Dendam Istri

Dendam Istri
Bab 50


__ADS_3

Hidup kadang tak sejalan dengan keinginan.


kita sudah menghindari masalah.. tapi kenyataan masalah itu akan selalu datang.


kak devan dan aku sudah melalui banyaknya kerumitan bersama.. tapi apakah ujian itu tak kan berhenti.. ya kuakui Tuhan selalu menguji umatnya sesuai batas kemampuannya..


tapi jika boleh memilih aku sama sekali tak ingin diuji.. namun ujian itulah yang mendewasakan kita.


ceklek..


kulihat kak devan berbaring dengan mata terpejam.. mungkin dia tertidur setelah tadi aku mengintip dibalik kaca pintu ugd, kak devan disuntikkan obat


banyak lebam diwajahnya.. ada beberapa luka ditangan..


tak kuasa menahan laju airmata yang menetes sejak tadi..


aku tak tega.. kasihan kak devan.. demi aku terlindungi dia rela mendapat pukulan agar orang orang tak mengejarku.


kuusap punggung tangannya lembut.. kucium keningnya menyalurkan sedikit kekuatan yang kupunya.. kubisikkan kata kata cinta agar dia terbangun.. tak kusadari air mataku menetes mengenai punggung tangannya..


perlahan kedua mata itu mengerjap.. menyesuaikan dengan silaunya cahaya.


kak devan mengeratkan tangannya padaku dan tersenyum


"apa kamu baik baik saja sayang? jangan menangis"


"bagaimana dengan dedeknya diperut?"


katanya lagi sambil matanya melirik perutku dan kemudian mengusapnya lembut


"kami baik baik saja ayah"


kataku seraya memberikan senyum terbaik


"kak, apa ini sakit?"


kataku sambil mengusap lembut luka dipipinya


"aauuww.. sakit sayang"


katanya meringis membuatku panik


"maaf kak.. aku panggil dokter ya"


"tidak sayang.. aku sudah punya obatnya.. dan kamu bisa memberiku obatnya"


katanya sambil tersenyum


"mana sayang.. biar ku oles"


kataku lagi


"obatnya cium sayang.. cium disini..disini..disini.."


katanya sambil menunjuk semua sisi wajahnya sambil tergelak


"ya baiklah sayangku.."


aku langsung melakukan yang diminta..


dan kemudian dia tertawa geli..


"makasi sayang"


katanya lalu mengambil tanganku dan menciumnya


"oiya kak.. apa kak devan mau pulang sekarang? tadi dokter bilang sudah bisa pulang jika kak devan sudah terbangun"


"ayo.. kita pulang.. aku kangen bian dan kangen peluk bundanya juga"


katanya dengan ekspresi sumringah


kupapah kak devan naik ke mobil.. yang sebelumnya disupiri oleh pegawai cafe


begitu rumitnya hari ini.. membuatku sangat sangat lelah


sepanjang perjalanan kupandangi pohon pohon besar peneduh jalan...


tak sampai berjam jam kami sudah sampai dirumah ayah..


"ada apa ini anin.. kenapa devan terluka begini"


tanya ayah sambil membantu memapah kak devan masuk kedalam rumah

__ADS_1


"iya ayah.. tadi ada yang membuat keributan dicafe.. tapi sekarang sudah ditangani polisi ayah.. semua baik baik saja"


kataku sambil menceritakan bagaimana kejadian tadi berlangsung


ddrrrtt.. ddrrttt..


hape kak devan berbunyi


"halo.. ada apa bu?"


ternyata ibu yang menelpon


"maaf bu"


"iya nanti aku kesana bu"


"iya bu.. mungkin besok atau lusa"


"aku usahakan bu"


aku hanya mendengar suara kak devan.. entah apa yang dikatakan ibu padanya.


kulihat kak devan menghela nafas berat..


ekspresinya tak terbaca..


"kenapa kak"


tanyaku hati hati


"ini nin.. ibu minta kita tinggal disana lagi.. karena ada teman ibu yang datang dan menginap"


katanya sambil mengusap lenganku


"lalu?"


tanyaku lagi


"aku tak mau nin.. sudah cukup ibu melakukan banyak hal pada kita.."


