
"Kenapa, May, kok kelihatan tidak tenang gitu? Disuruh balik ke perusahaan sama Pak Dave?" tanya Sekar. Saat ini mereka berdua sedang makan siang bersama di warung makan tidak jauh dari perusahaan.
Amaya menggeleng. Dia memilih mengabaikan permintaan Dave yang menyebalkan dengan memasukkan ponselnya ke tas. Hanya karena panggilan sederhana, bahkan terkesan biasa saja karena hampir semua orang dipanggil begitu, Dave terus saja memintanya untuk memanggilnya begitu lagi.
"Pacaran sama bos sendiri gimana, sih, May, rasanya?"
"Biasa saja, tapi tumben kamu sampai tanya begitu. Ada apa?" Amaya menjadi curiga melihat tingkah Sekar yang seperti sedang menyimpan sesuatu.
Sekar yang biasanya selalu ramai, kini malah jadi sering diam, dia bahkan mengajak Amaya untuk makan siang berdua saja. Tanpa Sinta dan Mita.
"Jadi jomlo terus tuh ngebosenin, sih. Tapi, kalau punya hubungan sama pacar orang atau suami orang, itu namanya selingkuh, kan, ya? Lebih baik jadi jomlo saja, kan?" Amaya mengerutkan keningnya, tatapannya begitu intens memperhatikan Sekar yang beberapa kali menghela napas kasar sambil mengaduk jusnya.
"Astaga, May, kamu kenapa tatap aku gitu, sih?" tanya Sekar sambil terkekeh pelan. Namun, Amaya melihatnya Sekar memang sedang menyembunyikan sesuatu, apalagi ucapannya tadi seakan perlu dicurigai.
Amaya berdeham. Tubuhnya yang tadi condong ke arah Sekar kini berganti posisi ke semula. Dia terus saja memperhatikan Sekar lalu bertanya, "Kamu tidak lagi ada hubungan sama atasanmu sendiri, kan?"
Sekar mendelik, terkejut. Dia lalu mendengkus kesal. "Dih, ogah banget aku sampai punya hubungan sama orang genit macam diam. Dikasih uang satu miliar juga tidak mau!"
Amaya hanya mengangguk. "Aku bilang gitu bukan berarti punya hubungan sama pria beristri kayak atasanku, May. Bukan! Cuma, sebenarnya kemarin aku ... em, May, janji jangan bilang siapa-siapa?"
Kedua alis Amaya terangkat dan mengangguk. "Takut ada yang dengar, aku bisikkan saja, deh!"
Sekar beralih duduk di samping Amaya dan membisikkan sesuatu yang berhasil membuatnya begitu terkejut. Ucapan Sekar sama sekali tidak bisa begitu saja dipercaya.
Dia menatap Sekar tajam, meminta penjelasan. "Aku tidak bohong, May. Sebenarnya entah ada hubungan apa di antara mereka, tapi yang aku lihat memang begitu."
Amaya berdeham. Dia menyuap makanannya. Selama mengunyah makanannya, dia terus saja memikirkan yang baru saja Sekar katakan. Sesekali dia memperhatikan Sekar yang kembali melamun.
"Tunggu deh, aku juga ada fotonya kok." Amaya menunggu Sekar yang memberi bukti foto. "Lihat, gila banget, kan? Dia bisa-bisanya mesra sama suami orang dan ...."
"Adam memang begitu, sejak dulu terkenal playboy," potong Amaya cepat.
"May, kamu kok bisa tahu? Maksud aku, memang Pak Adam dan Pak Dave sahabatan dan perusahaan Pak Adam juga salah satu investor di tempat kita kerja, tapi sedekat apa kamu sama dia?" Amaya melihat Sekar yang menatapnya penuh kecurigaan.
"Sebenarnya, dulu kami pernah satu sekolah!"
__ADS_1
"Oh, ya? Wah!" ucap Sekar heboh. Amaya hanya meringis menghadapi sikap Sekar dan tatapan beberapa orang yang makan di warung tersebut juga.
"Tapi bukannya kamu bilang dulu sekolah SMA di kabupaten, ya?"
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kita selesaikan makannya dan langsung balik ke perusahaan!" Amaya memilih untuk tidak lagi membahas tentang Adam, apalagi sekolah yang memberinya banyak kenangan buruk.
Pikirannya tertuju kepada bukti yang Sekar berikan tadi. Sama sekali Amaya tidak menyangka jika seseorang yang dianggapnya sempurna dan tidak memiliki kekurangan apa pun bisa melakukan hal seperti itu.
***
"Makasih, Pak!" ucap Amaya, dia sudah melepas sabuk pengamannya dan akan membuka pintu mobil. Namun, Dave menahannya.
"Ada apa? Sejak tadi kamu terus diam. Aku bicara apa pun, kamu tidak dengarkan."
Amaya menghela napas pelan. Dia tersenyum tipis lalu melepaskan cengkeraman tangan Dave pada pergelangan tangannya. "Saya cuma, kepikiran saja sama yang tadi siang Sekar beritahu!"
"Tentang?"
"Pak Dave." Melihat tatapan Dave yang kesal, Amaya langsung meralatnya. "Mas Dave ...."
