
Bagaimana sekarang caraku agar anin bisa kusiksa dan dia mau menyerahkan sertifikat itu padaku
akhh.. aku suruh saja dia tinggal disini lagi pikirku dalam hati
ha..ha..ha... aku tertawa jahat..
biar kutelpon dia sekarang..
tut..tut...tut..
"halo bu.."
katanya lirih
"anin.. kamu ajak devan kesini ya ibu lagi sakit nin.. rasanya ibu tak mampu berdiri.. dan ibu belum makan nin.. bisakah kamu kesini nin.."
kataku sedikit mengiba.. agar dia tak curiga dan tak tahu aku berbohong
"iya bu.. nanti aku sampaikan ke kak devan ya bu"
kututup telpon sambil bersorak..
tunggu saja sebentar lagi rencanaku akan tercapai..
pov anin
ibu menelponku mengatakan dirinya sakit.. apa benar yang dikatakannya..
tapi suaranya juga terdengar seperti menahan sakit..
"kak.. kak devan.."
"iya nin"
"ibu barusan telpon katanya dia sakit.. dia menyuruh kita berdua kesana kak.. "
"apa.. akh tak mungkin nin sepertinya dia berbohong.. biarkan saja nin"
katanya tenang
"tapi kak.. kalau ibu beneran sakit bagaimana kak?"
terus terang aku khawatir dengan keadaan ibu
"gimana kalau kita kesana dan sekalian membawa dokter saja kak.."
kataku lagi pada kak devan
"iya kita kesana... tak usah bawa dokter nin... nanti kalau ibu beneran sakit.. baru kita panggil dokter"
kata kak devan setelah lama menimbang ucapanku
kami berdua bergegas menuju rumah ibu.. sepanjang jalan tak ada yang bicara.. kami sibuk dengan pikiran kami masing masing
sesampai rumah ibu.. bergegas turun
tok..tok..tok..
lama menunggu tak dibukakan pintu... kami masih sabar menunggu..
dan..
ceklek..
akhirnya ibu membuka pintu..
kulihat dia seperti baru bangun tidur.. wajahnya kusut rambut acak acakan.. mungkin dia belum mandi..
dia hanya melihat kami kemudian berbalik masuk kedalam rumah..
aku dan kak devan saling pandang dan kemudian kak devan mengangguk dan kami mengikuti ibu masuk kedalam
"duduk"
katanya dengan mata mendelik
"kalian berdua berani membantah ibu.. kamu devan anak durhaka.. ingatlah aku yang membesarkanmu.. setidaknya bayar lah balas budimu itu..
__ADS_1
aku cuma minta sertifikat rumah ini saja.. atau kau beri saja uang lima ratus juta.. maka aku akan pergi dari hadapan kalian"
kata ibu dengan amarahnya dan meminta uang
"aku tak ada uang bu"
kata kak devan pada ibu
"bohong..!'
teriaknya lantang mengagetkan kami
"durhaka kamu devan!"
teriaknya lagi
"bu.. sabar bu.. aku tak ada uang ... untuk apa uang itu bu.."
kata kak devan dengan nada rendah tak mau tersulut emosi
"aku mau uang... kutunggu besok.. transfer kerekeningku.. kamu dengar.. kalau tidak jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu pada wanita ini"
kata ibu sambil menunjukku
"kami pamit bu"
kata kak devan sambil menarik tanganku agar segera keluar dari rumah ini
terdengar ibu mengamuk.. melempari kami dengan vas bunga yang ada dimeja dan kudengar juga seperti ada kaca yang pecah..
kami buru buru keluar tak mau menoleh lagi
kudengar dia terus berteriak mengumpat sebelum kami masuk kedalam mobil..
"kak.. apa ibu terganggu mentalnya.. kenapa dia seperti itu kak.."
"aku tak tahu nin.. biar sajalah.. aku tak tahu harus bicara apalagi"
aku diam terpaku.. bingung dengan tingkah ibu yang menurutku sudah kelewatan..
sampai sekarang kami berdua belum tahu untuk apa uang yang diminta ibu.
"halo..iya mbak"
kujawab telp dari mbak lela tak lupa ku loudspeaker agar kak devan mendengar
"nin.. ada apa dirumah ibumu...
kenapa dia terus berteriak nin.."
"biar saja mbak.. tak apa apa.."
"oo baiklah nin.. kalau begitu"
"makasi mbak"
sebenarnya aku ingin minta bantuan mbak lela mengawasi ibu.. tapi takut nanti ada yang terluka.. biarlah aku mengikuti kata kak devan siapa tahu nanti kalau lelah ibu akan berhenti.
sampai dirumah aku sangat lelah...
dirumah ibu tak mengerjakan apapun mungkin karena terlalu banyak pikiran jadi gampang lelah juga..
kak devan masih terlihat melamun.. mungkin dia memikirkan cara menangani ibu yang menjadi sedikit tak masuk akal.
