
"ayo nin, kita pulang"
"tak ada lagi yang perlu kita bicarakan pada ibu!"
kak devan berkata padaku sambil menggenggam tanganku mengajakku beranjak dari sana.
"devan.. devan.."
"apa maksudmu anin pemilik rumah ini?"
tanya ibu menyelidik dengan tatapannya yang bingung
"ini rumah anin bu"
"anin, sudah membelinya dari tempat ibu meminjam uang"
kata kak devan sedikit menjelaskan pada ibu.. bahwa rumah ini telah kubayar dan menunggu proses sertifikat jadi saja.
ibu terlihat tak terima dengan kenyataan ini.
" jangan main- main kamu devan"
"tak mungkin wanita ini mampu membeli rumahku"
ibu terus menggelengkan kepalanya tanda ia tak percaya dengan apa yang didengarnya
"apa yang tak mungkin bu"
"semua mungkin terjadi, jika ibu masih tak percaya ibu bisa bertanya pada rentenir tempat ibu meminjam uang"
kak devan terus meyakinkan ibu sambil memutar bola matanya malas.
"jangan bercanda devan, hutangku sangat banyak, darimana wanita ini mendapat begitu banyak uang."
" dan kamu anin jangan coba- coba mempermainkanku"
ibu terus mengoceh sambil menunjuk- nunjuk kearahku dengan kemarahannya.
"sudah cukup bu"
"sudah cukup ibu terus menghinaku"
"aku bukan anin yang dulu yang bisa ibu hina sesuka hati"
"kalau ibu tak suka tinggal disini karena merasa menumpang.. ibu tinggal bayar saja berapa lama ibu akan tinggal disini"
"aku lelah mendengar ibu"
kataku menghentikan ibu berbicara menghina padaku.. sudah cukup aku sakit hati karena ibu..
aku berkata begitu aku tau ibu pasti terluka akupun juga terluka dengan perkataanku sendiri.
"benar kata anin bu, jika ibu merasa tak nyaman menumpang, ibu bisa membayar uang sewa pada anin.. agar ibu bisa merasa tenang"
kak devan menambahkan dan membenarkan perkataanku.
"kalian....arrrgghhhh...!"
"sekarang jawab ibu.. kalian bawa kemana sinta?"
" kemanapun kalian sembunyikan aku akan menemukannya"
"dia harus bekerja untukku"
kata ibu berteriak
berbicara menanyakan keberadaan sinta.
Dia mungkin dari tadi penasaran karena sampai sekarang sinta tak muncul dihadapannya dan tak ada juga bersama kami datang.
"cckk..cckkk..."
"sadarlah bu"
"sinta sudah pergi.. aku tak tahu dia kemana dan akupun tak peduli"
kata kak devan betbohong pada ibu.
__ADS_1
"semua karena ibu, semua gara- gara ibu.. dan semua salah ibu"
"pekerjaan apa yang ibu berikan pada sinta?"
"ibu menjual sinta? dimana hati nurani ibu ?"
"ibu keterlaluan!"
kak devan berteriak pada ibu dengan amarahnya yang memuncak.
setahuku kak devan sangat menyayangi sinta. dia sangat menjaga sinta dalam pergaulannya. sinta mengalami seperti ini membuat kak devan merasa sangat bersalah karena dia sibuk bekerja hingga tak tau apa yang dialami oleh sinta.
Deg...
ibu terdiam, sepertinya dia shock karena kak devan ternyata sudah mengetahui apa yang ibu lakukan pada sinta
kali ini kulihat ibu menunduk dalam.
"ibu seharusnya malu betbuat seperti itu"
kak kak devan lagi pada ibu
"hah.. malu katamu.. kenapa..? toh sinta menikmati pekerjaannya"
"ini sudah biasa di kota besar.. kenapa harus malu?"
"dan satu lagi, dia harus balas budi pada ibu"
ibu berbicara dengan mendongakkan kepalanya sambil menyerigai.
ya aku lihat ibu sama sekali tak merasa bersalah apalagi berdosa.
ibu seperti merasa tertantang untuk mendapatkan sinta kembali.
entah apa yang ada dipikiran ibu...
seharusnya ibu sebagai orang tua mengayomi dan mendidik bukan malah menjerumuskan ke hal yang sesat seperti ini.
kemudian ibu beranjak dari duduknya dan berjalan sambil menghentak- hentakkan kakinya melangkah menuju kamarnya. Semua kelakuan ibu membuatku geleng- geleng kepala.. ibu kekanakan.
kak devan membuyarkan pandanganku yang terpaku pada ibu.
kak devan kembali menarik pinggangku untuk dirangkulnya sambil berjalan keluar rumah.
sebelum masuk mobil, aku pamit kerumah mbak lela sebentar, aku mengatakan ada keperluan sedikit dengan mbak lela.. sementara kak devan kutinggalkan didalam mobil.
