
Melihat ekspresi ibu dan kak devan membuatku bingung.
"Kak,.., bisakah kita kerumah ibu sekarang!"
aku memulai pembicaraan pada kak devan, karena terus terang aku merasa tak nyaman.
Dia terlihat sangat sedih.. seperti menyimpan beban yang berat.
"Aku ingin mengambil sesuatu dirumah ibu!"
kataku lagi.. karena dia hanya menatapku kosong tanpa menjawab.
" Kak...!"
kukipas- kipaskan tanganku didepannya agar dia tersadar.
"iya nin!"
akhirnya dia menjawabku kuhembuskan nafas lega.
"aku ingin kerumah ibu kak, ada yang ingin kuambil disana!"
akhirnya kuulangi perkataanku.
"iya, baiklah!"
"ayo kita pergi nin!"
kami pun menuju rumah ibu. sementara ibu kami tinggalkan saja dirumah sakit.
kak devan juga sepertinya enggan hanya untuk berpamitan.
sepanjang perjalanan.. kak devan hanya diam tak bicara.
akupun lebih memilih melihat kekaca mobil samping.. melihat deretan pohon- pohon yang terlihat sejuk untuk sekedar menenangkan pikiran.
Tiba dirumah.. aku bergegas ke kamar sinta.. kuajak juga kak devan agar dia bisa membantuku memeriksa kamar sinta.
semua kuperiksa.. dari laci nakas, lemari pakaian , meja rias sampai kolong tempat tidur..
tapi sayangnya aku dan kak devan tak menemukan apapun dan tak ada hal yang mencurigakan.
"tunggu!!"
"ini air putih atau air apa??
aku melihat air putih di dalam gelas yang belum habis diatas nakas. tetapi warnanya cukup keruh.. masih ada seperti berembun. aku berpikir sepertinya sinta minum ini tadi.. gelasnya seperti baru saja dipakai.
" Kak, sepertinya sinta baru meminum ini!"
kataku antusias seperti menemukan sesuatu.
" Sebenarnya apa yang kamu cari nin??"
" aku tak mengerti nin!"
" ada apa dengan air ini?, mungkin sinta baru saja minum sebelum pingsan tadi."
kak devan bingung melihat ekspresiku.
"ayo, kita kedapur kak!"
aku tak menjawab pertanyaan kak devan.
aku berinisiatif untuk mencari ditempat sampah dapur.. mungkin masih ada sisa pembungkus dari obat yang diminum sinta.
"Coba cari ditempat sampah kak!"
kataku pada kak devan lagi.
"ini nin.. ada bungkus obat nin.. sepertinya baru saja dipakai!"
" obat apa ini?"
obat yang ditemukan kak devan berupa serbuk.. sepertinya masih ada serbuk sisa sedikit..
aku tahu serbuk ini masih kondisi kering berarti belum lama dalam kondisi terbuka, biasanya kalau sudah lama dibuka pasti serbuk agak lembab dan lengket.
lalu aku berpikir lagi.. sinta tak pernah keluar.. kalau dia membeli online berarti. dia membeli dua atau tiga, tapi kenapa dikamarnya tak ada sisa obat.
" kak.. kita coba cek ke kamar ibu!"
aku akan melihat kamar ibu, aku curiga ibu yang memberi sinta obat ini.
"iya nin!"
__ADS_1
kak devan mungkin sekarang sudah tahu maksudku karenanya dia mengiyakan saja ucapanku.
kami memeriksa secara detail sama seperti di kamar sinta..
dan tara.. aku menemukannya..
aku langsung berbinar.. terjawab sudah rasa penasaranku pada ibu.
" kak... aku ketemu kak.. ini masih ada lima bungkus kak!"
seruku antusias karena berhasil memecahkan misteri.
" ini sebenarnya obat apa nin?"
tanya kak devan padaku.
" kalau aku tak salah ini obat aborsi kak!.
jelasku pada kak devan.
Deg.. kak devan shock
kak devan bengong.. dia memejamkan mata.. wajahnya memerah.. tangannya mengepal.. dia menahan amarahnya..
bugh... bugh..
arrrggghhh....
kak devan berkali- kali memukul tembok kemudian berteriak histeris..
"kak..kak.. jangan seperti ini..!"
"kak sadar kak!.. "
"kak.. lihat aku kak!"
aku ketakutan.. aku tak pernah melihatnya semarah ini.. dan aku menangis.. takut.. iba.. semua bercampur menjadi satu.
" kak, tanganmu terluka!"
kulihat darah menetes dari kepalan tangannya.
segera aku berlari mengambil air minum dan kotak p3k.
