Dendam Istri

Dendam Istri
Bab 28


__ADS_3

Pagi. hari yang cerah, aku sudah disibukkan dengan kegiatan ku mengurus bian dan kak devan karena dia juga menginap dirumah ayah.


banyak rencana hari ini, salah satunya akan kerumah ibu mertua.


iseng melihat pendapatanku di aplikasi cerbung.. ternyata sudah lumayan..


tapi biarlah dulu . belum kubutuhkan juga.. mungkin besok atau lusa akan kucairkan.


aku juga melihat email transaksi di rekeningku.. penjualan skincare juga memperoleh keuntungan yang tak sedikit..


mungkin dengan ini aku akan menyewa ruko.. aku ingin membuat cafe..


sementara itu.. terlihat seorang wanita hamil yang sedang sibuk dengan rutinitas barunya. ya dia adalah Sinta.. sepertinya dia telah berubah.. terlihat dia membuat sarapan untuk ibu dan dirinya.. kemudian dia mulai beberes rumah dan mencuci baju.


akhhh lelahnya...


tapi tak apa.. selama mbak anin mau membantuku.. akan kukerjakan semua yang disuruhnya.. tapi kukuku jadi rusak begini.. akhhh tanganku jadi kasar..


keluh sinta lagi..


sinta bercermin, melihat dirinya.. berdiri dengan perut yang mulai terlihat membuncit.. ini semua gara- gara bayi ini.. bagaimana kalau kugugurkan lagi.. aku harus membeli obat aborsi saja..


ya.. ya.. ini ide yang bagus.. monolognya lagi...


" Sinta.. apa yang kamu lakukan?? apa kamu yang membuat semua ini?"


kata ibu pada sinta sambil menunjuk makanan dimeja.


" iya bu" jawabnya singkat


" ada apa denganmu??"


" tak ada bu, aku hanya ingin!"


" kamu tak pergi sinta?"


" tidak bu!"


" kenapa tidak, pergilah keluar sinta"


ada apa dengan ibu.. kenapa dia seperti memaksaku untuk pergi.. apa ada yang disembunyikan ibu yang tak aku tahu..katanya dalam hati.


sinta bingung sambil menatap ibu..


ibu berlalu setelah menyelesaikan sarapannya tanpa berbicara lagi..


dia terlihat gelisah.. mondar mandir tak jelas.. seperti ketakutan atau seperti menunggu sesuatu..


akhhh.. ibu aneh sekali.. jangan sampai ibu buat masalah lagi... akhhh aku tak peduli.. masalahku saja belum kuatasi.. bagaimana ini.. aku harus segera menggugurkan janin ini.. sialan!! umpatnya lagi.


ini sudah siang kenapa ibu tak membuka warung.. sebenarnya ada apa?? akhh lebih baik aku kekamar.. monolog sinta lagi..


tok.. tok.. tok...


suara pintu rumah diketuk, sepertinya ada tamu yang datang..


ceklek..


" kapan mau kamu lunasi hutangmu!!!


" jangan minta tempo terus . kalau tak sanggup keluar saja dari rumah ini.. !!"


sinta bergegas keluar melihat adanya keributan didepan..


" ada apa ini bu?"


ibu hanya diam menunduk.. tak menjawab..


lalu orang tersebut memberi sinta berkas .


" baca ini.. tinggalkan rumah ini dengan segera jika anda tak bisa membayar hutang ibu anda.. permisi!"


katanya tegas, berbalik tanpa menoleh lagi..


" ibuuu... ibu keterlaluan!!! ibu menggadai rumah kita??? untuk apa bu??" tanya sinta pada ibu sambil berteriak..


" ya untuk kamu.. untuk keperluanmu kuliah.. kamu kira darimana uang yang kuberi hah??"


uang untuk kuliah.. ibu tak pernah memberiku, akupun lebih sering minta kak devan, kecuali sesekali saja uang saku..

__ADS_1


" ibu bohong!!!"


" jangan kurang ajar sinta!"


" ibu keterlaluan! bagaimana bisa kita membayar ini?"


" kamu tenang saja, nanti ibu pikirkan"


kata ibu menjawab dengan tenang..


kali ini ibu membuat masalah besar..


dimana akan tinggal bila kami diusir.. akhh aku tak bisa membayangkan hidupku tinggal dikontrakan atau hidup dijalanan.. aku bergidig ngeri.


