
Setelah sinta sadar, ia dipindahkan keruang rawat kelas 1 yang ku pilihkan untuknya.
"Devan, kenapa dibawa keruang kelas satu?"
"Kalau memang kamu ada uang lebih kamu bisa memberi ibu uang"
"Toh apapun ruangannya, sinta juga tetap dirawat.. untuk apa buang- buang uang!"
kata ibu panjang lebar dan melirikku sinis.
entah dendam apa yang dipunya ibu padaku sampai berakar begitu..
"Anin yang bayar bu!"
"kata anin, kasihan sinta kalau harus gabung dengan pasien lain"
" Sinta baru saja melewati masa kritis, bisakah ibu diam?"
kak Devan berbicara sedikit ketus pada ibu.
" Kamu jangan merasa berharga hanya karena punya uang.. orang hina tetap saja hina!"
kata ibu padaku penuh kebencian
tunggu saja bu, aku yakin sebentar lagi kamu akan memohon padaku.
"Sinta, ada yang ingin aku tanyakan!"
padaku pada sinta sambil menatap sorot matanya yang terlihat kosong.
Dia menatapku dengan tanpa ekspresi.
"sinta, kenapa kamu meminum obat aborsi?"
Sinta diam, seperti shock.
yang aneh ekspresi ibu yang seperti ketakutan, dia menyembunyikan sesuatu dari kami.
"mbak, apa bayiku masih ada?"
"apa dia baik- baik saja?"
"apa dia masih bertahan?"
sinta bertanya dengan sendu sambil terus meraba perutnya yang kini sudah rata.
Deg..
aku kaget.. berarti sinta tak tahu dia sudah kehilangan bayinya hari ini.
"buat apa anak tak ada bapaknya!"
"bikin aib saja"
" ingat sinta kamu harus cari uang untuk aku, kamu juga harus balas budi padaku!"
kata ibu tanpa rasa bersalah berbicara seperti itu pada sinta.
Sinta diam.. seperti mengingat sesuatu yang mungkin terjadi sesaat sebelum dia pingsan.
"ibu.. ibu tega padaku!"
" ibu membunuh bayiku!"
" ibu membunuhnya!!"
" ibu bukan manusia!"
"keterlaluan ibu!"
aku dan kak devan terkejut, kata itu keluar dari mulut sinta.. sebenarnya apa yang dilakukan ibu..
sinta seperti depresi.
" apa kamu bilang? aku membunuhnya?"
" hahaha.. dia pantas mati!"
__ADS_1
ibu tertawa sambil setengah mengejek sinta. dia sama sekali tak punya ekspresi bersalah.
arrrgggghhhh...
arrrgghhhh..
" ibu jahat!"
"ibu jahat!"
sinta terus saja berteriak.. meracau.. sambil terus menarik narik selang infusnya.
segera ku panggil suster jaga..
kemudian suster memberi suntikan penenang untuk sinta.
Sinta pun akhirnya tertidur.
"ibu.. apa yang sebenarnya terjadi??
kata kak devan dengan mata memerah menahan amarahnya.
" tak ada apa- apa!"
kata ibu santai
"ibu, aku bertanya sekali lagi, jangan membuatku benar- benar marah dan tak peduli lagi pada ibu lagi!"
kak devan menekan ibu dengan perkataannya.
"aku menggugurkan kandungannya agar tak menjadi aib, aku memberinya obat aborsi.. dan sekarang aku juga butuh uang aku ingin sinta bekerja lagi atau setidaknya dia menikah dengan seorang juragan kaya!"
"kalau dia hamil, siapa yang mau?"
kata ibu lagi masih dengan tak tau malu.
"jadi ibu ingin menjual sinta, begitu maksud ibu?"
kak devan bertanya lagi sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan ibunya.
"apa salahnya? dia juga terbiasa bekerja di klub, menjadi pelacur, melayani pria hidung belang!"
"apaaa?? jadi ibu tahu pekerjaan sinta selama ini?? tapi ibu membiarkan saja??"
"kenapa bu? kenapa?
kak devan sekarang terlihat frustasi dengan ibunya.
" dia mendapat uang banyak dari sana.. ya biarkan saja.. toh tak apa- apa.. itu juga pekerjaan kan?"
aku benar- benar tak habis pikir dengan ibu.. kenapa ada ibu seperti ini..
atau ibu juga melakukan hal itu dulu..
akhhh aku tak peduli lagi dengan ibu.
