Dendam Istri

Dendam Istri
Bab 41


__ADS_3

teman kak devan mengabari sudah ada di lokasi tapi tak menemukan kami..


sepertinya dia datang sesaat setelah kami pergi..


lalu kak devan menjelaskan padanya bahwa kami baik baik saja dan mengucapkan terima kasih karena dia sudah mau datang walaupun terlambat ...


lalu kak devan juga janjian untuk bertemu dengan temannya dan akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi..


tiba dirumah sakit.. kami pun dibawa langsung ke ugd untuk diobati.. mereka sedikit bertanya pada kami tentang apa yang terjadi.. karena melihat luka luka kami .


tapi aku dan kak devan berbohong kami hanya mengatakan kami terlibat perkelahian kecil dengan teman karena salah paham.


setelahnya kami pun menuju pulang.


sepanjang jalan aku berpikir apa maksud ibu mengatakan kak devan bukan anaknya.. lalu siapa ibu kak devan.. lalu apa mau ibu sebenarnya dengan sertifikat itu.. aku betul betul mencurigai ibu..


kulihat kak devan hanya menatap lurus kedepan .. apa yang dipikirkannya kulihat dia benar benar sedih


aku tak berani bertanya biarlah.. nanti saja, aku juga akan menelpon bu rina lagi.. kenapa juga dia menjebak seperti ini


sebenarnya aku masih sangat shock dengan kejadian tadi.. tapi aku lebih memilih diam sambil menenangkan hatiku yang terus bergejolak.. kepalaku sakit.. aku merasakan mataku sedikit panas.. sepertinya aku akan demam karena shock tadi..


"nin.. nin.. bangun.."


kudengar samar kak devan membangunkan aku yang tertidur di mobil


tapi sayang mataku serasa berat tak bisa kubuka..


"nin.. apa yang terjadi"


kak devan terus menggoyangkan tubuhku.. dan mulai panik..


kudengar dia turun dari mobil dari membuka pintu mobilku.. dan kurasakan dia menggendongku.. mungkin kami sudah sampai dirumah.. aku tak tahu..


setelahnya aku tak dengar apapun lagi


pov devan


"nin..nin..bangun..!


"nin..apa yang terjadi.."


aku mulai panik.. kupegang tangan anin sambil kugoyangkan lengannya..


aku mulai panik.. dia tak membuka matanya..


aku segera turun dari mobil dan berniat akan kugendong anin masuk kedalam rumah


aku bingung.. apa yang terjadi.. apa karena sayatan dilehernya dia seperti ini..


"bu..bu.. ayah..ayah.."


aku berteriak memasuki rumah dengan panik


"ada apa van.. kenapa anin?'


kata ayah panik sepertiku


ayah dan ibu juga memandangiku dan juga anin.. sepertinya dia heran melihat luka luka yang ada ditubuh kami


"aku tak tahu ayah.. tadi dimobil tak apa- apa tapi ketika sampai.. aku membangunkannya namun dia tak bangun yah.. bagaimana ini yah.."


kataku panik pada ayah


"bu.. ambilkan minyak kayu putih.. coba dioles dihidungnya.."


kata ayah pada ibu


lalu ibu mengambil minyak dan aku mengolesnya dihidung anin.. sambil menepuk nepuk pipinya agar dia segera terbangun..


"eeggghhh..."


anin mulai melenguh walaupun samar


"nin.. nin.. bangun nin.. jangan membuatku takut nin.."


kataku sambil terisak.. ya aku menangis aku takut kehilangan aninku..


aku tak sanggup hidup tanpa anin..


dia mengerjap.. seperti menyesuaikan cahaya pada matanya..

__ADS_1


lalu sesaat mata indah itu sudah terbuka..


"kak.. aku pusing.."


katanya padaku sambil memejamkan matanya kembali


"buka matamu nin.. jangan tidur lagi.. aku sudah menelpon dokter.. jangan tidur lagi nin.. aku takut"


kataku kembali meneteskan air mata..


lima belas menit kemudian


tok..tok..tok..


ayah membukakan pintu.. ternyata dokter yang datang..


dia langsung memeriksa anin..


lalu dia tersenyum..


