Dendam Gadis Gigi Kelinci

Dendam Gadis Gigi Kelinci
24. POV. Dr. Rinto Prasetio


__ADS_3

POV. Dr. Rinto Prasetio


Saat muda aku pernah pindah dari satu ke kota ke kota lain. Namun saat itu sepupuku Zoya ingin bertemu dengan aku membicarakan mengenai lahan yang akan di bangun di rumah sakit.


"Zoya, sudah lama sekali kita tidak bertemu, " Ucap Rinto


"Iya, Kakak super sibuk sih, jadi nggak sempat deh kita ketemu lagi di kota ini." Ucap Zoya.


"Kamu ada apa meminta Kakak kemari?" tanya Rinto


"Aku hanya menyampaikan pesan papi kalau lahan rumah sakit nanti akan menjadi hak waris kakak." Ucap Zoya


"Kok bisa Kaka yang mendapatkan haknya?! harusnya warisan itu jatuh pada kamu anaknya." Ucap Rinto


"Karena Kakak sudah menempuh sekolah tinggi mengenai kedokteran, jadi Papi yakin di surat warisan itu kalau hanya Kakak yang pantas untuk mengelolanya." Ucap Zoya


Dengan mata berkaca-kaca," Baiklah. Kakak setuju menerima hak warisan itu, tapi Kakak mau kalau kamu suatu hari juga terjun ke dunia kedokteran" Ucap Rinto dengan memegang lembut tangan Zoya


"Baiklah, Zoya janji akan kuliah jurusan kedokteran dan membantu Kakak mengelola ini semua


"Kakak ingin hak waris tanah itu tetap jadi milik kamu sampai kamu pantas untuk memegang semuanya." Ucap Rinto

__ADS_1


"Mkasih, Kak." Ucap Zoya


Pegangan tangan itu hanya sebagai tanda aku terharu. Namun mata singa itu terlihat jelas di mata kekasih Zoya yang tiba-tiba saja datang dan menarik kasar lengan Zoya untuk menjauh dari pasangan mataku.


Aku yakin sekali kalau mereka pasti perang dingin karena dari tampak kejauhan aku melihat tatapan mata mereka saling memburu tajam


"Zoya, maaf. Aku nggak mau ikut campur urusan percintaan kamu dengan kekasih yang baru saja memutuskan kamu, jadi aku diam saja." Ucap Rinto


"Ini bukan salah Kakak kok, lagi pula aku juga sudah lelah sama dia yang terlalu posesif dan cemburuan." Ucap Zoya


"Lebih baik kamu kejar dan jelaskan lagi mengenai masalah ini


"Hmmm, yasudah Kakak hanya memberi saran saja selebihnya itu urusan kamu. Kalau gitu Kakak pamit dulu ya. Take care!" Ucap Rinto


"Oke, Kak. Makasih." Ucap Zoya.


Setelah pertemuan itu, Aku pulang kembali ke kota lain untuk menyelesaikan masalah kekasih hati aku bernama Zakia. Ia sudah aku sering bujuk untuk berobat ke luar negeri. Namun dia menolak niat baikku


"Zakia, Aku mohon kamu mau ikut aku berobat di Singapore." Pinta


"Nggak, Aku nggak bisa menyusahkan kamu. Di sana pasti biayanya sangat mahal." Tolak Zakia

__ADS_1


"Biaya bagi aku nggak masalah! yang penting kamu bisa sembuh." Ucap Rinto


"Aku nggak bisa operasi di sana. Kamu tahu sendiri aku belum menemukan pendonor sumsum tulang belakang yang tepat untuk aku." Lirih Zakia


"Jangan khawatir aku yakin di sana aku akan mendapatkan sumsum tulang belakang yang cocok dengan kamu." Ucap Rinto


"Aku bilang nggak usah." Ketus Zakia


"Jangan khawatir soal biaya. Aku ini pacar sekaligus calon suami kamu. Aku nggak mau kamu menderita sakit terus." Lirih Rinto


"Aku baik-baik saja selama tidak merepotkan kamu." Ucap Zakia


"Yasudah, Aku akan tetap berusaha untuk mencari pendonor di kota ini untuk kamu bisa sembuh." Ucap Rinto


"Makasih, Sayang." Ucap Zakia


Bersambung....


...Jangan lupa untuk memberikan like di setiap episode, vote sebanyak mungkin, dan tambahkan di rak buku kalian sebagai favorite/subscribe...


...Terima kasih sudah mampir di karya ini, semoga bisa menghibur kalian semua....

__ADS_1


__ADS_2