
Setelah semalaman mereka menghabiskan waktu bersama, hari ini Dave tidak masuk ke kantor. Pria itu juga tidak memberitahu apa-apa kepada Amaya alasannya.
Sedang Amaya sendiri merasa sungkan untuk menghubungi Dave, lagipula saat ini sedang tidak ada jadwal pekerjaan yang penting.
Amaya mengabaikan panggilan dari Leo. Pria itu terus saja menghubunginya. Kesal karena pria tersebut tidak menyerah juga, Amaya memutuskan untuk memblokir nomornya.
"Ternyata kamu punya pacar. Heem, perempuan cantik sepertimu mana mungkin masih sendiri!"
Amaya mengangkat wajahnya dan menatap Adam yang berdiri di hadapannya terhalang meja kerja. Pria itu tersenyum tipis.
"Ah, May, Dave ada?" tanya Adam sambil beberapa langkah menjauh dari Amaya.
"Dia tidak datang. Ada perlu apa?"
Adam mengangguk dia lalu beralih duduk di sofa yang tersedia di sana. "Sebenarnya aku tahu dia tidak datang. Tapi, hanya ingin tahu apa kamu tahu alasan Dave tidak datang hari ini!"
Amaya menatap Adam bingung. "Maksudnya?"
Pria tersebut terkekeh pelan. "Kamu tidak tahu kalau Dave saat ini sedang berada di rumah sakit? Semalam Dave mengalami kecelakaan. Dia hampir dibegal dan ya ...."
"Pak Dave baik-baik saja?" tanya Amaya panik. Dia kira Dave sedang sibuk dengan urusan lain sehingga memutuskan tidak berangkat bekerja, tetapi pria itu mengalami kecelakaan.
Adam mengangkat kedua bahunya. "Kenapa kamu begitu khawatir, May?" Amaya mendengkus kecil karena ucapan Adam. "Mau ikut denganku menjenguk Dave?"
Amaya hendak mengangguk, tetapi dia urungkan. Dia menggeleng. "Yakin, May?" Adam berdiri dan menghampiri Amaya. Di depan Amaya dia merapikan dasinya yang sedikit berantakan. "Jenguklah dia, May. Mungkin dengan begitu dia bisa langsung sadar! Dia dirawat di rumah sakit Pelita, lantai tiga kamar nomor 5!"
Amaya diam saja, dia hanya memperhatikan Adam yang berjalan menjauh darinya. "Apa karena aku dia sampai terluka?" gumam Amaya. Dia terus saja memperhatikan Adam sampai memasuki lift.
***
Akhirnya setelah beberapa hari dirinya tidak pernah berkumpul dengan para sekretaris saat makan siang, kali ini dia dan tiga orang temannya memilih makan siang di kantin perusahaan.
Amaya memutuskan menerima ajakan mereka karena tidak mau sendiri saat makan siang, Fhea sedang berada di luar karena urusan pekerjaan.
"Jadi, kalian tahu ... Pak Tono selain cerewet dia juga genit. Sumpah aku kesal banget, untung dia loyal. Suka kasih aku uang lebih, makanya betah!"
Amaya hanya diam memperhatikan cerita mereka. Pikirannya terus saja tertuju kepada Dave. Dia merasa tidak tenang.
__ADS_1
Amaya menatap Sinta yang menyentuh lengannya. Dia tersenyum lembut. "Kenapa, May? Tumben kamu diam saja?"
"Ah, tidak kok. Aku cuma senang saja akhirnya bisa ikut makan siang bareng kalian lagi!" kilah Amaya.
"Pak Dave gimana, May? Dia tidak pernah marah-marah?"
Amaya menggeleng. "Apa sekretaris sebelum aku sering kena marah Pak Dave?" Dia benar-benar penasaran mendengar cerita mereka dan juga Fhea.
"Iya. Bahkan aku pernah saksikan sendiri Mbak Ayu dimarahi Pak Dave karena lupa kasih tahu kalau ada meeting penting, May."
"Tapi, memang saat itu salah di Mbak Ayu. Dia tidak bilang kalau anaknya sakit, Sin!" ucap Sekar.
"Benarkah? Apa Pak Dave begitu menyeramkan? Selama beberapa bulan bekerja dengannya, aku belum pernah melihatnya marah!" Amaya mengingat, Dave memang tidak pernah marah kepadanya.
"Ya bagus, sih. Petinggi di perusahaan yang masih muda, kan, Pak Dave sama Pak Ari, cuma Pak Ari, sih, yang ramah. Pak Dave sombong, May! Pernah tidak kamu lihat dia membalas sapaan karyawan lain?" Amaya langsung menggelengkan kepalanya membalas pertanyaan Sinta.
"Tapi, dia selalu memintaku menyapanya!"
"Kamu pernah lihat Pak Ari?" tanya Mita yang sejak tadi memilih mendengarkan percakapan mereka tentang Dave sambil menikmati makanannya. "Dia direktur pemasaran, May. Ya beda, sih, sama Pak Dave yang memang pemimpinnya."
