
mungkin ibu menyesali perbuatannya, dia merasa malu atas ucapan sinta.
tapi memang dasarnya ibu tak mau dipandang rendah, ia sama sekali tak mau minta maaf padaku.
rumah ini terlihat sepi, sinta yang mengurung diri dikamar dan ibu yang sibuk dengan rencana- rencana mengelabui kak devan.
ibu memeriksa beberapa perhiasan yang dibelinya dengan uang pinjaman itu.. tapi dia merasa sayang untuk menjualnya.
" ibu.."
panggil sinta agak keras
ibu bergegas menyimpan perhiasannya kedalam lemari.. tapi terlambat sinta terlanjur melihat.
" apa ini bu??"
" ibu dapat dari mana kalung berlian ini?"
" ini milik ibu!"
katanya sambil merampas kalung ditangan sinta
" kamu jangan mengadu pada devan! kamu dengar sinta???
sinta melengos pergi tak menjawab perkataan ibu.
kesal ya dia kesal..
ibu lebih menyayangi perhiasannya dibandingkan memikirkan membayar hutang agar tak tinggal dijalanan.
aku harus memberitahu kak devan , monolognya.
ddrrrttt... ddrrttt..
" halo.."
" halo kak..., aku tadi melihat ibu mempunyai kalung berlian kak.. mungkin ibu meminjam uang untuk membeli itu kak..."
" ya.. biarkan saja!"
" aku tak akan mengurusnya lagi!"
" tapi kak?"
tut..tut..tuut....
kak devan menutup telpon tanpa mau melanjutkan pembicaraannya dengan sinta.
arrggghhhttt...
teriak sinta frustasi..
" ibu benar- benar ketelaluan.. aku lebih baik mati saja.."
tok..tok..tok...
" iya sebentar.."
" sinta?? upppsss perutmu kenapa???"
deg..
ternyata mbak lela yang bertamu, aku keluar menggunakan daster pres body, karena aku belum berbelanja baju yang longgar.. aku lupa.. aku sedang bersembunyi..
"iya mbak.. ada apa mbak??
aku berlagak tak mendengar yang diucapkan mbak lela , agar tak panjang pikirku.
"sinta, kamu hamil? jadi benar yang dikatakan orang- orang?"
aku diam memejamkan mata, aku yakin ini akan menyebar bak angin..
aku malu.
" iya mbak... ada apa mbak kemari??
kataku berusaha tenang
" aku mau cari ibumu, apa ibumu ada??
" sebentar mbak!"
kataku lagi..
" ibu..ibu.. ada mbak lela bu.."
" ada apa lela??
__ADS_1
" owh tidak bu, aku hanya ingin tahu, kenapa warung tak pernah buka bu??"
" tidak ada, aku hanya tak ingin saja.. aku tak enak badan"
" kalau gitu aku pamit bu.. oya kandungan sinta sudah kelihatan ya bu?"
katanya sambil menyindirku.
aku mendengar perkataan ibu dan mbak lela.. aku malu sekali dengan keadaanku.
siapa yang mau berteman denganku, aku hanya sampah sekarang..
aku ingin mati..kata sinta lagi.
dirumah ayah.. anin sedang bersiap akan pergi mengurus hutang ibu.
akhirnya ayah yang akan membelikan rumah ibu untukku.
jadi aku tak perlu lagi menarik uang tabunganku.
" nin, kamu mau kemana??
tanya kak devan padaku.. dia tak bekerja.. katanya tak enak badan.
" aku pergi sebentar kak, ingin mengurus pengiriman skin care!"
kataku sedikit berbohong.
biarlah nanti kalau sudah selesai kutebis, sertifikat ada ditanganku baru kuberitahu kak devan.
kak devan tak mencegahku lagi pergi.. mungkin dia merasa harus istirahat dirumah.
aku menyiapkan berkas- berkas yang diperlukan untuk mengurus balik nama dan sebagainya.
aku juga sudah menelpon pihak bank bahwa aku akan melunasi hutang ibu.
dan ternyata bukan bank yang dipinjami ibu uang.. tapi rentenir...
tapi ini menjadi lebih mudah bagiku..
karena tak perlu ibu tahu bahwa aku yang membeli rumahnya.
Ditemani ayah aku pergi kerumah rentenir.
rentenir sama sekali tak mempersulitku, dia mengatakan.. ibu sudah lama berhutang dan seperti tak ada niat membayar.
Jadi rentenir, malas berhubungan dengan ibu dan dia niat menjualnya.
proses berjalan dengan cepat.. surat- surat akan jadi sekitar dua sampai tiga bulan dari tanggal transaksi sekarang.
setelah semua selesai, aku berniat mengajak kak devan kerumah ibu. aku ingin melihat keadaan sinta.