"Devan, dengar ya.. jangan sekali- kali kamu melarang ibu mengurus sinta.. dia juga harus balas budi sepertimu!"
"Anin, ayo kita pergi dari sini!"
kak devan bukan menjawab ibu, tapi malah mengajakku pergi dari ruang rawat Sinta.
Dia langsung memeluk pinggangku dari sambil tanpa menunggu jawabku lagi.
Diluar kamar.. aku masih mengikuti langkah kaki kak devan tanpa mengatakan apapun.
Aku membiarkannya berpikir.. bagaimana nengatasi ibu.
aku jadi bingung sendiri bila seperti ini..
apa yang harus kulakukan sekarang.
"kak, aku ingin bicara!"
"ada apa nin?
katanya sambil menatapku.
__ADS_1
"kak, aku sudah membayar rumah ibu, sertifikat masih diproses atas namaku, maaf kak!"
kataku dengan hati-hati
"benarkah nin??"
"aku senang nin, aku juga tadi ingin meminta bantuanmu untuk membeli rumah ibu nin.. karena aku sudah tak sanggup nin.. rumah itu kan peninggalan ayah nin.. walaupun sekarang pemiliknya kamu, tapi setidaknya tak jatuh ketangan orang lain."
" terimakasih banyak nin!"
" memang benar nin, kamu adalah malaikat bagiku!"
"iya kak, sama-sama!"
tak kusangka sama sekali kalau tanggapan kak devan akan seperti itu.. aku pikir dia akan marah.. ternyata semua diluar dugaanku.
aku bersyukur juga memilikimu kak, kataku dalam hati.
"nin, kita harus merencanakan sesuatu untuk ibu agar dia jera!"
kata kak devan ingin berdiskusi denganku.
"melakukan apa?"
aku jadi bingung dengan kak devan.
" nin, bisakah kamu nenyuruh rentenir yang dihutangi ibu agar tetap menagih.. agar dia malu.. setidaknya dia akan mengungkapkan untuk apa uang sebanyak itu"
"aku tak percaya jika ibu mengatakan sinta yang menggunakan uang itu, tadi ibu bilang pendapatan sinta diklub lumayan besar."
kak devan ingin menekan ibunya sendiri dengan menggunakan hutang ibu. yah.. memang sih ibu tak tau kalau aku sudah membayar rumahnya.. tapi.. aku tak tega bila ibu juga dibentak- bentak..
akhhh.. mengapa aku jadi pusing begini.
---
sementara itu dirumah sakit
sekarang ibu sedang menunggu sinta yang masih belum juga terbangun.
sudah 1 jam berlalu akhirnya sinta mengerjapkan matanya.
"sinta, setelah kamu sembuh, kamu harus bekerja diklub itu lagi!"
kata ibu pada sinta. sinta saja masih sakit, mana bisa melayani pria hidung belang.
"ibu keterlaluan!"
"kita perlu membayar hutang sinta . toh pekerjaanmu juga membuat kamu senang, tak perlu lelah tapi nendapatkan uang yang banyak...iya kan.. jangan mencoba membohongiku!"
kata ibu tanpa dosa
"itu hutang ibu, bukan hutangku!"
"kenapa tak ibu saja yang bekerja lagi diklub?"
kata sinta sarkas
"kamu jangan kurang ajar sinta, kalau kamu tak mau aku yang akan menjualmu pada pria-pria itu."
"ibu.. ibu tahu aku sama sekali tak senang dengan pekerjaanku.. aku tak tau kenapa ibu bicara seperti itu..!"
"dan bu.. pemilik klub juga menayakan padaku.. apa ibu mau bekerja lagi?"
kata sinta mengintimidasi ibu.
sinta tau ibunya pernah ada diklub yang sama dengannya dari foto yang dilihatnya dikantor pemilik klub.
dan sinta sendiri bisa bekerja disana karena ibunya juga yang memberi jalan.
ibu tersenyum senang.. sumringah..sepertinya dia memiliki rencana baru
"baiklah sementara kamu disini sedang sakit.. aku yang akan menemui temanku itu"
sinta hanya memejamkan matanya . mengepalkan kedua jari- jarinya berusaha meredam amarahnya.
siapa yang akan menyangka ternyata pepatah itu benar .
__ADS_1
kemana jatuhnya air mengalir.. pastilah akan turun kebawah..
semua berawal dari ibu.. jadi ibu yang harus menyelesaikan semuanya