Dendam Istri

Dendam Istri
Bab 34


__ADS_3

Malam telah datang, aku dan kak devan memilih duduk di balkon menikmati angin malam serta memandang bintang- bintang yang kini bersinar terlihat lebih terang


"kak, sudah lama sekali rasanya kita tak seoerti ini"


kataku memecah keheningan diantara kami.


"iya nin!"


jawabnya singkat.


kak devan menarik tanganku agar beranjak dari dudukku kemudian aku di dudukkan dipangkuannya.


kak devan memelukku erat....kurasakan deru nafasnya hangat membuatku merinding saja.


Sudah sangat lama, kami tak pernah menghabiskan waktu berdua walau sekedar berbicara santai seperti ini.. aku sangat bahagia sekarang..


"aku merindukanmu nin... sangat!"


katanya sambil terus mengecup puncak kepalaku.


"nin, nanti jika masalah ini selesai, maukah kamu berlibur denganku?"


"aku ingin menghabiskan waktu denganmu menggantikan waktu kita yang hilang selama ini"


"jangan pernah berpaling dariku nin"


kata- kata kak devan membuat hatiku melayang -layang seperti ada yang menggelitik.


"aku tak mau peduli ibu lagi"


"biarlah ibu menjalani hidupnya seperti yang dia mau"


"sudah kuputuskan nin, kitta tak perlu lagi terlalu mencampuri urusan ibu..aku akan berusaha mengirimkan uang tiap bulannya untuk kebutuhan sehari -harinya"


"apakah kamu setuju denganku nin?"


kak devan terus berucap tanpa ingin mendengar jawabku.


aku terpaku terdiam.


aku bingung sekaligus merasa senang dengan kata -kata kak devan. ini berarti kedepannya dia akan lebih mementingkan aku ketimbang ibunya.


Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


tak terasa waktu berjalan begitu cepat karena kami mengobrol menikmati kebersamaan kami.


masuk kedalam kamar, kak devan tak mau melepaskanku . dia menggendongku dan terus mencium puncak kepalaku.


kemudian membaringkan ditempat tidur kami.


kak devan menciumku mesra.. sepertinya kali ini dia tak akan melepaskanku.. rangkulannya begitu erat takut terlepas.


kami saling melepas rindu yang selama ini terpendam


inilah kebahagiaan sesungguhnya.. mengatasi masalah dengan cara kami sendiri yang tau.


Keesokan hari aku sudah terbangun dari subuh, seperti hari -hari biasanya aku akan menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah.. apalagi yang kudengar hari ini Rian ujian.. kemudian menyiapkan pakaian untuk kak devan dan Bian.


tepat pukul enam pagi.. ku bangunkan kak devan dengan sebelumnya aku sudah bergegas mandi dan berpakaian.


"kak, ayo bangun..!"


"kak..kak devan.. sayang...!"


kataku membangunkan kak devan seraya menepuk -nepuk pipinya dengan tanganku yang dingin agar kak devan lekas terbangun.


"eeeuuuugghhh...."


lenguhnya dengan mata terpejam


memegang tanganku erat dan menarikku kembali berbaring masuk kepelukannya.


Manja sekali kak devanku.. ini yang kurindu darinya.


"sebentar lagi sayang!"


katanya dengan mata masih lengket terpejam


"hei.. kita harus bersiap.. sudah siang.."


kataku lagi..


"iya sebentar lagi..pelukan dulu.."


bukannya bangun.. malah sekarang membalikkan badanku dan memeluk erat pinggangku dari belakang.


kudengar nafasnya kembali teratur..

__ADS_1


ya.. dia tertidur lagi..


dan sesaat kemudian...


braaakkkk...


suara pintu kamar dibuka dengan kencang, membuatku dan kak devan terlonjak kaget.


"ayah...bunda..."


"ayo bangun.."


kata bian naik ketempat tidur kami kemudian duduk diatas perut kak devan.


"akkhhhh... biannya ayah ganggu aja..ayah masih mau peluk bunda.."


kata kak devan tak tau malu dengan suara merengek


"no..no..no.."


"bunda punyanya bian bukan ayah"


katanya lucu sambil mengancungkan jari kecilnya pada kak devan.


"ayah terus sama bunda.. bian kapan donk ayah?"


katanya lagi merajuk dengan wajah manyun cemberut


"hei.. hei.. anak ayah cemburu ya..!"


