
dua hari berlalu..
aku anin merasa khawatir pada ibu.. biar bagaimanapun dia.. dia tetaplah ibu mertuaku..
kata orang setidaknya aku harus bersikap tegas pada ibu.. tapi jauh dilubuk hatiku aku merasa tak tega bila membayangkan ibu sendirian.
sejak mbak lela mengabarkan kondisi ibu . aku selalu merasa gelisah.. tak tenang.. tapi berbeda dengan kak devan.. kulihat dia cuek.. tenang- tenang saja.. seperti tak punya beban..
tut..tut.. tuut..
kutelepon mbak lela ingin tahu tentang ibu..
"halo.. iya nin.."
"halo mbak.. maaf mengganggu.. aku ingin bertanya kabar ibu mbak.."
"oiya nin.. aku lupa mengabari.. ibumu kulihat pagi tadi keluar menggunakan taxi.. aku tak tahu dia kemana.."
aku termenung mendengar kabar itu
"apakah dia sudah kembali mbak?"
"aku rasa belum nin"
katanya lagi..
"oo..baiklah.. terimakasih mbak"
ucapku pada mbak lela sebelum menutup telepon.
kemana ibu? monologku dalam hati
apa dia pergi bersama temannya.. aku sedikit bingung dengan ibu.. aku yakin ibu pasti mencari sinta.. atau kemana dia..
"kak.. kak devan"
"iya nin.. kenapa kamu nin?"
"kak devan gak telpon ibu?"
"aku ga mau nin"
kata kak devan padaku..
akhhh . ibu membuatku bingung... coba aku telpon temannya yang kukenal sering kerumah dulu... siapa tahu dia tahu dimana ibu.. kataku dalam hati..
aku sedikit menjauh dari kak devan untuk menelpon..
tut..tut..tut..
"halo.."
"halo.. dengan bu rina ya.."
"iya saya sendiri"
katanya diseberang telpon
"saya anin bu.. menantunya bu suli.."
kataku pada bu rina
"oiya.. gimana ya anin..ada yang bisa saya bantu?"
"begini bu.. apakah ibu pernah bertemu mertua saya?"
kataku sedikit mencari informasi
"owh . kalau tak salah dengar kemarin dia berbicara dengan teman- teman yang lain sedang mencari seorang preman.. tapi saya tak jelas juga"
katanya sedikit ragu
"apa kamu punya masalah dengan mertuamu nin?"
katanya bertanya padaku..
"iya bu.. ada sedikit ..tapi hanya salah paham bu"
kataku pada bu rina..
"maaf nin.. bisakah kita bertemu.. aku ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa melalui telepon"
kata bu rina lagi..
"oo..bisa bu..besok kita ketemu dicafe saya ya bu . di jalan xy"
kataku padanya
"oo..baiklah.."
"terimakasih bu"
__ADS_1
kataku pada bu rina sebelum menutup telepon..
aku segera mencari kak devan.. untuk mengajaknya besok bertemu bu rina..
dan tanpa banyak bertanya lagi kak devan pun menyetujuinya..
keesokan hari.. aku sudah bersiap akan pergi menemui bu rina.. karena sudah merasa tak sabar mendengar informasi tentang ibu..
drrtt.. ddrrttt.. ddrrtt..
diperjalanan menuju cafe.. hapeku bergetar.. ternya bu rina menelponku..
"halo anin.."
"iya bu.. saya baru saja berangkat bu.."
"nin.. kita bertemu di jalan y saja ya.. saya tunggu dipinggir jalan.."
katanya lagi..
"oo..baiklah bu"
kataku mengiyakan..
aku merasa curiga pada bu rina.. mengapa ketemu dijalan y.. bukankah jalan itu sepi.. dan sangat jauh dari sini..
apa yang dilakukannya disana..
aku bertanya tanya dalam hati..
lalu kukatakan pada kak devan agar dia segera putar haluan
kak devan pun merasa bingung.. dia was- was.. takut nantinya terjadi apa- apa pada kami..
lalu dia berinisiatif untuk mengirim pesan kepada temannya.. agar bersiap berangkat juga ke jalan y.. karena memiliki firasat tak enak..
"bro.. aku pagi ada masalah.. bisakah kamu mendatangiku dijalan y.. takut bila terjadi apa- apa tak ada yang menolong"
kira kira begitulah isi pesan kak devan ketemannya yang bernama iwan
"oke bro"
jawab iwan melalui pesan juga
memasuki kawasan jalan y.. kami sudah dapat memperkirakan..jalan ini sangat sepi.. karena rumah disini hanya ada beberapa.. dan sepertinya banyak yang kosong.. mungkin pemiliknya tak ada..
aku sedikit takut.. sampai tak terasa kuremas tangan kak devan yang mengenggam tanganku saat dimobil..
