
Tubuhku memang lemah sejak dari kecil, Usiaku lebih tua dari Karina yaitu 10 tahun. Itu artinya jarak aku dan Karina hanya berbeda 5 tahun.
Aku tahu orang tua aku sangat menyayangi aku sejak dari lahir, terlebih lagi ketika aku sakit parah. Perhatian mereka berdua hanyalah tertuju kepada aku melebihi Karina karena suatu tragedi yang aku sendiri masih binggung untuk menjabarkan suatu kebencian yang mereka sembunyikan.
Lama-lama Kebencian mama dan papa pun tercium olehku bahwa mereka meluapkan rasa kekecewaannya pada Karina karena mereka mengharapkan seorang anak pria untuk di serahkan agar nasib mereka bisa berubah. Namun kenyataanya yang terjadi sebaliknya bahwa yang terlahir adalah anak perempuan lagi bukan anak yang di harapkan oleh kedua orang tuaku.
Sungguh tragis nasib adikku, Aku menyayanginya meskipun aku tahu kedua orang tuaku tak pernah menyayangi adik yang selalu menemani aku saat sedang sakit di rumah sakit
"Kak, ini buah jeruknya. Aku bukakan kulit luarnya ya." Ucap Karina
"Nggak usah deh, De. Aku lagi males makan buah." Ucap Zakia
"Ish! harus Kak, Kakak mau sembuh nggak?"tanya Karina
"De, kalau makan buah bisa sembuh dadakan Kakak juga dari dulu makan itu buah, tapi tetap saja Kakak nggak sembuh." Ucap Zakia
__ADS_1
"Kakak sebaiknya operasi sumsum tulang belakang saja. Biarkan aku yang menjadi pendonornya, bagiamana?" tanya Karina
"Nggak! Aku nggak mau adik satu-satunya kakak menderita karena mendonorkan sum-sum tulang belakang di usia yang masih kecil. Ingat umur kamu masih 5 tahun." Ucap Zakia
"Kalah begitu tunggu aku sampai dewasa ya, Kak! Karina janji kalau sudah dewasa akan mendonorkan sum-sum tulang, tapi kakak harus janji untuk bisa bertahan sampai Karina besar," Ucap Karina dengan menyodorkan jari kelingking kanannya
"Makasih, Dede aku yang paling aku sayang. Aku janji akan bertahan,"ucap Zakia dengan merekatkan jari kelingking terhadap adiknya.
Janji dengan melingkarkan kedua jari manis adalah bukti bahwa aku sepakat untuk saling menyayangi satu sama lain, meskipun cinta kedua orang tua hanya tertuju kepada aku yang sedang sakit. Tapi aku yakin di hati kecil kedua orang tua aku tidak mungkin mengizinkan adik kecil ku ini mendonorkan sumsum tulang belakangnya.
Ketika aku bergegas untuk keluar dari rumah sakit, penjagaan di sana cukup ketat. Aku melepas infus yang merekat erat pada lengan kiriku yang terasa milu karena aku cabut begitu saja.
Aku mulai mengganti pakaian rumah sakit sehingga tidak ada satu pun yang tahu kalau aku adalah penghuni kamar 201 karena aku sengaja mengolesi diriku dengan bedak yang tebal agar semua orang yang melihat aku tidak menyangka kalau wajahku sangatlah pucat.
Aku memanggil ojek online untuk bergegas pulang di rumah. Begitu aku sampai rumah, Aku mencari sosok adikku. Namun aku tidak bisa menemukan keberadaannya.
__ADS_1
"Pa, di mana Karina?" tanya Zakia
"Adik kamu sudah papa buang di jalan yang sepi, jadi kamu nggak usah cari adik kamu lagi karena sebentar lagi kita akan pindah ke kota z untuk memulai hidup yang baru bersama adik baru kamu yang akan membawa kita sekeluarga bernasib baik." Ucap Sukaryo
"Papa tega sekali membuang anak kandung papa sendiri demi menukar dengan anak keberuntungan
"Adik kamu bawa sial! kamu juga sakit terus-terusan karena dia tidak mau menyumbangkan sumsum tulang belakang
"Zakia yang meminta Karina untuk tidak mendonorkan sumsum tulang belakang itu karena dia masih sangat kecil untuk jadi pendonor
"Sudahlah! kita tidak butuh lagi anak bawa sial itu, Karena Papa dan mama sudah tidak peduli lagi." Ucap Sukaryo
Bersambung...
...Jangan lupa untuk memberikan like di setiap episode, vote sebanyak mungkin, dan tambahkan di rak buku kalian sebagai favorite/subscribe...
__ADS_1
...Terima kasih sudah mampir di karya ini semoga bisa menghibur kalian semua...