Dendam Istri

Dendam Istri
Bab 26


__ADS_3

" kak, tak mungkin aku berada dirumah selama itu!"


" aku pasti bosan kak!"


" lebih baik aku mati saja!"


sinta menangis meraung sambil berlari kekamarnya..


dor..dor..dor..


ibu mengedor pintu kamar sinta dengan keras


" Sinta.. sinta.. buka pintunya!!!"


" jangan berbuat yang tidak- tidak!, masih ada ibu disini "


ibu berusaha merayu sinta untuk membuka pintu..


mungkin ibu takut sinta akan kelakukan hal yang tidak diinginkan.


aku hanya terpaku duduk diruang tamu melihat dan mendengar drama keluarga ini.


aku membayangkan apa yang akan terjadi dengan sinta setelah ini..


bagaimana dia bisa menghadapi opini masyarakat.. ini adalah hukuman terberat bagi sinta.. hukuman sosial..


saat ini ibu terlihat baik- baik saja.. sepertinya dia masih bisa mengatasi ini dari caranya yang masih saja bersikap acuh tak acuh padaku dan selalu berucap dengan sinis.


dan kak devan dengan raut wajah yang tak dapat kuartikan. dia hanya terpaku menatap kosong.


entah apa yang dipikirkannya.


akhhhh aku beranjak dari sana.. lebih baik aku membuat makan siang saja, daripada melamun, pikiranku kesana kemari tak jelas.. menambah dosa saja.. monologku dalam hati.


melangkahkan kaki menuju dapur.. .terlintas ide membuat minuman dulu buat kak devan agar pikirannya sedikit fresh.. mungkin es teh dengan perasan jeruk lemon pilihan yang tepat kataku dalam hati.


setelahnya kuhampiri kak devan, yang posisinya masih sama dengan waktu kutinggalkan tadi.


"kak..."


kusentuh tangannya lembut.. takut dia terkejut..


" Diminum dulu kak"


dia menatapku kemudian melihat minuman yang kubuat yang kutaruh diatas meja.


" terimakasih nin.."


" kak, kadang segala sesuatu yang terjadi tak perlu terlalu keras kita pikirkan, biarlah segalanya berjalan mengikuti alur yang sudah digariskan Tuhan"


" Hidup sudah ada takdirnya sendiri. Namun garis takdir kita yang menentukan. Bagaimana perilaku kita, jalan yang kita pilih, itulah garis takdir yang harus kita jalani.. seperti hukum sebab akibat."


" Kita tak mungkin dapat mengubah jalan yang sudah dipilih Sinta, sekarang kita hanya bisa membantunya agar dia tidak terjerumus terlalu dalam.. dan bisa memperbaiki diri"


" Jangan menyesali apa yang sudah menjadi masa lalu.


Masa lalu ada untuk kita belajar ke depannya bukan sebagai alasan kita terpuruk"


Aku berbicara panjang lebar.


hanya sekedar mengingatkan pada kak devan. aku juga merasa khawatir, merasa takut akan apa yang terjadi setelah ini.


karena bukan hanya Sinta saja tapi kita semua yang tinggal dirumah ini akan terkena imbasnya.


kak devan langsung menghambur memelukku erat.. aku terkaget.. hampir saja terjungkal berbaring disofa.


aku pun memeluk sambil mengelus punggungnya lembut.. agar bisa menenangkannya.


" Terimakasih nin! "

__ADS_1


" kamu selalu ada untukku"


" terimakasih!"


kata kak devan padaku.. aku hanya tersenyum menanggapinya.


" kak, aku buat makan siang dulu ya..."


kataku sambil melepas pelukan kami..


" iya nin.. aku bantu ya nin.."


" iya.."


Aku beranjak menuju dapur diikuti kak devan.


kesibukan didapur, ditambah canda tawa kami, setidaknya bisa mengalihkan sedikit rasa canggung tadi karena masalah sinta.


biarlah ini menjadi sedikit kebahagiaan.. walaupun ditengah- tengah banyaknya masalah.


Masakan hari ini ada ayam goreng, sayur kangkung dan tempe goreng..


menunya sedikit lengkap, karena isi kulkas yang dibeli ibu aku masak semua.


aku berpikir nanti aku akan belanja bersama kak devan kesupermarket untuk memenuhi kulkas ibu.


setelahnya aku menyuruh kak devan untuk memanggil sinta dan ibu untuk makan siang bersama kami.