" aku lelah bu!"


kata sinta akhirnya, sambil berlalu meninggalkan ibu yang masih melamun.. mungkin berpikir cara meminta uang pada kak devan untuk membantu melunasi hutangnya.


Dengan wajah ceriia kami datang kerumah ibu.. kak devan tak banyak bicara..hanya senyum yang diperlihatkannya padaku..


aku senang bila ia senang..


cckkittt..


mobil kami sudah sampai depan rumah ibu..


" kok sepi nin?"


kata kak devan sambil menoleh kana kiri dari dalam mobil..


" aku tak tahu kak"


kataku pada kak devan..


saat turun ternyata ibu sudah melihat kami dengan tatapan yang sulit kuartikan.


" ibu.. " lirihku..


" mobil siapa devan?"


tanya ibu pada kak devan.. seperti biasa ia hanya menganggapku tak ada..


" mobil istriku bu!"


dia menekankan kata istri pada ibu.. aku senang karena dia menghargaiku.


" owhh.. sudah bermobil rupanya.. jangan- jangan uang dari om- om yang kamu layani.. seperti kata ibu- ibu itu"


ibu berkata dengan penghinaannya..


" ibu..kak devan.. aku ingin kalian mendengar ini.."


lalu kuputar rekaman pembicaraanku dengan mbak lela.. aku jengah terus menerus dituduh tak jelas oleh ibu..


kesabaranku sudah habis..


beberapa menit rekaman diputar.. ibu hanya tersenyum mengejek..


" kamu kira devan akan percaya padamu setelah mendengar. rekaman itu?"


aku menoleh pada kak devan..


kulihat ia menghela nafas panjang..


" bu.. cukup bu!"


" jangan menuduh dan menghina anin lagi bu!"


" dia istriku bu!"


kata kak devan pada ibu, dia marah pada ibu.


" aku percaya pada istriku bu!"


" jangan menghasutku lagi bu!"


katanya lagi..


ibu hanya melengos seperti tak percaya kak devan marah padanya.

__ADS_1


dia masih saja menatapku sinis.


kutarik nafas lalu ku hembuskan.. lelah yang kurasakan.


" aku akan mengambil minum"


kataku pada kak devan sambil aku beranjak dan melangkah ke dapur..


aku melihat dapur sudah bersih, ada sarapan sisa dimeja.


tap.. tap..


suara langkah kaki mendekat


" mbak.."


panggil sinta padaku


aku hanya meliriknya.. melihat apa yang dilakukan sinta . walaupun terlihat berubah, aku harus tetap waspada.


dia duduk didepanku.. sorot matanya terlihat sendu..


aku masih saja diam, tak mengatakan apa- apa


" mbak, ibu menggadaikan rumah ini!"


katanya hati- hati


" lalu?? "


kataku antusias berminat dengan omongan sinta.


" iya mbak dan ibu tidak bisa membayarnya"


katanya lagi.


" apa yang harus aku lakukan mbak.. aku tak mau hidup dijalanan mbak.."


dia mulai meraung menangis..


" tolong mbak.. aku takut mbak"


" aku tak bisa bekerja mbak.. perutku sudah terlihat membuncit mbak"


" apa aku gugurkan saja janin ini mbak?"


katanya frustasi.


aku melihatnya iba.. aku juga tak tau apa yang harus aku lakukan.


aku bingung..


aku masih saja diam, tak menjawab.. karena aku tak tahu juga jawab apa.


" mbak.. kasih aku solusi mbak.. bantu aku mbak.."


kata sinta lagi penuh linangan air mata.


" sinta, aku mungkin tak tau apa yang terjadi, kamu sebaiknya bicara pada kak devan!"


" ceritakan padanya apa yang terjadi!"


aku berbicara pada sinta dengan pelan.. aku tak tega melihatnya menangis..


walaupun aku measa dendam karena perilakunya dahulu tapi aku masih punya hati.


" iya mbak, maaf mbak.."


" maafkan aku yang selalu berbuat tak baik dahulu ya mbak"


" aku ingin berubah mbak!"


" bantu aku ya mbak.. ku mohon.."


aku hanya menatapnya iba.. iba akan nasibnya yang akan berubah drastis..


aku tak mengira akan terjadi hal ini.. aku juga berpikir sebenarnya uang sebanyak itu digunakan ibu untuk apa.. lalu kemana uang yang selalu diberi kak devan dulu.


setinggi- tingginya. kita berdiri.. kita. harus tetap sadar.. masih ada yang lebih lagi dari kita

__ADS_1


__ADS_2