Dendam Istri

Dendam Istri
Bab 29


__ADS_3

Semua gara- gara ibu.


kak devan terlihat murung, dia sedih wajahnya sendu.


kak devan menghampiriku diruang makan, dia mencium keningku dan mengajakku pulang kerumah ayah.


" Nin, ayo kita pulang!"


aku menetapnya tak percaya dia mengajakku pulang.


apakah kali ini ibu kalah denganku, apa kak devan membantah ibu atau kak devan sudah jenuh dengan perkataan ibu. aku berpikir banyak kali ini.


" iya kak!"


" tapi kenapa tak jadi menginap?"


tanyaku padanya.


aku ingin tahu apa yang ada dipikirannya, aku hanya ingin dia mengatakan kejujuran apa yang mengusiknya, walaupun aku sudah mendengar percakapan ibu dan kak devan diruang tamu.


itu karena mereka bicara dengan suara yang keras.


"tidak ada nin!"


" kita tak jadi menginap! aku jenuh dengan ibu!"


" ibu hanya mau dimengerti, tapi tak mau mengerti aku!"


" aku lelah nin!"


sekarang aku tahu, ini semua karena ibu menyebut namaku, menghinaku didepannya, dia mungkin baru menyadari seberapa benci ibunya padaku. sepertinya dia menyesali karena selalu menutup telinganya bila ibu menghinaku.


" kak, aku ingin bicara!"


Sinta datang menyela pembicaraanku dengan kak devan.


" kak, ibu menggadai rumah ini!"


kata sinta lagi sambil menyodorkan berkas ketangan kak devan.


ya, itu berkas tadi yang disodorkannya padaku tetapi aku sama sekali tak membacanya.


karena aku merasa tak penting bagiku.


aku tak peduli


kak devan seperti shock, dia diam menatap berkas ditangannya bergantian dengan menatap sinta.


aku tahu dia sedang menahan amarahnya.


Sinta menceritakan masalah yang ibu buat yang ia ketahui baru tadi pagi.


banyak yang diceritakan sinta, sampai alasan yang dikatakan ibu meminjam uang, dia juga bercerita tentang pertengkarannya dengan ibu.


Sinta juga mengatakan bahwa ibu menganggap enteng masalah ini. ibu mengatakan Sinta tak perlu ikut campur urusan ibu.


kak devan menghela nafas berat, tangannya mengepal dan menatapku..


" nin, kita pulang sekarang!"


dia menarik tanganku kemudian beralih merangkul pinggangku erat.


aku hanya diam mengikuti langkah kakinya.


kami pun juga membawa tas pakaian yang kami turunkan tadi karena rencana menginap


" kak.. kak.. kak devan.."


"arrrgghhhtt..."


Sinta terus memanggil kak devan dan mengerang frustasi karena ditinggalkan.

__ADS_1


kak devan berjalan tanpa mau menoleh kebelakang lagi.


" kak..kak devan.. hei.. lihat aku kak!"


" kak, jangan seperti ini!"


" kak devan! aku tak suka!"


kataku sedikit keras, ingin menyadarkannya.


kami memasuki mobil..


"kak, kita bisa bicara baik- baik dengan ibu kak!"


" mana kak devanku suamiku yang selalu sabar?"


kataku sambil merayunya..


" tak ada yang perlu dibicarakan lagi!"


katanya dengan ketus.


" aku lelah nin!, aku tak mau lagi jadi boneka ibu!"


" aku sudah menuruti semua keinginan ibu, tapi apa yang kudapat nin?, ibu sama sekali tak menghargaiku, ibu seenaknya sendiri!'


" ibu selalu haus akan uang, entah dipergunakan untuk apa uang itu nin, kali ini biarkan saja dia menanggung akibatnya nin!"


kak devan berbicara panjang denganku mengungkap isi hatinya padaku.


bebanmu terlalu berat kak.


aku tahu selama ini kak devan memang selalu menuruti kemauan ibu. dia selalu berusaha membuat ibu merasa bahagia.


terkadang kak devan juga sering mengorbankan keinginannya demi mewujudkan keinginan ibu.


aku menatap iba pada kak devan.


"he..he..he.."


kataku sambil menggombal nyengir..


kulihat dia tersenyum tipis.. aku kemudian memeluknya dan berbisik..


"kak, sampai kapan kita parkir disini?"


"aku pengap kak!"


"ha..ha..ha.."


dia tertawa terbahak..


" ini semua gara- gara ibu, bikin aku ga fokus saja!"


kata kak devan sambil tertawa.


