
Lani keluar dari ruangan Dave beberapa menit kemudian dan kembali menghampiri Amaya yang sedang duduk di balik meja kerjanya.
Amaya mengangkat wajahnya, menatap Lani yang tersenyum kepadanya. "Yang kamu katakan benar. Aku mau tahu bagaimana reaksi semua karyawan tentang hubungan kalian juga tentang siapa yang lebih pantas!"
Amaya tersenyum getir mendengarnya. Dia tidak percaya, perempuan secantik dan sesempurna Lani akan melakukan hal seperti itu. Dia lalu berdeham dan berkata, "Apa sebegitu tidak percaya dirinya kamu sampai melakukan hal seperti itu? Apa yang sudah kamu dapat sekarang?"
"Mau tahu?"
"Tentu. Karena yang kamu lakukan menyangkut saya!" ucap Amaya tanpa mengakhiri tatapannya kepada Lani.
"Aku akui Pak Dave tidak merasa terganggu dengan semuanya, tidak seperti kekasihku. Tapi tetap saja, kamu harus berkaca diri. Lihatlah penampilanmu, kita sangat berbeda!"
Amaya berdeham. Dia merasa tidak nyaman dengan ucapan Lani. "Tidak ada yang aneh dengan penampilan saya!" ucap Amaya tenang, meski di dalam dirinya dia kembali merasa minder.
Membenarkan ucapan Lani tentang penampilan mereka yang sangat berbeda.
Lani menyeringai, lalu memutuskan untuk pergi meninggalkan Amaya begitu saja.
"Apa yang kalian bahas sampai kamu terlihat kesal begitu, May?"
"Pak Dave sejak kapan di situ?" tanya Amaya. Dia terkejut melihat Dave berdiri di depan pintu ruangannya dengan kening berkerut.
"Malah balik tanya, huh! May, jam sebelas tidak perlu buatkan aku kopi. Kita akan pergi ke suatu tempat!"
"Ke mana, Pak? Setahu saya tidak ada jadwal Pak Dave bertemu dengan siapa pun atau meeting."
Dave terkekeh pelan. Dia menghampiri Amaya, mengambil pena dan secarik kertas. Dave menuliskan sesuatu di sana. "Baca, oke!"
Amaya berdeham pelan menerima kertas tersebut. Dia mengabaikan Dave yang mencoba menggodanya dengan mengerlingkan mata sebelum kembali masuk ke ruangan.
Membaca tulisan Dave membuat Amaya tersenyum sendiri. Dia menyimpannya di dalam tas dan memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Namun, tetap saja Dave berhasil membuatnya penasaran.
***
Di sebuah mal, Amaya dan Dave bertemu dengan Rose. Pertemuan yang terlihat memang sudah direncanakan, tetapi Amaya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"May, Dave tidak persulit pekerjaan kamu, kan?" Amaya menggeleng. Dia membiarkan saja dan menikmati Rose yang mengenggam tangannya.
"Dave, Mama sama Amaya langsung ke tempatnya saja, ya! Kamu tunggu saja hasilnya!" Amaya menjadi makin bingung dengan apa yang akan terjadi.
Dia kira Dave mengajaknya pergi sebelum jam makan siang karena akan makan siang bersama dengan Rose, tetapi ternyata yang terjadi tidak seperti bayangannya.
"Tante, memang kita mau ke mana?"
__ADS_1
Rose tersenyum, begitu juga Dave. Tidak ada yang memberi jawaban atas kebingungan Amaya.
Tidak lama datang Gabriella dengan seorang pemuda tampan yang Amaya kenal. Mereka mendekat dan membuat pemuda itu menyapa Amaya. "Masih ingat aku, Kak?"
Amaya mengangguk. Tentu saja dia ingat, pemuda tampan yang tepat seperti perkiraannya.
"Kalian saling kenal?" Pertanyaan itu tepat ditanyakan oleh dua orang di depan Amaya. Dave dan Gabriella.
Amaya mengangguk, sedangkan pemuda itu tersenyum jenaka sambil menggaruk tengkuknya. "Le, kamu kenal sama dia?"
"Iya, dia Kakak cantik yang pernah aku ceritakan sama kamu."
"Kamu ketemu dia di mana?" bisik Dave yang mendekati Amaya. Dia begitu tidak menyukai tentang fakta yang baru saja diketahuinya itu.
"Sudahlah, nanti saja dibahasnya lagi. Mama tidak mau ketinggalan acaranya!" Rose menengahi mereka. Membuat Amaya merasa lega karena terhindar dari interogasi Dave kepadanya. Apalagi saat ini dia melihat jelas bagaimana tatapan tidak suka Dave kepada pemuda di depannya itu. Leo.
"Tunggu deh, Tante mau pergi ke mana?" tanya Gabriella penasaran.
"Tante sama Amaya mau ke salon. Dua jam lagi kita akan pergi ke pesta yang dibuat mamamu, kamu lupa?"
Amaya terkejut. Dia menatap Dave yang mengangguk setuju lalu beralih memperhatikan Gabriella yang jadi cemberut.
"Jangan gitu, Ella, gimanapun mamamu bahagia, kamu harusnya senang."
