
Dave sama sekali tidak melepaskan genggaman tangan mereka. Sesekali dia melirik ke arah Amaya yang tampak tenang saat menunggu pintu lift yang terbuka.
Tidak lama pintu lift terbuka, mereka memasuki ruangan sempit itu untuk menuju ke lantai tiga di mana Adam dirawat.
Amaya mengusap lengan Dave untuk menenangkannya. Dia tahu ada yang sedang dipikirkan oleh pria di sebelahnya itu.
"Apa lukanya parah?"
"Tidak. Hanya saja, yang terjadi dengannya kembali mengingatkanku pada kejadian waktu itu!" Amaya mengangguk paham. Pasti Dave merasa seakan kembali merasakan kesakitan yang diderita karena tindak kejahatan.
"Bagaimana perkembangan kasusnya? Maaf saya sampai lupa menanyakannya."
"Aku tahu dan bersyukur, kamu lupa karena terus mengingatku!" Amaya mendengkus pelan lalu mencubit lengan Dave. Dia baru melepaskannya saat Dave meringis kesakitan. "Kasusnya sudah tahap pengadilan. Pelakunya sudah ditangkap."
"Itu bagus!"
Amaya memilih mengabaikan Dave dengan memperhatikan tombol lift. Membiarkan pria di sampingnya itu merapikan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan.
Beruntung saja tidak ada orang di sana, jika ada Amaya tidak akan mungkin membiarkan Dave melakukannya.
Selang beberapa detik pintu lift terbuka, mereka telah sampai di lantai tiga. Tepat saat itu, Amaya menarik tangan Dave dan mengajaknya keluar. Tatapan seorang perempuan paruh baya membuatnya malu.
"Sepertinya ada orang yang jaga Adam," ucap Amaya saat mereka tepat berada di depan pintu kamar Adam dan membuka sedikit pintu tersebut, terdengar suara perempuan bicara.
Amaya melarang Dave untuk masuk. "Kamu akan tahu dia siapa!" Ucapan Dave dan raut wajahnya yang tampak marah membuat Amaya memilih membiarkan Dave membuka pintu.
Dia begitu terkejut saat melihat siapa yang bersama dengan Adam, sedang menyuapi pria yang terbaring lemah di brankar.
"Lani?" Dave mengangguk. Tatapan mereka bertemu. Amaya ingat saat siang tadi bertemu dengan Lani, bahkan karena buru-buru perempuan itu sampai menabrak dan membuat layar ponselnya pecah.
Kini, Amaya tahu alasan Lani begitu buru-buru, juga tatapan aneh dari Lani. Amaya dapat melihat bola mata Lani berputar tidak tenang, seakan sedang mencari tempat sembunyi yang aman.
Amaya berdeham lalu bersikap biasa. Dia menyapa Adam dan juga Lani, seakan tidak mengetahui apa yang Lani perbuat.
"Ternyata separah ini. Apa kakimu sampai patah?" tanya Amaya, mengabaikan tatapan Lani kepadanya. Dia menyentuh perban di kaki Adam.
__ADS_1
"Tentu saja. Mereka terlalu bar-bar sampai tega pukul kakiku dengan balok kayu!" Amaya meringis saat memperhatikan Adam yang bicara dengan emosi. "Sialnya sampai sekarang polisi belum bisa tangkap mereka!"
"Sudah aku bilang, semua butuh proses!" Amaya beralih menatap Lani yang bicara. Tutur katanya begitu lembut dan tidak terlihat kesombongan yang seperti biasa dia tampakkan.
"Aku sebenarnya malas ajak Amaya ke sini jenguk kamu!" ucap Dave yang memilih duduk di sofa dengan kaki kanan menopang kaki kirinya.
"Kenapa? Jahat banget, gimanapun dia temanku. Iya, kan, May?" tanya Adam memastikan dan Amaya hanya berdeham.
"Kamu tahu alasannya, jangan pura-pura tidak tahu!" Dave melirik Lani yang terdiam dengan bibir terkatup rapat. Terlihat sekali dia tidak nyaman dengan keberadaan mereka berdua. "Setelah sembuh kamu harus lepaskan dia atau mengakulah dengan Ari!"
"Sial!" umpat Adam kesal dan kekesalannya makin menjadi saat Lani memutuskan untuk pergi.
***
Sebelum kembali ke apartemen, Amaya meminta kepada Dave untuk mengantarnya minimarket untuk membeli beberapa bahan masakan. Amaya sungguh tidak ingin menyiakan kesempatan di saat ada dapur yang menganggur.
Sesampainya di apartemen, dia membiarkan Dave membantunya membereskan semua belanjaan.
"Pak Budi kenapa tidak kamu ajak ke sini, Mas? Kasihan kalau dia selalu tunggu di mobil!" Amaya memperhatikan Dave yang beralih ke wastafel untuk mencuci tangan.
