhony sambil mencium tangan paksa pipi chuby Daily. "Aku tidak marah kau hamil, aku akan menunggu sampai bayi ini lahir dan kau kembali bekerja di klub ini, terutama menjalin kasih denganku." Jhony mengangkat dres yang di kenakan oleh Daily dan mengusap-usap perut buncit Daily dengan penuh sensasi.
"Tidak!" teriak Daily dengan kencang. "Jangan sentuh, aku bukan Daisy." Daily yang ketakutan, kini hanya bisa menangis. Lemah sekali wanita itu.
__ADS_1
"Jangan menangis, Sayang. Aku hanya ingin bermain sebentar. Sudah lama kita tidak bermain kan, setahun ada tidak?" tangan Jhony terus bergerak menyentuh dan meraba bagian tubuh Daily.
"Kak Daisy, tolong Ai. Ai gak mau kejadian yang sama terulang," ucap Daily yang berada di bawah kungkungan tubuh kekar Jhony dengan air matanya yang berderai. "Jangan, Ai mohon jangan lakukan, Tuan!" pinta Daily pada Jhony.
"Ckk.. Jangan menangis," ucap Jhony dengan pelan. Beruntung Jhony tidak memukul Daily ataupun menyakiti bayi yang ada di dalam kandungannya. Sejak tadi Jhony hanya menggerayangi tubuhnya.
"Aku bukan Daisy, tolong percayalah," ucap Daily dengan lirih. "Frans!" pekik Daily menyebut nama suaminya.
Tanpa memperdulikan perkataan Daily, Jhony terus meraba tubuh Daily yang bulat dan berisi. Tampaknya pria itu begitu menikmati permainannya, di ciumnya seluruh bagian wajah dan area dada Daily yang terbuka dengan begitu lembut.
"Kita main ya, sebentar saja," bisik Jhony sembari bangkit dari atas tubuh Daily. Pria itu membuka baju kaos yang ia kenakan dan membuangnya ke lantai.
"Siapa yang menelpon?" guman Jhony. Pria itu melihat banyaknya panggilan yang masuk dari nomer penelpon yang sama.
"[Jhony, tolong jangan sakiti adikku!]" suara di seberang telpon membuat Jhony mengerutkan keningnya.
"[Aku yang kau cari, kau salah orang. Yang kau bawa adalah Daily, adikku!]" Jhony begitu terkejut setelah mendengar pengakuan itu.
"[Daisy, jadi yang sedang hamil besar ini adalah adikku?]" tanya Jhony.
"[Kakak, tolong Ai. Ai takut, Ai ingin kembali bersama suami Ai,]" isak tangis Daily sungguh membuat Daisy semakin cemas dan juga takut.
__ADS_1
"[Aku akan ke Klub sekarang, aku akan kembali. Tapi tolong jangan sakiti adikku, Jhon,]" pinta Daisy pada Jhony.
"[Its Oke! Aku gak jadi sentuh, aku akan tunggu kamu. Karena yang aku inginkan itu kamu, tapi ingat jangan sampai lapor polisi atau siapapun!]" Jhony memperingati.
"[Iya, aku akan datang sendiri. Tapi tolong jangan sakiti adikku, dia sakit dia menderita selama ini karena ulahku, Jhon.]"
Setelah itu, Daisy mematikan sambungan telpon itu dan segera pergi menuju klub tanpa memberi tahu Nek Lai bahwa Daily di culik. Gadis itu tidak ingin membuat Nek Lai yang sudah tua renta menjadi cemas.
"Sy, mau kemana?" tanya Anton yang berada di depan rumah. Dan kebetulan melihat Daisy hendak pergi.
"Mau ke Klub butterfly, ada urusan mendesak!" timbal Daisy dengan wajah panik dan sembabnya. "Kalau Nenek bertanya, tolong bilang kalau aku ke rumah Daily karena rindu padanya." Daisy meminta Anton berbohong. Setelah itu, Daisy benar-benar melajukan mobil Sedan merahnya.
.
.
.
Sembari nunggu Up, mampir yuk di karya Kakak Online Neng yang ada di bawah ini!
__ADS_1