
kesibukan di cafe membuat kami lupa akan ibu.. banyak orderan cake dari pengunjung.. tapi aku sudah mengantisipasi hal ini.. jadi aku sudah menambah dua pegawai lagi
terpikir ingin mengajak sinta ikut bekerja dicafe . tapi biarlah selesai dulu urusan ibu.. baru aku bisa dengan tenang mengajak sinta.
ddrrtt.. dddrrtt.. ddrrtt..
"halo anin.. kamu apa kabar"
ternyata mbak lela yang menelpon
"aku baik mbak.. mbak sendiri bagaimana?"
"aku juga baik nin.. aku mau informasikan nin.. kalau ibumu kedatangan tamu hari ini sekitar empat orang.. wajahnya seram berambut gondrong dua orang.. dan dua orang lagi berambut cepak."
kata mbak lela menyampaikan tujuannya menelponku
"siapa ya mbak"
tanyaku
"aku tak tahu nin.. aku tak kenal"
katanya lagi
"baiklah mbak.. terimakasih infonya"
aku menutup telpon dari mbak lela.
brak.. brak...
suara apa itu.. aku bergegas keluar dari dapur melihat terjadi keributan apa di cafe
mereka memporak porandakan cafeku.. kaca pecah meja dan kursi pun sudah tidak pada tempatnya.. sungguh keterlaluan
kulihat ada beberapa orang yang membuat keributan . aku belum melihat kak devan
tubuhku bergetar.. aku ketakutan..
"bawa anin masuk.. cepat"
kudengar teriakan kak devan pada salah satu pegawaiku.. yang akhirnya langsung menarik tanganku agar segera bergegas pergi dari sana..
aku juga melihat sekilas kak devan sudah berlumuran darah dipelipisnya..
sepertinya terjadi baku hantam tadi..
aku lemas... air mataku mengalir.. aku ketakutan.. lututku bergetar.. sampai akhirnya seorang pegawai mengangkatku masuk keruangan kak devan.
"ada apa diluar ri?"
tanyaku dengan suara gemetar pada ari pegawaiku dicafe
"tidak jelas bu.. tadi beberapa orang masuk.. kemudian membanting meja dan memukul pak devan membabi buta disaat pak devan sedang mengecek kasir."
"tak satupun kata yang dikeluarkan orang orang itu bu.. mereka hanya memukuli pak devan dan pegawai lain yang mencoba menghalanginya"
cerita ari padaku yang terus menangis sesengukan.. terus terang aku takut kak devan terluka..
"telpon polisi ri.."
kataku lagi masih terisak gemetar ketakutan
dor..dor.. dor
suara pintu yang diketuk dengan keras..
kupegang tangan ari.. aku ketakutan..
"tenang bu.. ibu sembunyi dulu dibawah meja ini.. biar aku yang buka pintu"
kulihat wajah ari juga tegang.. dia mengambil tanganku dan membawaku kemeja kak devan agar aku bersembunyi..
brak.. brak..
kudengar pintu ini akan didobrak.. ya Tuhan selamatkan aku.. aku takut.. terus kurapalkan doa dalam hati..
__ADS_1
ceklek..
akhirnya pintu dibuka oleh ari..
"mana perempuan itu"
katanya berteriak . aku tak mengenali suara itu.. siapa dia..kenapa dia mencariku..
ari hanya diam.. aku tak mendengarnya mengucap satu kata pun.. aku mengintip..
kulihat laki laki itu panik.. kemudian berlari ke arah belakang cafe .
lalu kulihat juga ari mengikutinya namun dia hanya berdiri di depan pintu.. menoleh ke kanan dan kekiri . sepertinya memastikan situasi sudah aman.
lalu kudengar langkah mendekat..
dan ternyata ari mengulurkan tangannya padaku
"mari bu.. orangnya sudah pergi.. banyak polisi didepan"
katanya kemudian setelah aku sudah benar benar berdiri
"ayo ke depan ri.."
kataku sambil berpegangan berjalan keluar ruangan..
aku merasa lemas.. kepalaku pusing.. seperti berputar putar
"dimana pak devan?"
tanyaku pada pegawai yang lain sesaat setelah aku berada diluar ruangan tempat aku bersembunyi tadi
"kak..."
