
Seminggu telah berlalu setelah kejadian yang menimpa kami
aku belum menanyakan juga pada mbak lela perihal ibu
selain karena harus istirahat total minimal dua minggu, kak devan juga sangat sangat posesif . tak membiarkanku melakukan rutinitasku.
ini tidak seperti kak devan saat aku hamil bian.
saat itu dia tak terlalu peduli.. biasanya hanya bertanya sudah makan atau sudah minum vitamin atau mungkin sudah tidur siang . pertanyaan yang lumrah bagiku saat tinggal dirumah ibu
tapi kini.. turun dari ranjang tempat tidurku untuk kekamar kecil pun dia bergegas ingin menggendong..mau makan diantarkan kekamar dan disuapi.. aku merasa seperti orang pesakitan .
aku ingin melakukan rutinitasku..
dan bian juga sikecilku yang tak kecil lagi ikut- ikutan posesif.. menungguku seharian dikamar sepulang dia sekolah.. katanya nanti adek bayi nangis kalau bunda ga dijaga..
akhhh.. sekarang aku merasa ini sangat berlebihan.. aku baik baik saja..
tapi aku tetap menurut dan menjalaninya dengan tersenyum cerah agar mereka tak merasa kesal dan marah.
aku berpikir mungkin kak devan merasa memiliki kesempatan kedua kali ini mengurusku
"nin.. kamu ingin apa"
katanya saat aku ingin beranjak dari tempat tidur.. ingin sekedar berjalan dan berdiri di balkon menikmati semilir angin.
"aku ingin ke balkon kak.."
ucapku.. lalu dia segera menuntunku..
"aku tak apa apa kak.. jangan seperti ini aku hanya hamil tidak sakit"
kataku lagi sambil tersenyum
"iya nin.. tak apa apa aku senang melakukannya"
katanya dengan senyum mengembang
sesampai di balkon.. aku memulai pembicaraan tentang ibu.. aku ingin menuntaskan ini semua.
"kak.. apa tak perlu mencari kabar ibu"
kataku hati hati
"tak perlu nin"
katanya dengan ekspresi sedih
"dia bukan ibuku nin"
katanya lagi sekarang sambil menatapku
aku yang terkejut dengan fakta ini
"maksudnya kak"
"sepertinya aku anak ayah nin.. ibuku sekarang adalah istri keduanya"
katanya lirih
"lalu sinta kak"
kataku penasaran
"sinta adikku adik kandungku"
"aku mulai mengingat semuanya nin.. walapun hanya separuh karena saat itu aku masih kecil"
"maksudnya kak"
__ADS_1
aku semakin kesini semakin tak mengerti arah pembicaraan kak devan.. aku yang bodoh atau aku tak tau apa apa soal itu
"aku akan menceritakan semuanya nin"
kata kak devan mulai bercerita
" kalau aku tak salah mengingat dulu ibu adalah pembantu di rumahku, dia termasuk pengasuh....karena seingatku ibu sakit- sakitan.. suatu hari ibuku meninggal.. aku juga tak tahu kenapa.. lalu ayah menikahi ibuku yang sekarang karena melihat dialah yang selalu menjagaku dan sinta...tapi beberapa bulan kemudian ayahku pun meninggal."
"ibu sudah ku anggap ibuku sendiri.. walaupun aku tahu dia memiliki sifat yang tak baik.."
kata kak devan terlihat sedih
"sinta tak tahu hal ini.. tapi suatu saat aku akan memberitahunya"
"dan tentang rumah itu.. itu rumah ayah yang diwariskan untukku dan sinta"
"yang menjadi keanehan bagiku nin.. setelah ayah tiada hidup kami begitu susah.. yang katanya ibu uang ayah dipakai bayar hutang hutang ayah.."
"setelah aku mulai remaja dan mengerti.. aku merasa selama ini dia selalu memperdayaiku.. aku tahu hal itu.. tapi aku sangat menyayanginya.. aku sudah menganggapnya ibuku..karena aku tak memiliki siapapun lagi.. jadi aku tak mau ambil pusing hal itu"
"puncak kemarahanku adalah ketika mengetahui sinta dijual dan kamu terus menerus mendapat penghinaan .. aku merasa aku tak sanggup lagi menghadapi ibu"
"sekarang terserah padamu nin.. bagaimana kamu akan menghadapi ihu"
kata kak devan usai bercerita..
sebenarnya aku bingung.. dulu yang kutahu itu memang ibu kandungnya.. kak devan ataupun ibu sangat baik menutupinya..tapi tak masalah bagiku..
aku berpikir tentang ibu.. tentang sikapnya.. tentang kejadian ayah dan ibu kak devan.. apa ada hubungannya dengan ibu atau tidak..
segalanya menjadi bertambah rumit.. sepertinya aku akan memberi saran kak devan agar kita pindah lagi kerumah ibu agar lebih bisa mengawasi ibu yang sudah keterlaluan.