"Yang kudengar mereka tidak pernah akrab, padahal sepupuan!"
"Yups. Yang kudengar dulu mereka berebut untuk menduduki posisi direktur utama, sayang Pak Ari tentu saja kalah karena pemiliknya saja orang tua Pak Dave!"
Amaya lalu melihat Sinta dan Sekar saling bisik, dia mengikuti arah pandangan mereka dan melihat Lani berjalan memasuki kantin. "Kalian kenapa, sih?" tanya Mita yang heran dengan keduanya.
"Ah, itu. Kita dengar-dengar katanya Pak Ari sama Lani ada hubungan diam-diam!"
"Yang begitu sudah banyak, bahkan kamu juga bisa punya hubungan diam-diam sama Pak Tono!" Sinta langsung manyun karena ucapan Mita itu. Amaya dan Sekar yang mendengarnya hanya terkekeh geli melihat pertengkaran mereka. Selalu saja ribut setelahnya.
***
Amaya pulang dari kantor dan dikejutkan dengan kehadiran Leo yang menunggunya di lobi. Ingin sekali dia kembali masuk lift, tetapi pria tersebut sudah lebih dulu mengetahui dirinya dan sampai mengejar Amaya.
"Kita perlu bicara!" Amaya menepis tangan Leo. "May, jangan begini. Apa yang kamu lihat kemarin itu cuma salah paham!"
"Salah paham?" Leo mengangguk pelan. Amaya merasa muak melihat wajah polos Leo. "Kamu kira aku salah paham? Apa pantas kalian bermesraan di tengah-tengah keramaian begitu. Lagipula aku masih ingat jelas apa yang Femi katakan!"
__ADS_1
"May, Femi hanya asal bicara!"
Amaya tersenyum sinis lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Aku kembalikan jam ini. Sebenarnya aku ingin menitipkan dengan Femi, tapi kamu datang!"
Leo menerima jam dari Amaya. Jam yang dulu dia berikan saat hari ke seratus hubungan mereka. "Permisi!"
Amaya mengabaikan Leo yang menatap nanar jam tangannya. Dia langsung pergi, beruntung ada taksi yang baru sampai dan dia langsung masuk ke taksi tersebut. "Jalan, Pak!"
"Tapi, Mbak!"
"Ayo, Pak. Saya bayar dua kali lipat!"
"Baik, Mbak. Mau diantar ke mana?"
"Rumah Sakit Pelita!" Amaya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit tersebut, dia yakin Leo bisa saja pergi ke kostnya dan dia masih tidak mau bertemu dengan pria tersebut.
Sepanjang perjalanan Amaya hanya melamun saja. Dia memikirkan tentang Leo yang tidak pernah disangka akan begitu tega menduakannya. Dia mengira Leo benar-benar setia kepadanya dan tidak akan terpengaruh dengan Femi yang terus saja menggoda.
"Apa pria sama saja?" gumam Amaya. Dulu ayahnya pun begitu, tetapi ibunya dengan besar hati menerima ayahnya kembali. Amaya bisa ikut menerimanya, tetapi untuk bisa kembali dekat dengan ayahnya sangat sulit. Sampai saat ini.
Amaya mengabaikan panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Dia yakin jika nomor tersebut dari Leo yang menggunakan nomor berbeda. Pria itu pasti tahu nomornya diblokir. Untuk itu, Amaya langsung memilih mematikan ponselnya.
Setelah sampai di rumah sakit, Amaya langsung membayar taksi tersebut sesuai janjinya dan dia memasuki rumah sakit menuju ke lantai tiga. Di mana Dave dirawat.
"Untuk apa aku sampai sejauh ini ke sini?" Amaya sudah sampai di lantai tiga. Dia melihat Rose dan seorang perempuan sedang di ruang tunggu.
"Kenapa aku mengkhawatirkan pria itu, sedangkan sudah ada perempuan lain yang menunggunya!" Amaya memilih untuk pergi. Sayang, saat di berbalik ada Adam yang berdiri di hadapannya dengan tatapan menyelidik.
"Sudah menjenguk Dave?" Amaya menggeleng. "Kenapa?"
"Bukan urusan Anda!" Amaya memilih untuk pergi dari sana, tetapi Adam malah menarik tangannya membawa Amaya mendekati Rose dan seorang perempuan muda.
"Tante gimana keadaan Dave? Sudah sadar?" tanya Adam.
"Belum!" jawab Rose lemah. Amaya memperhatikan Rose yang tampak rapuh, hatinya terenyuh dan merasa bersalah.
"Tante yang tenang, Kak Dave pasti akan cepat sadar!"
__ADS_1
Amaya tertegun. Suara perempuan itu begitu lembut dan menenangkan. "Dia sepupu Dave! Jangan cemburu," bisik Adam. Amaya menatap Adam dengan sorot mata protes karena pria itu meniup telinganya setelah bicara. "Tidak percaya?"