"bagaimana istri saya dok.. sakit apa dia dok.. "


kataku beruntun pada dokter


dokter kembali tersenyum


"selamat pak.. "


dia menjabat tanganku sambil tersenyum


aku sedikit kesal pada dokter.. aku ini sedang panik dia malah tersenyum dan memberi selamat.. aku benar benar mengumpat dalam hati


"ibu tak apa apa.. mungkin hanya shock dan kelelahan saja"


kata dokter lagi


"tapi dok.. dia pingsan dan mengatakan kepalanya pusing"


kataku pada dokter lagi


"iya.. itu biasa pak.. ibu sedang hamil muda.. mungkin karena faktor kelelahan juga atau ibu telat makan hari ini.."


katanya menjelaskan


"sayang.. kamu hamil lagi sayang"


"aku senang sekali sayang"


kataku seraya mencium seluruh wajahnya dan aku lupa ada kedua mertuaku dan juga ada dokter disini


Anin hanya tersenyum menanggapi..sepertinya dia malu karena kelakuanku


"maaf pak.. ini ada resep obat untuk penguat kandungan dan vitamin untuk ibu hamil.. usahakan jangan kelelahan dan jangan stress ya bu.. agar janin nya juga sehat didalam"


kata dokter padaku dan anin


"terimakasih dok"


kataku seraya membayar jasa dokter dan mengantarnya keluar rumah karena sudah selesai memeriksa anin.


aku teramat senang dan bahagia atas berita ini.. walaupun sesaat sebelumnya aku gelisah bingung karena memikirkan perkataan ibu yang mengatakan aku adalah anak yang dipungutnya


akhh biarlah aku harus bersikap tak peduli.. toh aku sudah memiliki anin di sampingku.. aku juga tak mau lagi menuruti ibu yang gila harta .


walaupun dalam lubuk hatiku aku sangat menyayanginya..


aku tak mengerti kenapa dia begitu tega..jika aku memang bukan anaknya tapi dia yang membesarkanku harusnya dia juga memiliki rasa sayang padaku..


menemui anin yang kubaringkan disofa dengan tersenyum agar dia tak lagi kepikiran padaku.


"nin..aku gendong kekamar lagi ya"


kataku seraya mengangkatnya tanpa mendengar jawabannya.. membuatnya memekik kaget takut terjatuh dia mengalungkan tangannya di leherku..


"ibu..ayah..aku bawa anin kekamar dulu ya"


kataku berpamitan pada mertuaku


mertuaku pun mengangguk mengiyakan.


aku sangat bersyukur memiliki mertua baik hati.. selalu memaafkan dan suka sekali menolong orang yang kesulitan..

__ADS_1


kataku mereka semua disini berhati bagai malaikat.


tiba dikamar kubaringkan anin diranjangku dan kembali kuciumi wajahnya hingga dia tertawa geli..


aku senang menjahilinya.. dia tak pernah marah.. hanya sedikit saja mengomel jika kesal..


aku sangat mencintai aninku..


dia selalu menjadi terang disaat gelapku


"sayang..."


"aku bahagia sekali.."


"aku berdoa semoga anak kita sekarang perempuan ya.. biar secantik dan sebaik kamu"


kataku padanya sambil sesekali mencium perut datarnya


"iya sayang..."


katanya padaku..


sejenak kami melupakan kejadian tadi yang dilakukan ibu..


kurana leher anin yang diperban karena ulah ibu..


aku cium lehernya yang terluka eambil meneteskan air mata..


"maafkan aku nin..karenaku kamu terluka"


kataku pada anin


"sayang..lihat aku.. aku tak apa apa.. tenanglah"


katanya padaku menenangkanku


"apakah ini sakit?"


kataku sambil mengelus perban dilehernya


"tidak kak.. ini hanya sedikit perih... tapi sudah tak apa apa"


katanya lagi


terus terang aku semakin merasa bersalah pada anin..


tak menyangka ibu akan senekat itu.


lalu aku berpamitan keluar kamar ingin menemui ayah dan ibu karena aku tadi berjanji akan menceritakan padanya.. mengapa kamu berdua luka luka.


"ayah.."


kulihat ayah duduk menunggu disofa ruang tamu


"iya.. sekarang ceritakan apa yang terjadi padamu dan anin.. kenapa kalian pulang dalam keadaan terluka.. apa kalian berdua bertengkar"


kata ayah padaku menatap ekspresiku


"tidak ayah..


lalu kuceritakan pada ayah apa yang terjadi tadi.. ayah terlihat kaget.. dan mengelus dada..


"van.. sebaiknya jangan dulu keluar rumah.. ayah takut terjadi apa apa denganmu dan anin"


kata ayah khawatir


"iya ayah.."


kataku menjawab ayah


"kamu harus cari tahu apa yang diinginkan ibumu kenapa sampai dia nekat begitu.."


kata ayah lagi padaku


"iya ayah.. nanti aku akan cari tahu dari teman teman berkumpulnya yah.."


"iya..ayah tunggu hasilnya ya "


kata ayah memastikan padaku


aku juga merasa khawatir dengan aksi nekat ibu yang tak disangka sangka..

__ADS_1


aku takut dia akan kembali melukai anin..


aku harus secepatnya menyelesaikan masalah ini.


__ADS_2