"kak..aku takut"
kataku was- was
"aku tak tau nin.. tak usah takut ada aku.."
katanya nenenangkanku..padahal aku juga tahu dia gelisah..
braaakkk...
braaaakkk...
mobilku ditabrak dari belakang
kami sangat kaget dan juga takut.. karena posisi mobil kami dilajur kiri dan berjalan sangat pelan karena takut tak terlihat dari bu rina..
aku sudah mencoba menghubungi bu rina sedari tadi.. tapi sepertinya dia menonaktifkan hapenya..
"apa yang terjadi kak..?"
kataku pada kak devan.. aku kaget mendengar suara tabrakan mobilku dan sedikit terdorong kedepan..
"aku tak tau nin.."
kata kak devan sambil terus mengawasi spion mobil mencoba melihat siapa yang menabrak kami
"aku takut kak .."
"iya..tak apa apa nin.. tak akan terjadi apa apa"
kata kak devan kembali menenangkanku..
dog..dog..dog..
suara kaca mobilku diketok dengan keras
"keluar devan!!"
kami berdua nenoleh keasal suara yang terasa tak asing ditelinga
"ibu.."
serentak kami terkejut.. karena yang berteriak adalah ibu
__ADS_1
kemudian kak devan turun dari mobil...
"apa yang ibu lakukan!"
bug..bug .bug..
belum selesai kak devan berbicara .
kak devan dipukuli beberapa orang lelaki berbadan besar yang terlihat datang bersama ibu..
arrgghh...
teriak kak devan..
bug..bug..bug..
kembali kak devan dipukul sampai akhirnya tersungkur
lalu aku turun dari mobil sambil berteriak ketakutan..
"tolong..tolong.."
kataku ketakutan
"percuma kamu berteriak anin.. tak kan ada yang menolongmu"
plak..plak..plak..
kata ibu sambil menamparku dengan keras hingga sudut bibirku berdarah.
"aarrrgghhh.."
"kenapa bu..kenapa ibu lakukan ini"
kataku memelas pada ibu.. sambil air mataku terus mengalir.. aku kesakitan..
aku ketakutan.. kak devanku masih merintih tersungkur dijalan..
"ha..ha..ha..."
"aku bukan ibumu.. jangan memanggilku ibu.. dan kau devan aku bukan ibumu... kau dengar.. kau hanya anak yang kupungut dijalan.. agar bisa kumanfaatkan"
"tapi dasar anak tak tahu diuntung.. kamu beraninya melawanku.. "
katanya tertawa keras sembari menunjuk nunjuk penuh amarah..
"apa yang terjadi bu.."
kata kak devan sambil berusaha berdiri
"tenanglah bu.."
kata kak devan lagi..
aku sebenarnya masih belum mengerti apa yang terjadi pada ibu.. apa yang dia mau dari kami..
"kamu tahu devan.. aku bukan ibumu..
aku muak denganmu.. aku ingin kamu mati.. kamu tak berguna"
"kemarikan sertifikat rumah itu.. rumah itu milikku.."
kata ibu sambil mendekatiku dengan pisau ditangannya...
"aku bisa membunuh anin.. cepat berikan.."
katanya lagi pada kak devan..
"tenanglah bu..jangan seperti ini bu..kita bisa bicarakan baik- baik bu"
kata kak devan dengan suara lembut
"tidak.. aku tak mau.."
kata ibu lagi sambil berteriak
terus terang aku sangat takut.. kurasakan sedikit perih dileherku..mungkin kulitnya tersayat.. aku mulai merasakan ada yang seperti mengalir.. ya pasti itu darah..
aku gemetar.. kupejamkan mata.. aku tau aku merasa pusing sekarang karena ketakutan dan jantungku berdebar sangat kencang.. aku takut sekali..
aku berharap teman kak devan segera sampai.. aku takut..
tiba tiba ditengah ketakutan ibu mendorongku sampai aku tersungkur dijalan.
lalu dia berjalan mundur sambil mengancungkan pisaunya dan berkata
"devan..ini peringatan untukmu.. "
"aku tunggu kamu serahkan sertifikat itu.. atau aku akan membunuh kalian semua"
katanya sambil berteriak... dan masuk kemobil diikuti kelima lelaki besar itu..
__ADS_1
kami berdua sama sekali tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya.. bukankah ibu sudah kuberi tinggal dirumah itu.. kenapa dia masih menginginkan sertifikat rumah itu . apa yang ada dipikirannya sebenarnya.. aku sama sekali tak mengerti..
aku dan kak devan bergegas naik ke mobil dengan keadaan kak devan penuh lebam dan aku dengan leher yang berdarah . kami berencana pergi kerumah sakit untuk mengobati luka- luka kami..