"bunda itu punya ayah lho.. "


katanya lagi menggoda bian


"trus bian punyanya siapa?"


bian terus merajuk sudah ingin menangis


"kalau bian itu punyanya ayah dan bunda sayang"


lalu kak devan menyudahi perdebatannya dengan bian.


ia mengambil bian dari pelukanku dan mengangkatnya tinggi - tinggi membuat bian terkekeh


"ayo.. ayo.. bian sama bunda dulu ya.. biar ayah mandi dulu"


kataku ingin mengajak bian keluar kamar


bian menjawabku seraya menggandeng tanganku keluar.


lima belas menit menunggu kak devan sudah siap. kami semua sudah menunggunya untuk sarapan bersama.


ayah dan ibu terlihat tersenyum melihat kami semua bahagia.


"devan, apa rencanamu hari ini?'


kata ayah pada kak devan


"aku akan kerumah ibu yah.. aku ingin menyelesaikan masalah dengan ibu"


katanya menjawab ayah


"ingat, gunakan kepala dingin, jangan terbawa emosi.. ingatlah bagaimanapun dia adalah orang tuamu devan.. jangan terlalu keras padanya"


kata ayah menasehati kak devan


"iya ayah"


katanya lagi.


namun saat ini kulihat kak devan seperti memikirkan perkataan ayah.


entahlah.. aku tak bisa membaca ekspresinya.


bergegas menyelesaikan sarapan kami pun berangkat.


kak devan sudah mengundurkan diri.. dia lebih memilih akan membuka usaha cafe kecil- kecilan denganku.


kami menuju rumah ibu.. sepanjang jalan aku melihat kesamping.. memandangi langit yang mendung.. sepertinya akan turun hujan.. langit seperti mendukung perasaan kami yang sedikit sendu akhir- akhir ini.


tiba dirumah ibu..


kudapati warung ibu tutup.. dan terlihat sepi sekali..


" kira - kira ada tidak ya ibu dirumah?"


kataku pada kak devan seperti sangsi karena kulihat lampu teras masih menyala.. tak biasanya seperti ini..

__ADS_1


"dicoba saja nin"


kata kak devan padaku


tok..tok..tok...


"ibu...ibu..."


kami mengetok pintu rumah seraya memanggil - manggil ibu.


"anin..devan.."


sapa mbak lela


"iya mbak.. kami ingin menemui ibu"


kataku pada mbak lela


"ibumu ada didalam.. tapi sepertinya takut keluar rumah.. kemarin aku lihat ada beberapa orang yang datang.. sepertinya menagih hutang, mungkin ibumu bersembunyi"


kata mbak lela sedikit hati -hati, mungkin karena melihat wajah kak devan yang tanpa ekspresi


" coba kamu ketuk lagi nin.. dan aku permisi duluan ya.."


kata mbak lela lagi seraya berpamitan


tok..tok..tok..


"ibu..ibu..ibu.."


ceklek..


pintu terbuka menampilkan wajah ibu yang terlihat kusut dan masam


"masih ingat pulang kalian!"


"kalian kira ini rumah singgah?"


"jangan kemari kalau tak bawa uang!"


kata- kata ibu ketus. dia berbicara tanpa melihat kami.. karena setelah membuka pintu dia langsung membalikkan badan masuk kembali kerumah.


kami mengekori sambil mendengarnya mengomel.


"cckk...ckkk.."


"kapan ibu sadar bu.. kapan ibu akan berubah?"


kata kak devan pada ibu


ibu menatap kak devan dengan tatapan tajam kemudian berujar padaku..


"pasti kamu ya menghasut anakku untuk membantahku.."


"kamu kira bisa menang melawanku hah?"


kata ibu sambil menunjuk- nunjukku..


aku dian hanya menunggu kak devan bicara..ingin tahu bagaimana pembelaan kak devan terhadapku..


"ibu!"


dia memekik keras


"hentikan bu!"


bentaknya pada ibu


" mulai hari ini aku tak akan kemari lagi.. uang bulanan ibu akan diantar oleh anin suka tak suka.. aku tak ada uang.. anin yang akan menanggung hidup ibu.. semuanya bu.. dan ibu tahu.. rumah inipun sekarang milik anin.. ibu hanya menumpang!"


"sudah cukup ibu menghina anin!"


"aku tak akan pulang sampai ibu mau berubah!"


"ingat bu.. jika ibu butuh.. mintalah pada anin bu!"


"aku tak mau peduli pada ibu lagi!"


kata kak devan dengan amarahnya.


ibu hanya melongo.. antara kaget dan bingung..


aku hanya diam tak menjawab apapun.


biarlah ini urusan ibu dan anaknya, aku tak ingin ikut campur.. takut memperkeruh suasana.


"ayo nin..kita pulang!"

__ADS_1


"tak ada lagi yang perlu kita bicarakan pada ibu!"


kak devan berkata padaku sambil menggenggam tanganku mengajakku beranjak dari sana.


__ADS_2