"kita tanya ibu baik-baik ya kak!"
kataku hati- hati
lalu kuobati luka ditangannya..
"isshhh..."
dia berdesis.. meringis kesakitan
" makanya jangan seperti ini melukai diri sendiri.. sekarang berdarah.. sakit kan?"
aku terus mengomel tak jelas.. kesal.. membuatku ketakutan saja..
kak devan tersenyum..
"maaf!"
katanya padaku
aku tersenyum kaku.
kasihan sinta, ternyata bukan dia yang menggugurkan kandungannya sendiri, tetapi ibu yang memberinya obat aborsi.
Kenapa miris sekali.. ibu sendiri yang membunuh cucunya.
akhhh.. aku tak tau bagaimana nasib sinta setelah ini. Dokter memvonis susah memiliki keturunan karena ulah ibu.
bagaimana masa depan sinta..
aku benar- benar tak habis pikir.
Dan sementara dirumah sakit, ibu menemani sinta.
Sinta belum sadarkan diri.. menurut perkiraan dokter sekitar dua jam sinta sudah sadar, namun ini sudah tiga jam belum ada tanda- tanda sinta sadarkan diri.
ekspresi ibu kini ketakutan.
mungkin dia takut sinta pergi karena ulahnya.
sementara ini sinta masih diruangan icu belum dipindah keruang rawat, menunggu sadar dulu
__ADS_1
setelah mengobati luka kak devan, kami bergegas menuju kerumah sakit kembali.
kami ingin melihat keadaan sinta lagi.. takut juga terjadi apa- apa pada sinta.
uugghhhh...
sinta menggeliat..
"hausss.. hauss"
bertepatan dengan aku dan kak devan datang, kulihat dari kaca kecil dipintu sinta mulai sadarkan diri.
bergegas kupanggil dokter untuk melihat keadaan sinta..
semoga sinta baik- baik saja, doaku dalam hati.
Dokter datang memeriksa Sinta.
setelah dokter keluar, aku langsung menanyakan keadaan sinta.
" bagaimana dok keadaan adik saya?"
tanyaku
" ibu sinta sudah melewati masa kritisnya..sudah bisa dipindahkan keruang rawat ya bu.. mungkin dua sampai tiga hari kedepan sudah bisa pulang."
" silakan ibu selesaikan dulu administrasinya agar pasien bisa segera dipindahkan"
" baik dok, terimakasih!"
dokter pun berlalu, dan aku bersama kak devan ke resepsionis untuk menyelesaikan administrasinya.
Kali ini Sinta kutempatkan diruang kelas satu .. biarlah kasihan sinta.. toh juga dia adikku walaupun dia selalu kejam padaku.. tapi aku tak tega aku masih punya hati.
" nin, masukkan kekelas tiga saja!"
kata kak devan padaku.
" biarlah kak, aku yang membayarnya, kasian sinta.. aku tak tega kak!"
kataku menatap kak devan sambil tersenyum
" sebenarnya terbuat dari apa hatimu nin, kamu bak malaikat bagiku!"
kak devan memujiku sambil merasa tak enak padaku.
" ini nggak gratis lho kak!"
kataku membuatnya tercengang.
" tapi nin?"
dia bingung
" ini nanti harus dibayar pake cinta kak devan padaku seumur hidup kak!"
kataku sambil tersenyum
" aku akan mengabdikan cintaku hanya untukmu nin.. dari dulu sampai akhir nafasku nin!"
katanya tersenyum sambil memelukku
" hehe.. aku cinta kamu kak, cintaku mengalahkan egoku kak!"
aku terkekeh dipelukannya.
kak devan semakin memelukku erat.. kemudian mencium keningku.
" aku punya wanita hebat dan penyayang.. maka aku tak akan membiarkan orang lain mengambilnya dariku!"
katanya lagi sambil tersenyum.
" hanya karena itu kak??""
kataku menggodanya
" tidak nin.. tapi karena hati dan cintaku sudah kuberikan semua untukmu."
" tak ada lagi sisa untuk yang lainnya.. aku sangat- sangat mencintaimu!"
katanya sambil menatapku
kebencian dan cinta katanya beda tipis.. seperti sehelai kertas. jika kita memupuk kebencian maka dendam dan aura negatif selalu akan menyakiti diri kita sendiri.
Namun jika memupuk cinta maka semua kebahagiaan dunia dan akhirat akan menjadi milik kita selamanya. kita akan hidup dengan selalu penuh senyum dan kebahagiaan.
__ADS_1