"kak, bagaimana kalau kita pindah lagi kerumah ibu kak"
kataku pada kak devan
"untuk apa nin?"
"aku hanya ingin mengawasi ibu"
kataku lagi pada kak devan
"tak perlu nin.. biarlah saja dia.. aku tak ingin berurusan dengannya lagi"
"aku tak mau kamu celaka"
kata kak devan sambil menatapku
"baiklah kak.. kalau itu maumu"
akhirnya aku juga berpikir tak perlu mencari masalah dengan orang seperti itu..
drrrtt.. ddrrrttt..dddrrttt..
hapeku berbunyi.. padahal hape ini baru ku aktifkan lagi.. karena sejak kejadian bersama ibu.. hapeku disimpan kak devan.. karena menurutnya hape juga bisa membuatku berpikir banyak
kulihat dilayar ibu yang menelpon.. langsung kutunjukkan pada kak devan..meminta persetujuannya mengangkat telpon
dan dia mengiyakan.. mungkin juga ingin tahu mau ibunya
"halo..iya bu.."
kataku ditelpon
"anin.. mana sertifikatnya.. cepat kamu antar kemari..jika tak ingin kamu dan devan kembali celaka"
katanya sambil mengancamku
kak devan memberi tanda dengan tangannya.. yang berarti katakan tak ada
__ADS_1
karena aku me loudspeaker panggilan ibu agar kak devan mendengar juga
"maaf bu.. sertifikatnya tak ada di sini bu.. karena sudah kugadaikan lagi.. aku butuh uang bu"
kataku berbohong
kak devan mengancungkan jempolnya padaku
"apa..?? makanya kalau tak punya uang jangan sok mau membeli rumahku.. orang miskin ngaku kaya.. ya begini ini"
kata ibu terus mengumpat
aku dan kak devan tersenyum mendengar ocehan ibu yang lebih mirip mengatai dirinya sendiri daripada mengomeliku
"iya maaf bu.."
kataku lagi..agar dia tak curiga
"jangan main main anin.. kamu akan tahu akibatnya.. kali ini aku tak mau menggertak lagi.. aku akan benar benar menghabisimu dan devan"
katanya sembari menutup telepon
aku sedikit terkejut dengan ucapan ibu.. aku berpikir..apa dia yang membunuh ayah dan ibu kak devan kalau melihat ancamannya, sekarang aku merasa stress memikirkan ibu.. perutku sedikit kram..
aku mulai meringis.. tapi kak devan belum menyadarinya
"arrgghh.."
kataku mengerang dengan pelan
"kenapa nin"
kak devan panik tiba tiba mendengar aku mengerang.. dia melihatku meringis..
lalu dengan sigap menggendongku kembali ke tempat tidur untuk berbaring
"perutku kram kak"
kataku masih meringis
dengan sigap ia mengambil minyak yang ada dinakas dan mengolesi punggung..perut dan pinggangku.. agar terasa sedikit hangat..
lalu kulihat dia keluar kamar tanpa berkata apa apa..
sesaat kemudian datang dengan secangkir teh hangat
"minum dulu nin.."
katanya sambil menyuapiku minum seraya masih meniup
aku hanya menurut padanya.. aku melihat betapa tulus suamiku padaku..
"kak.. kapan kita ziarah ke makam ayah dan ibumu"
kataku mengutarakan yang ada dibenakku.. karena selama ini seingatku kami berziarah hanya waktu aku menikah dengannya saja.. hanya sekali..
"kak..kita perlu mengunjungi rumah ayah dan ibu.. agar dia merasa senang.. apalagi ada bian dan sebentar lagi ada adiknya juga.. agar ayah ibu dari atas sana ikut menjaga kita"
kataku lirih pada kak devan
"tapi nin.. kata ibu.. ayah dan ibuku yang disuruh ibu memanggil tante itu jahat jadi aku tak perlu mengunjungi makamnya"
kata kak devan padaku
"kak.. seberapapun jahat orang tua kita.. dia tetaplah orang yang berjasa pada kita.. kak devan tak boleh berbicara seperti itu.."
kataku pada kak devan sambil tersenyum
"iya nin.. siapa tahu dengan begitu hidup kita lebih tenang ya nin"
__ADS_1
"iya kak..pasti.."
kataku sambil tersenyum