aku berteriak saat kulihat kak devan terbaring dilantai berlumuran darah dan sedang dibantu duduk oleh pegawaiku
"ayo kerumah sakit kak.."
kataku pada kak devan
tanpa menunggu jawaban kak devan lagi kuminta pegawaiku membantu mengangkat kak devan masuk ke mobil..
kenapa ini terjadi.. apa motif mereka berbuat seperti ini.. apa yang sebenarnya diinginkan dari kami..
aku terus bertanya tanya dalam hati
kuusap wajah kak devan dengan tissue saat dilampu merah..
aku terus menangis melihat kondisinya.. dia masih belum sadarkan diri.. semoga kak devan baik baik saja.. doaku tak putus dalam hati..
tiba dirumah sakit kak devan dibawa menuju ugd untuk ditindak lanjuti.. aku hanya menunggu diruang tunggu
perasaanku hancur.. aku takut sekali terjadi apa apa pada kak devan..
pov ibu mertua
rencanaku kali ini harus berhasil.. aku berniat menakuti anin dan devan dengan menyewa empat preman yang terkenal sadis..
sebenarnya niat untuk melukai tak ada.. aku hanya ingin sedikit menggertak mereka.. agar tak terbiasa membantahku dan mencampuri urusanku
aku berharap gertakanku kali ini akan memberikan harapan kalau anin dan devan akan kembali menurut dan memberikan sertifikat rumah ini.
hari hariku penuh ketakutan karena dikejar kejar penagih hutang..
aku bingung harus bagaimana lagi..
aku tak berani keluar rumah..
teman teman pun mulai menjauh takut terkena imbas perbuatanku
sampai saat ini aku juga tak menemukan sinta..
kemana dia pergi setelah kabur dari rumah sakit.. aku tak. dapat menemukannya
selama mengintai devan dan anin.. orang suruhanku pun mengatakan mereka tak pernah bertemu sinta..
__ADS_1
aku heran.. kemana sebenarnya sinta pergi..
ladang uangku satu per satu hilang..
aku bahkan tak punya uang untuk makan
uang cash yang kumiliki hanya sisa dua ratus ribu rupiah
ddrrtt.. ddrrtt..
"halo bos.."
anak buahku menelpon
"gimana.. apa beres?"
"maaf bos, target wanita tak kami temukan dan yang laki laki sudah kami buat babak belur"
"apaaa??.. dasar tak becus"
"kenapa melukai yang laki laki.. kamu harusnya lukai yang perempuan"
"maaf bos.. kami pikir keduanya bos"
"dasar tak becus"
kututup telpon.. sekarang aku merasa bingung.. bagaimana keadaan devan.. apa dia selamat..
aarrggghhh...
kujambak rambutku sendiri.
aku merasa frustasi..
semoga mereka tak tahu aku dalang semua ini..
kali ini aku kepikiran rencana menculik anin.. akan kusiksa dia agar mau menyerahkan sertifikat rumah ini..
aku tersenyum setelah mendapat ide cemerlang ..
akan kusekap dia digudang tua dekat perbatasan kota.. pasti tak akan ada yang mengetahuinya..
pov end
ceklek...
dokter keluar dari ruang ugd..
"gimana suami saya dok"
kataku mencerca dokter yang keluar dari ruangan itu
"tunggu ya bu.. bapak devan sedang dibersihkan luka lukanya.. tak ada luka serius.."
kata dokter padaku
"syukurlah.."
kuucap banyak syukur dalam hati..
"sebentar lagi sudah boleh pulang bu.. silakan langsung selesaikan dulu administrasinya"
katanya lagi
"baiklah dok.. terimakasih"
kataku mengucapkan terimakasih kepada dokter
tak henti kuucap syukur.. kak devan baik baik saja.. tak ada luka serius .
sekarang aku akan menyelesaikan administrasi..
aku harus menyelidiki dalang dari kehancuran cafe kami.. semoga tak ada campur tangan ibu..
kalau sampai ini semua ulah ibu.. aku benar benar tak kan memaafkannya
__ADS_1
besok aku dan kak devan ada panggilan kekantor polisi atas kejadian tadi .
tapi yang aku sayangkan dari semua laki laki yang membuat keributan tadi tak ada satupun yang tertangkap