Dendam Istri

Dendam Istri
Bab 33


__ADS_3

Sinta merasa bingung.. ia berpikir akan meminta kembali bantuan pada kak devan.


ia ingin menceritakan apa yang direncanakan ibunya untuknya, dan juga apa yang dilakukan oleh ibunya sehingga ia bisa bernasib seperti ini.


aku harus menelpon kak devan..


monolognya dalam hati


"Sinta, ibu akan pergi sebentar.. ibu harap kamu tak akan kemana- mana"


kata ibu padaku


" memangnya aku bisa kemana bu?


"aku akan menunggu kak devan bu"


" ibu pulanglah istirahat dirumah"


kataku mengusir ibu secara halus.


biarlah ibu pergi.. aku bisa menceritakan semua ke kak devan nanti.. aku ingin pergi dari kota ini.


melangkahkan kakinya keluar.. ibu bejalan dengan cepat..


kali ini dia akan pulang kerumah..


ingin menyelamatkan perhiasan yang dia punya, takut devan akan mengambilnya.


uhffft.. akhirnya sampai juga dirumah..


aku harus menyembunyikan perhiasan itu sebelum diambil devan.


monolognya dalam hati.


bagaimana aku harus melunasi hutang- hutangku? walaupun aku menjual ini.. ini tak akan bisa menutupnya..


akhhh.. aku bingung.


akhhh.. bagaimana kalau aku tawarkan sinta ketemanku saja.. agar dia mau memberiku uang.. hanya itu satu- satunya cara mendapat uang.


ibu masih dengan akal liciknya. dia masih berpikir teman yang mana yang akan dihubunginya.. dia juga tak tau.


Sementara devan sudah kembali kerumah sakit untuk menunggu sinta karena tahu ibu sudah pulang kerumah.


"kak.. aku ingin bicara!"


kata. sinta sesaat setelah devan duduk disofa ruangannya.


" ya.. bicaralah"


jawab kak devan singkat..


sebenarnya malas karena hanya mendengar hal yang membuatnya jenuh


" kak.. bisakah kak devan mengirimku jauh ke pelosok desa? aku ingin pergi jauh kak!"


"aku ingin memulai hidup baru kak"


"setidaknya tak ada yang mengenaliku kak..!"


kata sinta sambil diiringi isak tangis memilukan.


kak devan terlihat kaget dengan perkataan sinta.


" kemana?"


"bagaimana dengan ibu?"


kata kak devan dengan sedikit bingung.


"kata ibu setelah aku sembuh dia akan menjualku kak.. kepria hidung belang lagi!"


"aku tak mau kak!"


"dulu pertama kali, ibulah yang menjualku kak.. hingga aku bisa menganut pergaulan bebas ... ibu bilang biar cepet dapet uangnya kak.. ga perlu kerja keras"

__ADS_1


"sudah cukup kak, aku ingin berubah kak!"


kata sinta lagi.. membuat kak devan mengernyit.. ekspresi yang tak terbaca.


"besok kita pergi, subuh berangkat, siapkan dirimu!


" kalau begitu aku akan pulang membicarakan ini pada mbak mu!"


putus kak devan menyetujui niat sinta


semua terasa tak mungkin, tapi inilah kenyataan yang harus diterima.


ibu menjual anak tidak hanya ada di cerita saja.. tapi kenyataan..


kak devan tak ingin membuang waktu lagi, ia bergegas pulang menemui aninnya..


Anin mengerjapkan matanya karena tidurnya terusik oleh devan..


"kenapa kak?"


tanyaku pada kak devan


" nin, kita harus membantu sinta kabur dari ibu!"


kata kak devan...


kemudian dia mulai menceritakan apa yang terjadi selama ini pada sinta.. dan kali ini sinta mau berubah.. tak mau lagi menuruti ibu.


aku benar- benar kaget.. tak menyangka.. akan sangat tragis cerita sinta .


apa yang sudah merasuki ibu? monologku dalam hati


sambil masih mengumpulkan nyawa karena baru terbangun


" kak, kalau menurutku tak usah ke desa.. biar kucarikan kontrakan saja dipinggiran kota.. agar kita bisa lebih sering menjenguknya.


"iya baiklah nin!"


ujar kak devan antusias dengan ideku


Mereka bersiap akan kembali kerumah sakit menjemput sinta


biarlah kali ini sinta bisa berubah dan mandiri


mereka telah sampai dipinggiran kota yang dituju... mereka beristirahat di hotel . bermaksud agar setelahnya cepat bisa mencari kontrakan.


"sinta, kalau mbak boleh tau.. kira-kira pekerjaan apa yang akan kamu kerjakan disini??