Dave mengangguk-angguk senang, sedangkan Amaya sebaliknya. Dia merasa panggilan tersebut berlebihan dan aneh. Ingin rasanya memutar waktu dan mengganti panggilan untuk Dave. Namun, sayangnya itu tidak mungkin dan Dave terlanjur menyukai panggilan tersebut.
"Sebenarnya, siang tadi Sekar memperlihatkan foto antara Adam dan Lani!" Amaya melihat perubahan dari raut wajah Dave, sehingga dia tidak melanjutkan kembali ucapannya yang belum tuntas.
"Biarkan saja!" ucap Dave dengan reaksi yang biasa saja.
Amaya mengangguk. Sesekali dia memperhatikan Dave yang seperti sedang menahan marah. "Bagaimana kalau mereka memang ada hubungan, bukankah Pak Ari jadi orang yang tersakiti? Saya pernah merasakannya dan itu benar-benar menyiksa."
"Jangan dipikirkan, May. Lebih baik sekarang kita fokus saja sama hubungan kita. Kamu juga tidak perlu lagi memikirkan tentang apa yang Leo pernah lakukan sama kamu." Amaya mengangguk. Dia membiarkan saja Dave yang mengusap wajahnya.
"Kalau begitu saya akan keluar dari mobil. Selamat malam, Mas!" Panggilan tersebut keluar lagi dan Amaya merasa berat untuk mengatakannya. Namun, melihat betapa bahagianya Dave rasanya keberatan itu menguap.
"May!" Amaya menatap Dave lekat saat akan menutup pintu mobil. "Selamat malam!"
Amaya mengangguk dan langsung menutup pintu. Dia yakin, jika sedikit lebih lama lagi pasti Dave akan sulit untuk pulang.
__ADS_1
"Aku yakin pasti Dave kesal karena sepupunya diselingkuhi. Tapi, apa yang bakal dia lakukan kalau tahu satu rahasia lagi?" gumam Amaya saat mengantar kepergian Dave.
"May!"
Baru saja Amaya berbalik hendak masuk ke rumah kost, suara seseorang yang dikenalnya menyapa.
Amaya berbalik dan menatap kesal pria yang menatapnya dengan penampilan tidak seperti biasa.
Kening Amaya berkerut. Dia menghindar saat pria tersebut menghampiri dan hendak memeluknya. "May, aku butuh kamu!"
"Kamu mabuk, Le? Sudah ada Femi dan kamu bilang butuh aku?" Pria tersebut menggeleng lalu memilih duduk di sofa.
"Aku sudah tidak kuat hidup dengan Femi, May. Dia jadi begitu posesif!" Amaya hanya memperhatikan saat pria tersebut terlihat begitu frustrasi, bahkan sampai meremas rambutnya kuat.
"Dia lagi hamil dan sepertinya itu wajar. Lebih baik kamu pulang, jangan sampai Femi datang lagi ke sini!" usir Amaya, tetapi tidak dihiraukan sama sekali. "Leo, tolonglah!"
"Aku menyesal sudah selingkuh dari kamu, May. Maaf!" Amaya hanya berdeham, dia berharap reaksinya itu membuat Leo memutuskan pulang. Namun, yang dia pikirkan salah. Leo beranjak berdiri dan menghampirinya.
Pria tersebut berniat akan memeluknya kembali, tetapi sebelum itu terjadi tubuhnya ditarik kasar dan jatuh tersungkur.
"Dave?" cicit Amaya. Dia tidak tahu jika Dave kembali. Kekasihnya itu terlihat marah sampai berlaku kasar begitu.
Beberapa penghuni kost keluar karena mendengar erangan dari Leo yang kesakitan. "May, ada apa?" tanya Fhea penasaran.
"Fhe, tolong kasih tahu yang lain untuk tidak khawatir. Aku akan urus mereka!" pintanya lalu beranjak mendekati Dave dan menariknya saat pria tersebut akan menghajar Leo.
"Jangan buat keributan di sini. Kita pergi dari sini saja!"
"Huh! Baiklah!" Beruntung saja Dave menuruti permintaannya. Mereka meninggalkan Leo dan beberapa penghuni yang penasaran.
"Masuk, May." Amaya menurut. Dia membiarkan Dave memakaikan sabuk pengaman untuknya lalu tatapan mereka bertemu. "Mulai malam ini kamu jangan lagi tinggal di tempat itu. Kamu tinggal saja di apartemen milikku."
"Tapi ...."
"Di sini tidak aman lagi, May, buatmu. Pria itu akan terus saja ganggu kamu dan aku tidak mau itu. Tolong jangan menolak!" Dave memaksa Amaya agar menurut.
__ADS_1
Amaya mengangguk pasrah. Dia memilih untuk menuruti Dave yang bisa saja akan kecewa kalau sampai dia menolaknya. "Tapi, semua barang-barang saya, gimana?"
"Aku akan minta Bibi dan Pak Budi untuk bereskan semuanya," ucap Dave yang tidak ingin dibantah. Dave kelihatan sekali begitu marah. "Pintar!" Dave menepuk pelan kepala Amaya.