" Mari makan bu.."


tawarku pada ibu..


" iya mbak.. makasi mbak sudah mau memasak untuk kami"


bukan ibu yang menjawab tapi sinta.. dan anehnya dia bilang terimakasih padaku.


kata yang mungkin tabu diucapkannya selama ini padaku.


setelah menyelesaikan makan siang.. sinta seperti enggan beranjak dari ruang makan.. dia seperti menungguku..


" ada apa sinta"


" ada yang bisa aku bantu?"


kataku sefikit formal, malas meladeni, karena biasanya ujung- ujungnya yang kudapat makian.. jadi aku sedikit malas menyapa sinta.


" ini mbak..enggg.. aku..


ucapnya terbata.. seperti ragu mengatakan apa yang ada dipikirannya..


aku diam menunggu..


"ehmmm"


kubuyarkan lamunan sinta..


" ini mbak, kalau mbak ga keberatan aku mau pinjam uang mbak?? "


" aku ada keperluan sedikit mbak"


katanya lagi..


" biasanya kalau mau uang kan harus kerja ya?? setahuku seperti itu"


kataku sarkas.


" iya mbak, aku akan melakukan apa yang mbak suruh!"


"benarkah??"

__ADS_1


" iya mbak.."


" baiklah.. aku mau kamu mencuci semua pakaianku, kamu beberes rumah dan memasak setiap hari, selain itu kamu juga harus mengerjakan apa yang selalu disuruh ibu padaku.."


bagaimana sinta? apakah kamu setuju?"


tampaknya dia berpikir.. entah apa yang dipikirkannya aku tak peduli. aku hanya ingin membalas perlakuannya padaku dulu, bagaimana dia menghinaku, menuduhku hal yang tak pernah kulakukan.. sekarang kamu harus merasakan apa yang kurasakan dulu.. dendamku dalam hati harus berbalas, pikirku.


" iya.. baiklah mbak!"


" aku perlu uang lima ratus ribu mbak!"


katanya lagi tak tahu malu..


" wah.. wah.. bisa saja aku beri uang yang kamu mau.. tapi.. kamu harus tau kalau bayaranmu setiap hari aku hitung lima puluh ribu.. jadi jika aku beri kamu lima ratus ribu hari ini kamu berhutang padaku untuk sepuluh hari kedepan, kamu mengerti???


aku berpikir.. aku masih terlalu baik memberinya lima puluh ribu perhari tetapi tak apalah.. walaupun biasanya ibu memberiku lima puluh ribu seminggu.. itupun dengan pekerjaanku yang segunung tak pernah habis.


"iya mbak aku mengerti!"


kemudian aku keluarkan uang dari tasku lima ratus ribu.. kuberikan pada sinta.


" terimakasih mbak"


katanya lagi..


aku tak menyahut lagi.. aku berlalu pergi mencari kak devan..


kemana dia?? apa dia pergi kekamar??


aku ingin pulang sekarang..


aku lelah melakoni drama yang pemerannya salah satunya adalah aku .


" kak, ayo kita pulang!"


kataku pada kak devan, setelah kutemukan dia ada dikamar sedang berbaring.. masih saja melamun tak jelas.


" ee eh.. iya nin.. aku beberes dulu"


katanya seketika langsung beranjak.. sepertinya dia beneran terkejut kali ini..


aku menahan tawa takut dia tersinggung, karena aku tak sengaja membuatnya terlonjak..


" kalau mau tertawa.. tertawa saja nin.. jangan ditahan"


katanya sambil memandangku.


" ha..ha..ha..ha.."


aku tertawa terbahak- bahak melihat ekspresinya kesal.


" maaf.. maaf kak, aku tak sengaja..


hahahaha"


aku tertawa lagi.


dia hanya diam sambil menatapku.. lalu bangkit menghampiriku.. dia menggelitik pinggangku dan kubalasbjuga menggelitik..


kami berdua tertawa terbahak- bahak..


kemudian kak devan memelukku sambil nafasnya memburu, terengah- engah dia berbisik..


" aku mencintaimu nin, sangat!"


" aku juga mencintaimu kak!"


memang benar kata orang, bahagia itu sederhana.

__ADS_1


bersama orang yang kita cintai, saling mengerti dan memahami, saling percaya.. akan membuat hidup kita berwarna warni.. indah seperti pelangi.


__ADS_2