"Ih, gimana mau senang kalau Mama buat pesta cuma untuk rayakan hari pernikahan sama suami barunya itu!" ucap Gabriella tidak suka. Tatapannya beralih kepada Amaya yang terdiam. "Lagian, tamu undangannya, orang-orang penting. Tante yakin mau bawa dia ke pesta? Dia itu kelihatan tidak berkelas banget, Tan!"
"Dah, Kak!"
"Tante yakin mau bawa saya ke acara pesta itu?" tanya Amaya ragu dan Rose mengangguk yakin. "Tapi, Tan ...."
"May, kamu tidak perlu dengarkan ucapan Ella. Jangan biarkan juga dia berhasil membuat kamu tidak percaya diri!"
Amaya mengangguk. Mencoba bersikap tenang dan tersenyum. "Yang dikatakan Dave benar. Ah, mulai sekarang, Tante akan jamin tidak akan ada lagi orang yang akan menghina kamu!" Rose lantas mengajak Amaya pergi, meninggalkan Dave seorang diri.
Dia dan Rose pergi ke sebuah salon yang berada di dalam mal. Di sana, mereka telah ditunggu oleh pemilik salon yang ternyata sudah menjadi langganan Rose.
"Ingat, buat dia jadi makin cantik!"
"Siap, Madam!" ucap lelaki kemayu yang langsung menggamit lengan Amaya dan membawanya pergi menjauh dari Rose. "Tenang saja, Madam juga akan dibuat cantik seperti kamu!"
***
"Gimana, Dave, kamu suka, kan?" tanya Rose kepada Dave setelah mereka selesai didandani.
__ADS_1
"Sempurna dan nanti akan ada kejutan lagi yang menanti kamu, tapi sekarang aku akan antar kamu dan Mama ke pestanya!" Dave mengerlingkan matanya, dia membuat Amaya menjadi penasaran dengan kejutan apa lagi yang akan Dave berikan.
Mereka memutuskan pergi dengan Dave duduk di sampingnya Pak Budi yang mengemudi.
Beberapa waktu, Dave masih belum diberi izin oleh Rose membawa mobil sendiri. Untuk itu, ke mana pun dia pergi akan selalu bersama dengan sopir.
Selama perjalanan menuju ke tempat pesta, Amaya begitu gelisah. Dia takut akan membuat malu Rose yang telah berhasil mengubahnya menjadi perempuan cantik.
"Dave, mau pindah duduk di belakang?" tegur Rose kepada putranya yang ketahuan suka sekali mencuri pandang ke arah Amaya.
"Seharusnya gitu, tapi karena waktunya mepet aku di sini saja!"
"Kalau gitu, duduk yang normal!" Amaya mengerutkan keningnya. Dia memperhatikan bergantian Rose dan Dave.
"Mama jangan bicara begitu, jangan buat Amaya jadi takut dan kira Mama orang yang jahat!"
"Memang gitu, ya, May?" tanya Rose kepada Amaya.
"Tidak, Tante. Mana mungkin karena menegur anaknya saya berani anggap Tante begitu!"
"Kamu benar. Tante bukan orang jahat!" Amaya mengangguk setuju karena selama mengenal Rose, dia selalu memberi kesan baik. Rose menyayanginya dan memperlakukan dirinya dengan begitu baik.
Tidak ada lagi percakapan di antara mereka, meski Dave masih sering mencuri pandang ke arah Amaya yang terlihat makin cantik.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam lebih, mereka telah sampai di tempat pesta. Hanya Amaya dan Rose yang keluar dari mobil. Tidak untuk Dave.
Pria tersebut mengatakan akan kembali ke perusahaan dan berbicara dengan Adam yang sudah menunggunya.
Rose membawa Amaya masuk, dia memperkenalkan Amaya dengan para tamu. Tidak terkecuali dengan mamanya Ari dan Gabriella yang terlihat mirip sekali dengan Rose.
"Dia cantik sekali, beruntungnya kamu akan punya menantu yang cantik dan begitu manis. Tidak seperti aku, punya anak yang salah pilih pacar!"
Amaya hanya tersenyum tipis, di tengah-tengah keramaian pesta dia mencari keberadaan Lani. Namun, hanya ada Ari yang dia lihat. Juga ada Gabriella dan Leo.
"Nanti akan ada pesta dansa pakai topeng. Karena tidak ada Dave, bolehlah dia berpasangan dengan Ari!" ucapan perempuan di depannya itu membuat Amaya bingung, begitu juga dengan Rose yang terlihat tidak suka.
"Kenapa harus begitu? Biar Maya denganku saja!"
Perempuan tersebut menggeleng lalu menyuruh Ari mendekat. Sialnya, Ari menerima usulan dari mamanya untuk berdansa dengan Amaya.
"Harusnya saya tidak ikut ke sini," ucap Amaya setelah Rose bergabung dengan teman-temannya.
"Tidak perlu menyesal, lagipula Dave tidak datang, bukan?"
__ADS_1
"Lani juga!"
"Ya, kamu benar. Jadi kita akan berdansa berdua!" Amaya mendengkus pelan. Dia masih saja tidak terima dengan usulan tanpa persetujuan darinya itu.