Diperjalananku menuju rumah ayah, aku melihat berkas yang tadi sempat dibawanya.


aku termangu berpikir.. uang ini sebenarnya dipakai ibu untuk apa.. ibu terlihat tak pernah berbelanja.. dan aku juga jarang sekali melihat ibu hanya sekedar memakai pakaian bagus.


aku harus cari tahu semua ini..


akan kutanyakan pada orang- orang yang sering bersama ibu.kataku dalam hati.


eeh tunggu, bagaimana kalau ini aku gunakan untuk membalas ibu, apa aku terlalu jahat.. akh apa peduliku.. aku hanya ingin ibu mengerti, ibu tahu bahwa aku menantunya juga perlu dihargai.. bukankah menantu juga anaknya, apalagi aku sudah memberinya cucu yakni bianku yang ganteng.


aku mulai mengingat jumlah tabunganku dibank ditambah dengan uang yang belum kucairkan dari gaji menulis cerbung diaplikasi, rasanya kurang sedikit lagi dari nominal hutang ibu.


bagaimana kalau aku meminjam pada ayah uang sisa kekurangannya.


aku ingin mendapatkan rumah itu, dan harus atas namaku.

__ADS_1


aku ingin ibu meminta maaf padaku


dan aku akan membuktikan pada ibu jika ibu juga akhirnya menumpang hidup denganku, aku melamun..


Disisi lain, ibu sedang berusaha mencari uang untuk melunasi hutangnya.


dari mulai menemui teman- temannya untuk meminjam uang,


tapi sayang bukannya dapat pinjaman, ibu malah di cemooh oleh mereka..


mereka mengatakan ibu hanya berpura- pura kaya.. tak memang benar kaya.


tapi ibu tak patah arang kini ia memikirkan akan menjual barang- barang yang ada dirumah yang bisa dijadikannya uang.


ibu mulai mencari dikamar sinta.


tas- tas branded sinta yang berharga jutaan akan dijualnya, walaupun jumlahnya masih jauh dari hutang yang harus dibayarkan.


" sinta, ibu pinjam tas- tas kamu ya?"


ibu bertanya pada sinta sambil melihat- lihat koleksi tas sinta


" untuk apa bu?"


bingung sinta.. tak biasanya ibu peduli apalagi meminjam tas- tas miliknya.


" akan ibu jual!"


kata ibu ketus


jleb....


" apaa bu??"


" apa aku tak salah dengar?"


sinta begitu heran dengan ibu.. walaupun tas- tas sinta laku terjual tapi uang yang didapat tak seberapa.


" daripada tidak kamu pakai, lebih baik ibu jual!"


kata ibu lagi


" ibu, jangan bikin aku malu! ibu benar- benar keterlaluan!"


kata sinta lagi sambil menatap ibu tajam.


" kan ibu juga yang memberimu uang membeli tas- tas ini, apa salahnya kalau ibu juga yang menjualnya!"


ah sinta benar- benar tak habis pikir dengan ibu.. ibu sama sekali tak bisa dimengerti.


" ibu.. "


lirih sinta memanggil


" bisakah kita bicara jujur?"


" ibu pakai untuk apa uang yang ibu pinjam itu? itu jumlahnya besar sekali ibu!"


" kamu tak perlu tahu uang itu ibu pakai untuk apa? yang kamu harus lakukan kamu harus membantu ibu mendapatkan uang yang banyak agar. kita tak tidur dijalanan."


" ibu.. walaupun aku punya uang, terus terang aku tak akan memberikannya pada ibu.. sudah cukup kak devan yang ibu habiskan uangnya.. dan ibu menyalahkan mbak anin."


" sekarang aku sudah sadar bu, aku malu bu, aku tak mau lagi mengikuti hasutan ibu.. aku masih punya jalan untuk berubah.. aku tak mau menjadi seperti ibu.. maafkan aku bu.."


" kali ini aku sama sekali tak akan mendukung atau membantu ibu!"


" mintalah maaf pada mbak anin, mintalah dia untuk melunasi hutang ibu, aku yakin dia pasti memiliki uang itu bu.. tapi aku tak yakin dia mau menolong ibu setelah penghinaan dan perlakuan yang ibu lakukan padanya"


ibu hanya diam, mendengar sinta berbicara.. dia seperti bingung akan melakukan apa.


atau mungkin dia memiliki rencana baru agar kak devan mau membujuk anin membayar hutang- hutangnya.

__ADS_1


__ADS_2