"kak, kita kerumah ibu ya?"
" aku ingin bertemu sinta!"
kataku pada kak devan yang sedang melamun.
tanpa menjawab ia langsung beranjak bersiap aga bisa segera berangkat.
" ayo nin, tapi mampir makan dulu ya?"
" iya kak!"
jawabku singkat.
aku tak berani banyak bicara, takut kak devan akan tersinggung, karena yang aku lihat wajahnya masih menyimpan kesedihan atas apa yang terjadi.
dddrrttt ..ddrrrtt...
hape kak devan berbunyi. .. kulihat ibu yang menelpon.
" ada apa bu?"
katanya tanpa mengucap salam
" adikmu devan.. adikmu pingsan!"
" aku segera kesana bu"
kudengar kak devan panik setelah menerima telpon dari ibu..
ada apa lagi dirumah itu..apa ibu bikin masalah lagi.. monologku dalam hati
ckkiittt...
tak jadi kerumah makan , mobilku parkir didepan rumah ibu..
__ADS_1
kak Devan berlari masuk kedalam, aku mengikuti langkahnya dengan rasa penasaran yang besar.
"ibu.. mana sinta?"
" sinta, pendarahan!"
kata ibu panik..
"kenapa bisa bu?"
" ibu tak tahu devan, ibu hanya mau mengecek kamarnya saja tadi, ibu melihat dia sudah pingsan dilantai"
" ayo kita bawa kerumah sakit saja!"
kataku pada kak devan
ibu hanya diam menatapku.. aku sedikit curiga padanya
apa sinta minum obat aborsi, seperti katanya kemarin padaku .. apa yang sebenarnya terjadi.. semoga sinta dan bayinya baik- baik saja. monologku dalam hati.
tiba dirumah sakit, brankar sudah datang untuk membawa sinta ke ugd..
" silakan tunggu disini!"
kata salah satu suster yang membawa sinta masuk keruangan ugd.
" iya sus!"
" maaf mbak, kalau boleh tahu pasien kenapa ini?"
kata suster itu lagi.
lalu kuceritakan kronologinya seperti yang diceritakan ibu tadi.. berharap itu bisa membantu tindakan dokter dan suster didalam.
tiga puluh menit berlalu, belum ada tanda- tanda dokter keluar dari ruangan itu.. kulihat jam sudah menunjukkan pukul tiga sore..
aku teringat kak devan fan ibu pasti belum makan siang..
akhh sebaiknya aku mencari kantin dulu sambil menunggu kabar.
" kak, aku beli makanan dulu ya?"
kataku pada kak devan, hati- hati.
" aku ikut nin!"
dia langsung mengandeng tanganku tanpa melihat atau berbicara lagi pada ibunya.
kulihat ibu diam, acuh tak acuh.
mereka seperti orang asing.
kembalinya kami dari kantin, dokter pun terlihat keluar dari ruangan ugd.
" bagaimana dok keadaan anak saya?"
" anak ibu keguguran!"
ibu terlihat diam kemudian kulihat dia tersenyum walaupun tipis . ada gurat senyum yang hampir tak terlihat dari bibirnya.
" lalu bagaimana keadaannya sekarang dok?"
tanyaku pada dokter tentang keadaan sinta
" maaf mbak.. setelah ini pasien mungkin akan sulit memiliki keturunan!"
deg...
aku terpaku, kaget dengan pernyataan dokter.
" sebenarnya apa yang terjadi dok?"
kataku lagi setelah kukuasai keterkejutanku
" pasien kehilangan janin karena meminum obat aborsi dengan dosis besar, sepertinya memang ingin digugurkan, tetapi sangat disayangkan rahim pasien menjadi terluka."
" maaf mbak.. mungkin pasien akan sadar sekitar dua jam lagi!"
kata dokter sambil menjelaskan padaku perihal keguguran sinta.
ekspresi kak devan dan ibu berbanding terbalik. ibu dengan ekspresi seperti senang.. namun hampir tak terlihat.. aku melihatnya dari binar matanya yang tak dapat berbohong.
sedangkan kak devan ekspresinya terlihat sedih.. sendu meratapi nasib yang menimpa adiknya.
aku akan mencari tahu nanti dirumah.. obat apa yang diminum sinta.. dan kenapa dia meminumnya.
kenapa juga ibu senang dengan musibah yang menimpa anaknya..
__ADS_1
aku sedikitnya paham dengan ibu.. mungkin dia malu karena sinta hamil diluar nikah, atau ibu juga ingin menggugurkan kandungan sinta agar sinta dapat bekerja lagi, setidaknya membantu mencari uang untuk melunasi hutangnya
akhh miris sekali menjadi anakmu bu..