"trus gimana kalau ibu marah kak"


tanyaku sedikit khawatir


katanya lagi


"iya baiklah.. itu lebih baik"


kataku kemudian


"kami kekamar ya ayah.. bian mana ayah?"


kata kak devan pada ayahku


"iya.. istirahatlah devan.. bian tadi pergi bersama rian.. katanya mau ke wahana..


biarlah anakmu juga sudah besar.. biar rian yang menjaganya"


kata ayah menjawab sambil terkekeh


"iya ayah"


lalu kami berdua masuk kekamar..


kubantu kak devan membersihkan diri dikamar mandi.. kulihat banyak sekali lebam didada dan dipunggungnya serta di lemgannya.. sungguh miris sekali.. kasihan kak devan.. biar nanti kuoles salep agar cepat hilang lebamnya..


kemudian aku juga memakaikan pakaian gantinya agar dia nyaman..


karena baju yang tadi dipakainya penuh darah.. aku mencucinya pakai tangan agar noda noda nya bisa hilang


setelah itu aku kemudian membersihkan diri dan berbaring disebelah kak devan.. yang kulihat sudah memejamkan mata .


tertidur atau tidak aku tak tahu.. biarlah dia istirahat sejenak.


kupikir lagi ada yang janggal dari keributan tadi.. preman preman itu tak mengambil apapun yang ada dicafe termasuk uang yang ada dikasir hasil penjualan hari ini..


dia hanya memukuli kak devan dan ingin mencelakaiku


aku sangat yakin ada dalang yang mungkin sangat membenciku


tapi siapa.. kami tak punya musuh.. yang membenci kami hanya satu orabg yakni ibu..


tapi aku tak boleh terus berprasangka buruk pada ibu.. siapa tahu ibu sudah berubah..

__ADS_1


tapi lalu siapa yang bertemu ibu dirumah laki laki yang berjumlah empat orang berpakaian seperti preman menurut informasi dari mbak lela


apakah orang orang ini yang dimaksud mbak lela..


kalau benar ibu sangat keterlaluan.. dia mencelakai kak devan..


aku akan menelpon mbak lela sekarang


kulangkahkan kakiku kebalkon kamar agar tak berisik dan kak devan tak terbangun.. karena kali ini sudah kudengar dengkuran halus dari kak devan.


tut.. tut.. tut..


"halo.."


terjawab telponku oleh mbak lela


"iya mbak.. ini anin mbak"


"nin.. ibumu kembali didatangi preman tadi pagi itu.. aku sedang mengintip ini.. kelihatannya ibumu marah.. kudengar suaranya membentak orang orang itu.. "


"ada apa sebenarnya nin?


"mengerjakan seperti ini saja tak becus.. belum selesai sudah minta dibayar"


kudengar suara ibu walau samar.. sepertinya mbak lela sengaja bersembunyi dekat rumahku agar aku mendengar pembicaraan ibu


"kami sudah melakukan seperti perintah.. jangan macam macam.. cepat bayar.."


deg..


suara itu.. sama seperti suara laki laki yang menggedor pintu ruangan dicafe saat aku bersembunyi dengan ari


"kamu mau mati"


suara laki laki lain


"lepasss.. kalau tidak aku teriak!"


sekarang suara ibu


"aawww.. nanti aku bayar.. awww.. keterlaluan.. belum beres sudah minta bayar.. dasar preman busuk"


kudengar lagi suara ibu mengumpat


"jangan macam macam.. besok sudah harus ada uangnya.. kamu dengan perempuan tua!"


sekarang suara laki laki mengancam


"halo nin.."


suara mbak lela berbisik


"iya mbak.. makasi banyak mbak atas bantuannya"


kataku pada mbak lela..


aku sangat berterimakasih pada mbak lela atas bantuannya selama ini


"kamu dan devan tak apa apa kan nin?"


tanya mbak lela


"iya mbak.. aku tak apa apa.. tapi kak devan terluka mbak.. tadi ada keributan yang dibuat beberapa preman dicafe kami"


"apa?? jangan jangan ini preman yang sama nin..?"


"aku tak tahu mbak.."


"oya mbak.. apakah mbak ada yang mau bekerja sebagai pembantu dua hari saja mbak"


"untuk siapa dan dimana nin"


"kata ibu mau ada temannya datang.. tak mungkin bagiku dan kak devan pergi kesana.. taulah mbak.. sepertinya kami juga harus mencurigai ibu.. setelah aku mendengar obrolan tadi"


"oo.. iya nin.. ada sih nin.. temanku tadi kesini mau cari kerja coba kutanya"


kata mbak lela lagi


"iya mbak.. tolong ya mbak.. sekali lagi makasih banyak mbak"


kataku.. kemudian kami mengakhiri obrolan yang sangat mengejutkan bagiku


kali ini ternyata ibu sudah terang terangan ingin mencelakai kami..

__ADS_1


bagaimana ini.. aku harus membicarakan dengan kak devan agar kami bisa lebih waspada lagi


__ADS_2