"mbak... mbak lela..."
teriakku dari teras rumahnya.
"iya nin, ada apa nin?
mbak lela datang dari dalam rumahnya menghampiriku
"maaf mbak.. aku mau minta tolong nih.. bisa mbak?"
"oo.. masuk dulu nin.. kita bicara didalam.. tak enak didengar tetangga lain"
katanya padaku
"begini mbak.. aku ingin minta tolong.. aku dan kak devan mungkin tak tinggal disini lagi jadi bisakah aku menitipkan ibu.. mungkin sewaktu- waktu mbak lela bisa melihatnya walaupun dari jarak yang jauh.."
"aku sedikit khawatir dengan ibu mbak, cuma dia tak mau ditemani"
kataku sambil memohon pada mbak lela sekiranya dia bisa membantuku menjaga ibu.
ibu tipikal orang yang keras, aku yakin dia pasti gengsi untuk memintaku kembali tinggal dirumah ini lagi.
jadi satu- satunya orang yang bisa kumintai tolong menjaga ibu adalah mbak lela
"iya nin, biar aku saja yang menjaga ibu"
"nanti kalau terjadi apapun aku akan segera mengabarimu"
kata mbak lela kemudian mengiyakan untuk menjaga ibu
aku merasa lebih tenang sekarang.
__ADS_1
walaupun terkadang mbak lela suka julid tapi aku tahu hatinya baik.
selama ini dia selalu perhatian dan baik padaku.
setelah kuucapkan terimakasih dan berpamitan ,aku langsung masuk kedalam mobil
kak devan menatapku bingung
"nin, ada urusan apa dengan mbak lela"
tanyanya padaku
"tidak ada kak, aku hanya menitipkan ibu pada mbak lela, aku takut terjadi apa- apa pada ibu kak.. itu juga agar kita sedikit merasa tenang"
aku sedikit menjelaskan tujuanku..
kak devan terpaku diam mendengar penjelasanku
Sepanjang perjalanan tak ada yang berbicara.. hanya suara musik yang distel lewat radio
dan sampai kak devan memarkirkan mobilnya disebuah ruko yang terlihat baru
"ayo turun nin"
dia menyuruhku turun sambil membantu membuka seatbelt ku
aku memandang heran pada bangunan didepanku.. apa yang kita lakukan diruko tertutup ini.. monologku dalam hati
"tempat siapa ini kak?"
tanyaku tak sabar
"ini milikmu nin, hadiah dariku!"
katanya dengan senyuman
aku hanya menatapnya diam.. tak mengerti apa yang dibicarakan.. karena tadi malam kita baru berencana mencari ruko kenapa sekarang ruko ini hadiah darinya.. membuatku bingung saja.
" ruko ini untukmu nin.. untuk kita membuka cafe"
dia berkata lagi.. masih dengan senyumannya
"darimana uang beli ini kak??
aku takut dia meminjam uang lagi.. aku takut kejadian pada ibu terulang..
lebih baik ngontrak daripada beban semakin berat.
"kamu tak usah khawatir nin.. aku dulu pernah meminjamkan uang pada temanku.. kamu tau nin dia sudah sukses sekarang.. dia mengatakan mengembalikan uangku beserta bunganya dengan ruko ini.. sebenarnya aku menolaknya nin.. aku tak enak.. akupun ikhlas dulu meminjamkannya dulu."
"beneran kak??"
aku masih tak percaya.
kini kami sudah masuk kedalam ruko berlantai dua ini.
ruko ini sangat cocok untuk cafe kami karena lokasinya yang sangat strategis.
aku menghambur memeluknya erat. beruntung kak devan memiliki badan yang besar jadi dia tidak terjungkal kebelakang.
kami berdua tertawa menertawakan tingkahku yang hampir membuat kami terjatuh.
melihat ke dalam ruko, ternyata masih ada kejutan lainnya..
ruko ini telah didesain seperti layaknya sebuah cafe.. tinggal menungguku mempersiapkan rekrut pegawai dan membuat daftar menu makanan yang akan dijual.
tanpa kusadari sedari tadi kak devan tersenyum memerhatikanku yang berjalan kesana kemari ingin tahu isi dari ruko
"aku senang melihatmu senang nin.. apalagi kamu tersenyum karena aku .. karena hadiah dariku"
"aku juga senang sekali kak"
kataku menjawab sembari memeluknya erat. aku menangis terharu.. aku tak menyangka mimpi indahku akan terwujud sebentar lagi.
andai ibu ada disini bahagia bersama kami.. pasti kebahagiaanku akan lebih berkali- kali lipat.. monologku dalam hati
aku bersyukur.. kemanapun arahku melangkah, Tuhan selalu menghadiahkan jalan yang indah.. terimakasih Tuhan atas berkatmu yang selalu melimpah.. doaku dalam hati.
__ADS_1