
Dengan begitu setia, Frans memperhatikan istrinya yang sedang beribadah. Hanya setia memperhatikan saja tanpa ikut ataupun mengImami istrinya itu.
Setelah melihat istrinya itu selesai, buru-buru Frans turun dari ranjangnya dan membantu Daily membuka mukena yang di pakainya.
"Tuan mau apa?" tanya Daily pada suaminya yang membuka mukena yang di pakainya.
"Membantu istri biar gak kecapekan," jawab Frans Dengan santai sembari tersenyum saat pada Daily. "Kamu cantik banget, mau gak jadi pacarku?" pertanyaan konyol itu keluar begitu saja dari bibir Frans. Hingga Daily melongo di buatnya.
"Apa Tuan Frans sudah gila?" bukannya menjawab Daily malah balik bertanya.
Mendengar kata GILA, Frans menatap wajah Daily dengan begitu intens. Tatapan mata itu begitu sukses membuat Daily ketakutan dan menundukkan wajahnya.
Frans yang menyadari ketakutan Daily, segera merubah expresi wajahnya. Pria itu kini tertawa terbahak.
"Bwahahaha.. Kenapa kamu menunduk dan mundur menjauh? Aku gak makan orang kok," kata Frans. Pemuda itu tahu, bahwa Daily takut dengan sorot matanya yang memang begitu tajam. "Ayo tidur, nanti aku pijat punggung mu. Membawa bayi kita kemana-mana pasti begitu sulit untuk di jalanni." Frans pun mengajak istrinya untuk segera beristirahat.
__ADS_1
"Tuan indak akan menyakiti, Ai. Kan? Jika Tuan akan seperti dulu, Ai indak apa tidur di lantai," kata Daily.
"Mana mungkin aku akan menyakiti kamu dan anak kita, gak akan. Kemarin adalah kesalahan terbesar yang aku lakukan, dan kini aku benar-benar akan memperbaiki diri. Demi kamu dan anak kita," ucap Frans sembari berjongkok di depan tubuh Daily. Pemuda itu mengusap perut Daily yang buncit dengan begitu lembut.
Dengan perlahan, tangan Daily ikut bergerak. Perempuan hamil itu mengusap kepala suaminya yang kini menempel pada perutnya.
"Dia bergerak, sayang.. Apa kira-kira dia tau kalau yang mengusapnya adalah Daddy-nya?" Frans mendongakkan wajahnya pada wajah Daily. "Dia bergerak lagi!" Frans tersenyum lebar.
Kini pemuda itu seperti anak kecil yang mendapat mainan baru, ia malah mengangkat tubuh Daily dan membawa istrinya itu ke atas ranjang.
"Itu!" tunjuk Daily pada sudut lemari.
"Tunggu di sini, jangan banyak bergerak. Aku akan memeriksa sesuatu sebentar," kata Frans.
Pemuda itu segera meraih ponselnya dan memeriksa sesuatu. 3 menit kemudian, Frans kembali naik ke atas ranjang.
__ADS_1
"Ayo sayang, tidur lah. Miring begini!" Frans meminta istrinya itu untuk tidur dengan cara menyamping. Rupanya pemuda itu melihat posisi tidur ibu hamil di internet.
"Tuan indak tidur?" tanya Daily.
"Tidur lah duluan, aku mau memeluk anakku. Seperti ini!" Frans pun berbaring di belakang istrinya dan melingkarkan tangan kekarnya di perut istrinya yang membuncit karena mengandung benihnya itu. "Tidur lah, Lily. Aku berjanji tidak akan macam-macam."
Mendengar perkataan Frans, Daily pun memejamkan mata. Karena memang sudah begitu mengantuk dan juga lelah seharian kesana kemari, tak butuh waktu lama Daily pun langsung terlelap.
Frans yang merasakan bahwa Daily sudah benar-benar terlelap, segera merubah posisinya. Kini pemuda itu berada di depan istrinya. Ia menatap wajah istrinya dengan intens, wajah gadis yang dulu menangis meminta ampun, belas kasihan dan pertolongan dengan deraian air mata , tetapi tidak di perdulikan sedikit pun olehnya. Ia terus menjamah setiap inci tubuh gadis itu hingga tidak terlihat lagi bahwa kulit gadis itu berwarna putih. Bahkan, ia membuat gadis itu sulit bergerak apalagi berjalan. Dalam waktu 11 hari 10 malam, Frans selalu melampiaskan hasrat liarnya pada Daily dengan begitu brutal.
"Maafkan aku, Lily. Kini aku berjanji akan membuat dirimu bahagia, aku berjanji akan merubah kebiasaan burukku untuk dirimu dan anak kita," ucap Frans dengan begitu lirih.
"Aku tidak pernah cemas, aku tidak pernah khawatir, aku tidak pernah ketakutan, aku tidak pernah merasa kehilangan, aku tidak pernah merasa bersalah dan juga menangis sevelunya. Tapi karena dirimu, seorang gadis kecil yang ringkih dan lemah, DUNIAKU seakan runtuh, hidupku seakan mati, Daily." di ciumnya kening Daily dengan begitu lembut.
Lama Frans larut dalam kesedihannya, hingga akhirnya ia memilih untuk menyusul istrinya yang sudah terlelap dan mungkin damai di alam mimpinya.
__ADS_1