"nin.. aku pergi sebentar ya.."
dia berpamitan padaku..entah mau kemana.. tapi biarlah dia pergi..
"iya kak.. pergilah.."
kataku memberi ijin..
aku tahu kak devan pasti akan mencari informasi tentang ibu..
pov devan
sesudah dari rumah ibu.. pikiranku kalut . tak menyangka ibu seperti ini.. tak masuk akal perbuatannya.
__ADS_1
aku berpamitan pada anin.. tapi tak mengatakan akan kemana.. karena akupun bingung harus kemana lebih dahulu..
lalu kuputuskan menanyai tetangga rumah dan pak rt
aku ingin menanyakan apa yang terjadi pada ayah dan ibu saat aku masih kecil.
aku ingin membuka semuanya sekarang..
aku sudah tak tahan lagi..
pertama kali aku singgah kerumah pak rt.. aku menanyakan kejadian dahulu belasan tahun yang lalu..
namun aku tak mendapat informasi apapun karena pak rt yang sekarang baru menjabat sekitar dua tahun dan dia tak tahu informasi selama itu.. ya..aku akui pak rt usianya lima tahun diatasku
pak rt menyarankan agar aku menemui tetangga yang sudah sepuh.. mungkin dia tahu tentang ceritaku
aku bergegas ketetangga yang bersebelahan empat rumah denganku..
yang aku tahu hanya nenek lasmi yang masih hidup jika aku mencari orang yang sudah sepuh ada dilingkunganku
aku banyak bertanya padanya.. tapi dia hanya mengatakan aku harus mencari pengasuhku yang dulu sempat bekerja dengan ibu kandungku saat aku masih kecil..
namun dia hanya mengingat namanya bi nuh.. dan alamatnya dia hanya menerka mungkin dikampung sebelah karena setahu nenek lasmi saat itu banyak sekali pekerja dari kampung sebelah yang bekerja di daerah rumahku..
aku memutuskan untuk berangkat ke kampung sebelah dengan sebelumnya sudah mengabari anin tentang kepergianku agar dia tak khawatir lagi.
kutempuh waktu sekitar empat jam tiba dikampung nan asri itu..
bingung ingin bertanya alamat bi nuh pada siapa karena tak terlihat satupun orang dijalanan yang sepi itu..
mobilku lajukan sampai masuk ke perumahan yang padat penduduk.. namun hanya terlihat dua tiga saja kendaraan yang melintas
sampai pada rumah sederhana ada yang melambai menyuruhku berhenti
"maaf..mau kemana bang?"
kata seorang laki laki paruh baya yang kutaksir umurnya sekitar enam puluh tahun.
"maaf pak.. saya baru sampai kampung ini.. saya mau mencari bi nuh..mungkin bapak kenal?"
kataku sopan..takut si bapak tersinggung karena kelancanganku bertanya
"ada perlu apa ya?"
katanya bertanya sambil menatapku dari atas kebawah..seperti menyelidiki
"saya devan pak.. ingin berbicara sedikit dengan bi nuh.. mungkin bapak tahu rumahnya"
kataku lagi.. sambil memperkenalkan diri agar lebih meyakinkan aku bukan penipu yang suka mencari cari orang untuk ditipu uangnya.
"ini rumah bi nuh.. saya suaminya"
katanya kemudian sambil tersenyum
"benarkah pak? wah kebetulan sekali.. bisakah saya bertemu bi nuh.. saya anak asuhnya dulu"
kataku antusias pada laki laki itu
"oya.. masuklah kalau begitu.. istriku masih pergi ke warung"
"terimakasih pak"
kataku sedikit sungkan karena disuruh menunggu didalam
"pak..pak.."
kudengar suara seorang perempuan memanggil laki laki itu dengan nada lembut
"iya bu.. disini"
kata bapak itu lagi
"eh..ada tamu toh.. sebentar pak.. tak bikinin minum dulu"
kata wanita itu tanpa melihatku
kupandangi wanita itu.. dia terlihat berumur sekitar enam puluhan tahun sepertinya sebaya bapak ini.. tapi aku merasa wajah itu sedikit tak asing..
__ADS_1
entah mengapa hatiku terasa terpaut padanya.. aku merasa senang sekaligus sedih melihat wajahnya.. ada apa ini dengan hatiku..
apakah dia yang kucari.. ya semoga bi nuh bisa memberi sedikit informasi agar aku tak kalut lagi