" tak mungkin kan kamu mau bekerja seperti dulu?"


"jangan ya sinta.. apapun yang kamu dapat secara instan maka akan hilang secara instan juga.."


nasehatku pada sinta


" iya mbak.. aku berencana membuat kue bolu mbak untuk aku jajakan diwarung- warung mbak..!"


" mungkin kedepannya aku juga akan mempelajari membuat kue tart"


kata sinta padaku dengan senyuman.


sepertinya dia bahagia memikirkan bagaimana rencananya akan berjalan dengan lancar.


"oh.. bagus.. baiklah.. mbak setuju kalau begitu!"


"jangan takut gagal.. mbak yakin kamu pasti bisa sukses!"


" ini buatmu sinta.. pergunakanlah sebaik- baiknya."


kataku pada sinta.. sambil menyodorkan amplop tebal padanya..


amplop itu sudah kuisi uang lima juta rupiah.


"terimakasih banyak mbak.. maafin sinta ya mbak"


aku tersenyum menanggapi.

__ADS_1


kami sudah mendapatkan kontrakan dengan dua kamar tidur.. harganya masih murah karena dipinggiran kota.


dan hari ini juga sinta sudah bisa menempati rumah itu.


aku dan kak devan berpamitan pada sinta takut nanti ibu kebingungan mencari kami semua, dan juga berjanji akan sesegera mungkin menengoknya.


kulihat hape kak devan banyak panggilan dari ibu.. tapi kak devan sama sekali tak mau mengangkatnya.


"biar saja nin, nanti kalau bertemu saja kita jelaskan"


katanya melarangku mengangkat panggilan dari ibu.


sudah sore hari kami sampai dikota..


kak devan pun terlihat sangat lelah.. dan akhirnya kami memutuskan akan pulang kerumah ayah saja.


biarlah ibu sendiri dulu..


kami tak sanggup mendengar ocehan ibu hari ini.


sesaat dirumah sakit.


ibu membuat keributan karena mengatakan sinta telah menghilang.


tapi menurut data sinta memang sudah pulang dan juga sudah menyelesaikan administrasinya.


ibu kebingungan.. dia kehilangan arah.


anak yang diharapkannya menghilang.. tak bisa dihubungi.. dia bingung.. menyesal telah meninggalkan sinta tadi sendiri di rumah sakit.


mencoba lagi terus menerus menelpon devan.. namun lagi- lagi dia yak mengangkat telponnya.. sampai terakhir dia menelpon operator yang menjawab.


ibu mengumpat tak jelas.


memaki- maki anaknya karena tak memberi tahu sinta pergi kemana.


akhhh.. bagaimana ini... rugi aku membesarkan anak.. semua durhaka..


ini semua pasti hasutan wanita itu.. akhh sial.. anin sialan.. kata ibu terus mengumpat.


akhirnya dia memutuskan untuk pulang kerumah dan menunggu dirumah.. siapa tahu sinta pulang dan membawa uang..


ibu tak menyangka semua akan seperti ini.. dia ditinggalkan kedua anaknya dan juga menantunya .


tok..tok.. tok..


"iya sebentar..' kata ibu


"bu, katanya sinta masuk rumah sakit apa dia tak apa-apa?"


kata mbak lela ingin tahu..


"tak apa-apa!"


jawan ibu ketus


"oya bu.. kalau tak salah kemarin ada yang mencarimu.. katanya dari rentenir.. mereka menagih hutang.. mereka berbadan besar lho bu.. kami takut melihatnya.. wajahnya sangat bu?"


"apa ibu sudah bertemu?"


kata mbak lela pada ibu.


ibu terdiam mendengarkan sembari berpikir.. kalau mbak lela mengatakan kami.. berarti banyak yang melihat kalau orang- orang itu menagih padaku..


akhh.. mau ditaruh mana mukaku sekarang.. kata ibu dalam hati


"bu..bu.. apa ibu tak apa-apa?"


"sebaiknya kalau punya hutang ingat membayar bu.. malu lho sama orang.. masa gaya hidup mewah hasil pinjaman!"


"bu, lebih baik sederhana tapi tak punya hutang!"


kata mbak lela lagi..


entah darimana datangnya keberanian mbak lela berbicara pada ibu..

__ADS_1


biasanya orang- orang lebih baik memilih bergosip dibelakang daripada menegur orangnya langsung.


ibu hanya terdiam..tak menjawab perkataan mbak lela.. dia hanya kepikiran betapa malunya dia sekarang.. semua tahu dia kaya karena berhutang.


__ADS_2