Amaya membuang napas kasar dan pergi ke kamar. Dia tersenyum samar saat melihat dua koper berada di kamar tersebut. "Mas, kamu jadi suruh Bibi dan Pak Budi bereskan pakaianku di kost?" tanya Amaya saat dia menghampiri Dave yang sedang menonton.
"Tentu."
"Kasihan mereka, Mas. Pasti mereka capek, apalagi itu bukan pekerjaan mereka!"
Dave tidak membalas ucapan Amaya, dia memilih merangkul pundak Amaya dan merapatkan duduk mereka. Namun, Amaya langsung menepis tangan Dave dan duduk sedikit menjauh.
Dia mengabaikan tatapan heran Dave dan beranjak pergi ke dapur. "Kamu lapar tidak? Kayaknya enak kalau makan mie rebus!"
"Boleh!" balas Dave. Pria tersebut beranjak menghampiri Amaya, membiarkan televisi tetap menyala dan duduk di kursi mini bar. "Sepertinya ada yang lagi kamu pikirkan. Benar?"
Amaya mengangkat wajahnya, menatap Dave lekat lalu menggeleng. "Adam dan Lani memang ada hubungan. Aku baru tahu semalam saat datang ke rumah sakit!"
Amaya menyalakan kompor dan mendudukkan panci berisi air di atasnya. Dia lalu beralih memperhatikan Dave yang terlihat sedang menahan kesal. "Bahkan jelas sekali, May, kalau hubungan mereka terjalin sudah lama dan benar saja, saat aku desak perempuan itu dia mengaku sudah menjalin hubungan dengan Adam satu tahun!"
__ADS_1
"Astaga. Terus Pak Ari?" Amaya begitu terkejut mendengarnya. Sama sekali tidak menyangka.
"Dia itu orang yang terobsesi sama pekerjaan. Secintanya dia sama Lani, lebih cinta lagi dia dengan pekerjaannya. Jadi, menurutmu gimana?"
"Dia belum tahu?" tebak Amaya, tetapi Dave menggeleng. "Artinya dia tahu?"
"Betul sekali. May, masukkan mienya!" Amaya menurut. Dia membuka dua bungkus mie dan memasukkan ke air yang mulai mendidih.
"Aku mau pakai sosis!" Amaya mengangguk, dia mengambil sosis dan juga beberapa cabai di kulkas. "Ari tentu saja tahu, tapi pura-pura tidak tahu. Kamu mau tahu alasannya?"
Amaya terdiam. Dia memilih mendengarkan Dave sambil mengiris cabai dan juga sosis sebelum memasukkan ke rebusan mienya.
"Dia gengsi!" Dave menghampiri Amaya dan memasukkan bumbu mie ke dalam mangkuk yang baru saja Amaya ambil. "Sepertinya sudah mau matang, May. Ceritanya dilanjut nanti saja, ya!"
Amaya tidak menjawab. Dia memilih mundur saat Dave mengambil alih untuk menuangkan mie ke dalam mangkuk.
Mereka menikmati mie rebus yang masih mengeluarkan uap panas itu di mini bar. "Ini enak, May! Kamu pintar buatnya!"
Amaya hanya tersenyum tipis, padahal tidak ada yang spesial saat membuat mie rebus, hanya ditambahkan sosis dan irisan cabai saja. Namun, Dave seakan tidak peduli dan memujinya.
Dave begitu semangat menikmati mie rebusnya sampai lupa untuk melanjutkan ceritanya. Baru setelah dia menghabiskan mie tersebut, ceritanya kembali berlanjut.
"Ari itu orang yang suka tantangan, tanpa Lani tahu sebenar Ari dia mengencaninya karena aku pernah memberinya tantangan. Tapi kalau sekarang aku sendiri tidak tahu, apa mereka Ari jadi benar-benar suka atau masih tetap sama."
Amaya tidak tahu jika serumit itu hubungan antara Ari dan Lani. Dia hanya tahu jika keduanya menjalin hubungan selama enam bulan, tepatnya saat dirinya baru masuk kerja. Artinya, Ari selingkuhan Lani.
"Apa saya boleh tahu, Mas, tantangan seperti apa yang kalian lakukan?"
Dave mendadak gusar. Dia memilih beranjak ke wastafel untuk mencuci mangkuk kotor. "Itu rahasia, May. Tapi yang jelas tidak ada hal yang penting."
"May, aku harus pulang sekarang. Kasihan Pak Budi harus tunggu lama." Amaya memperhatikan ada yang berbeda dari Dave. Pria tersebut seperti sedang menyembunyikan sesuatu dan tidak ingin dirinya tahu.
"Mas, masih suka mimpi buruk?" tanya Amaya. Dia berusaha menahan Dave yang hendak membuka pintu.
Dave berbalik dan tersenyum begitu manis kepadanya. "Menjadi jarang sekali. Kalau pun mimpi buruk, tidak separah sebelum kamu jadi kekasihku."
__ADS_1
Amaya menghampiri lalu memeluknya. "Seharusnya sejak awal kita begini, kan?"